SHALAT SUBUH DI KENDARAAN

0
441

Pertanyaan :

Bagaimana cara melaksanakan shalat shubuh ketika masih di dalam kendaraan, suatu kondisi yang tidak termasuk udzur shalat dan bukan sebab dibolehkannya melakukan jama` ? (Majid Santri Kaliwungu 08995956540)

Jawaban :

Yth Mas Majid

Sholat fardlu, termasuk shalat shubuh, adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan oleh siapapun dan dengan alasan apapun selama masih memiliki akal sehat, kecuali bagi orang gila, perempuan yang sedang haidl dan perempuan yang sedang nifas. Orang yang meninggalkannya boleh dibunuh oleh Imam. Kewajiban sholat adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan kecuali karena alasan kewajiban yang lain. Dalam keadaan perang saja masih diwajibkan sholat syiddatil khouf. Shalat fardlu tidak mempunyai udzur untuk dapat ditinggalkan. Yang mempunyai udzur untuk ditinggalkan itu jamaah shalat bukan shalatnya.

Sedangkan orang yang sedang berada dalam kendaraan pada waktu shalat shubuh, baik dia musafir atau bukan, masih bisa melakukan shalat. Karena itu, dia harus berhenti dari perjalanan dan melaksanakan shalat pada waktunya di masjid, mushalla atau tempat lain yang dekat. Karena shalat shubuh dan shalat fardlu yang lain adalah shalat yang tidak boleh dilakukan di dalam kendaraan. Shalat yang boleh dilakukan di dalam kendaraan tanpa ruku` dan sujud adalah dua rakaat shalat sunnah dalam perjalanan, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi SAW. Kecuali kendaraan yang ditumpanginya itu pesawat, dan pada saat masuk waktu shalat shubuh, pesawat dalam pertengahan penerbangan sehingga tidak memungkinkan pelaksanaan shalat shubuh, maka shalat shubuh bisa dilakukan dengan shalat Lihurmatil Waqti, yang wajib diulangi.

Keadaan seseorang dalam kendaraan tidak termasuk udzur untuk melakukan jama` shalat. Dan shalat shubuh tidak bisa di-jama` dan tidak bisa di-qashar. Yang termasuk udzur jama` shalat itu safar (bepergian)-nya, bukan keadaan di dalam kendaraan. Kalau seseorang berada dalam kendaraan, tapi berada di tempat yang jaraknya dari rumah pengendara kurang dari dua marhalah (sekitar 85 km), maka tidak boleh melakukan jama` dan qashar shalat.

Dasar Pengambilan Dalil :

– الفقه الاسلامي وأدلته ص 1373 :

اتفق مجيزو الجمع تقديما وتأخيرا على جوازه في ثلاثة أحوال هي السفر والمطر ونحوه من الثلج والبرد والجمع بعرفة والمزدلفة

KONSULTASI AGAMA

Diasuh oleh : H. Mohammad Danial Royyan

Ketua PCNU Kabupaten Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here