SEJARAH UCAPAN SELAMAT DAN SILATURRAHIM PADA HARI RAYA

0
120

A. Tahni’atul Ied
Tahni’atul Ied atau ucapan selamat hari raya berawal dari para sahabat Nabi SAW yang setiap ada hari raya iedul fitri satu sama lain saling mengucapkan selamat hari raya dengan ungkapan Taqabbalallhu Minna Waminka, sebagaimana riwayat di bawah ini :

عن جبير بن نفير قال: كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد، يقول بعضهم لبعض: تقبل الله منا ومنك . قال الإمام أحمد: إسناده جيد، وحسن الحافظ إسناده في فتح الباري (2/517)

Dari Jubair bin Nufair, berkata : “Para sahabat Nabi SAW setiap hari raya ied satu sama lain selalu mengucapkan Taqabbalallohu Minna Waminka (semoga Alloh menerima ibadah puasa dari kami dan darimu)”. Imam Ahmad berkata : Isnad hadis ini bagus, demikian juga Imam Ibn Hajar Al- Asqalani dalam Fathul Bari Juz II halaman 517.
Ucapan selamat hari raya dengan ungkapan Taqabbalallohu Minna Waminkum pada sekitar tahun 1000 hijriyah berkembang sesuai perkembangan budaya kaum muslimin, sehingga menjadi lebih panjang, yaitu :

تقبل الله منا ومنكم وجعلنا واياكم من العائدين والفائزين

Tetapi di kemudian hari menjadi ringkas dengan mengambil bagian belakang saja menjadi : “Minal Aidin Wal Faizin”, untuk memudahkan masyarakat umum dalam mengucapkannya.
Ucapan selamat hari raya iedul fitri memiliki faedah yang sangat besar, yaitu dapat menanamkan rasa cinta dalam hati manusia banyak atau dapat menciptakan soliditas dan kekompakan masyarakat. Oleh karena itu, disunahkan ketika berangkat shalat iedul fitri dan pulangnya menggunakan jalan yang berbeda agar dapat menyampaikan ucapan selamat hari raya iedul fitri kepada muslimin dalam jumlah yang lebih banyak.

B. Budaya Silaturrahim.
Kunjungan dan silaturrahim kepada keluarga dan kerabat itu disunnahkan pada setiap waktu. Tetapi menjadi sunnah muakkad jika kunjungan dan silaturrahim dilakukan pada hari raya iedul fitri, iedul adha atau hari Islam lain yang penting. Terutama kunjungan dan silaturrahim kepada kedua orangtua, karena kunjungan dan silaturrahim itu sama dengan perbuatan menyenangkan hati dan perbuatan berbakti kepada kedua orangtua, sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

  قال الله تعالى : وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ . سورة الرعد : ٢١.

Allah berfirman : “Dan orang-orang yang menyambungkan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan takut kepada Tuhan mereka dan takut kepada buruknya perhitungan amal”. Arra’du : 21.

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ : أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ:مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ. أخرجه أحمد 3/247 (13620) والبُخَارِي 3/73 (2067) ومسلم 8/8(6615).

Dari Ibn Syihab, berkata : Aku diberi khabar oleh Anas bin Malik, bahwa Rasululloh SAW bersabda : “Barangsiapa ingin dilapangkan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka supaya silaturrahim”. H.R.Ahmad : 3/247 (13620), Bukhari 3/73 (2067) dan Muslim 8/8 (6615).

Pada perkembangan selanjutnya  ziarah atau kunjungan dan silaturrahim pada hari raya iedul fitri dilakukan oleh kaum muslimin secara turun temurun sehingga menjadi pengamalan agama yang dibudayakan, dan hal itu merupakan proses membumikan Islam di bumi Nusantara.

M.D. Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here