SHOLAT DI PERJALANAN YANG MACET

0
225

Permasalahan.

Bu Uliyah dan Mas Wahib bercerita :

Kami sedang mengendarai mobil di tengah perjalanan yang lama macet hingga berjam-jam. Pada saat masuk waktu sholat, kami menemui musykilat. Jika kami turun dari mobil, maka tidak mungkin karena banyak mobil dan sepeda motor berhimpitan. Jika kami lakukan jamak sholat, maka juga tidak mungkin karena jarak tempuh perjalanan belum sampai masafah dua marhalah.

Pertanyaan :

Bagaimana cara kami lakukan sholat ?

Jawaban :

Ass. Bu Uliyah dan Mas Wahib,

Orang yang sedang ada dalam prjalanan, sedangkan kalau turun dari kendaraan untuk melaksanakan shalat takut ketinggalan dari rombongan, atau khawatir terhadap keamanan hartanya, dia boleh mengerjakan shalat di atas kendaraan, karena menghormat waktu (لحرمة الوقت) tetap wajib mengulangi lagi sholatnya (i’adah) karena termasuk udzur yang jarang trjadi. Demikianlah masalah ini telah diterangkan oleh segolongan ulama, di antaranya Imam Rofi’i dan Qodhi Husen. Mereka berpendapat, orang tersebut harus mengerjakan shalat lihurmatil waqti di atas kendaraan, artinya dengan cara tetap duduk di atas mobil atau kendaraan, lalu wajib mengulangi sholatnya (Majmu juz 3 hal 442).

SHALAT LI HURMATIL WAQTI.

Adalah shalat yang dilakukan seseorang sekedar penghormatan terhadap waktu akibat tidak terpenuhinya syarat-syarat menjalankan shalat seperti suci dari hadats kecil atau besar, suci badan dan tempat shalatnya dari najis dan lain-lain, dan sholatnya pun tidak harus sempurna seperti sholat yang normal, boleh dengan duduk, tiduran atau bahkan dengan isyaroh. Shalat yang dilakukan dalam kondisi semacam ini menurut syafi’iyyah wajib diulangi meskipun sudah menggugurkan tuntutan kewajiban shalat baginya saat itu, dalam arti andai setelah shalat lihurmatil waqti ia meninggal dunia, dirinya tidak dihukumi meninggalkan shalat dan maksiat.

  1. Referensi :

حكم فاقد الطهورين : 41 – فاقد الطهورين هو الذي لم يجد ماء ولا صعيدا يتيمم به ، كأن حبس في مكان ليس فيه واحد منهما ، أو في موضع نجس ليس فيه ما يتيمم به ، وكان محتاجا للماء الذي معه لعطش ، وكالمصلوب وراكب سفينة لا يصل إلى الماء ، وكمن لا يستطيع الوضوء ولا التيمم لمرض ونحوه .فذهب جمهور العلماء إلى أن صلاة فاقد الطهورين واجبة لحرمة الوقت ولا تسقط عنه مع وجوب إعادتها عند الحنفية والشافعية ، ولا تجب إعادتها عند الحنابلة ، أما عند المالكية فإن الصلاة عنه

ساقطة على المعتمد من المذهب أداء وقضاء

KONSULTASI AGAMA

Diasuh oleh : H. Mohammad Danial Royyan

Ketua PCNU Kabupaten Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here