SATU MILYAR SHALAWAT NARIYAH : Dialog Budaya Sebagai Gerakan Deradikalisasi

0
386

SEKILAS TENTANG SHALAWAT NARIYAH :
Shalawat Nariyah adalah shalawat yang terkenal karena diamalkan oleh para ulama Ahlussunnah Waljamaah. Shalawat ini juga dikenal dengan nama Sholawat Tafrijiyyah. Di negara Marokko, shalawat ini dikenali dengan nama Shalawat Nariyah karena menjadi amalan mereka apabila ingin melaksanakan sesuatu hajat atau menolak sesuatu bencana, mereka berkumpul dan membaca sholawat ini 4444 kali lalu terkabul hajat mereka dan terhindar segala malapetaka secepat api yang membakar. Shalawat ini juga juga dikenal sebagai Miftahul Kanzil Muhith Li Naili Muràdil ‘Abied (kunci perbendaharaan yang lengkap untuk memperoleh harapan hamba).

Ada ulama yang menisbatkannya kepada Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib RA. Menurut Habib Mundzir bin Fuad al-Musawwa bahwa pengarang shalawat Nariyah adalah Syaikh Ibrahim at-Tàziy al-Maghribiy. Shalawat Nariyah ini terdapat dalam kitab-kitab seperti “Afdhalush Sholawat ‘ala Sayyidis Sàdàt” karangan Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, “Khazinatul Asrar” karangan Syaikh Muhammad Haqqi an-Nàzili dan sebagainya.

Menurut Imam al-Qurthubi, bahwa orang yang melanggengkan sholawat ini setiap hari 41 kali atau 100 kali atau lebih, maka Allah akan melepaskan kedukaan, kebimbangan dan kesusahannya, menyingkap penderitaan dan segala bahaya, memudahkan segala urusannya, menerangi hatinya, meninggikan kedudukannya, memperbaiki keadaannya, meluaskan rezekinya, membuka baginya segala pintu kebaikan, kata-katanya dituruti, diamankan dari bencana setiap waktu dan dari kelaparan serta kefakiran, dicintai oleh banyak manusia, dikabulkan permintaannya. Akan tetapi untuk mencapai semua ini, hendaklah mengamalkan sholawat ini dengan mudàwamah (terus menerus).

WAHABI MENOLAK SHALAWAT NARIYAH :
Kaum Wahabi menganggap bahwa Shalawat Nariyah ini haram dibaca dan haram diamalkan, karena, menurut mereka, mengandung kemusyrikan. Hal yang dimaksud mengandung kemusyrikan adalah kalimat-kalimat sebagai berikut :


تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ 

“Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad SAW”


وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ
“Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad SAW”


وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ
“Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad SAW”


وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ
“Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad SAW”

Empat kalimat di atas, menurut Wahabi, merupakan pujian yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Padahal yang memiliki kemampuan di atas hanyalah Allah dan tidak mungkin makhluk-Nya siapapun orangnya. Karena yang bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.

PENDAPAT ASWAJA TENTANG SHALAWAT NARIYAH :
Shalawat ini merupakan tawassul dengan Nabi SAW kepada Allah. Isinya tidak mengandung pertentangan dengan syariah atau mengandung kemusyrikan. Makna kalimat : “yang dengannya terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan akhir hayat yang baik” adalah kiasan (majaz), bahwa Nabi SAW sebagai pembawa Al-Qur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu semua terurailah segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan berganti dengan sakinah, khusyuk dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah, dicapai segala keinginan dan akhir hidup yang baik atau husnul khatimah.

Pujian-pujian itu adalah kiasan (majaz), sesuai dengan ilmu balaghah atau sastra Arab, yang muncul dari rasa cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdul Mutthalib RA di hadapan Nabi SAW : “Dan engkau (wahai nabi) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya di bumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus merenunginya” (Al-Mustadrak : 5417). Tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yang terlihat oleh mata, namun itu adalah kiasan tentang kebangkitan risalah. Dan sebagaimana ucapan Abu Hurairah RA : “Wahai Rasulullah, bila kami di hadapanmu maka jiwa kami khusyu” (Ibn Hibban : 7387). Semua orang yang mengerti bahasa Arab pasti memahami hal ini. Tetapi orang yang tidak faham bahasa Arab, maka langsung memvonis musyrik, karena dangkalnya pemahaman tentang tauhid.

DIALOG BUDAYA SEBAGAI GERAKAN DERADIKALISASI :
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam surat bernomor 895/c I.34/09/2016  menginstruksikan kepada warga NU untuk melakukan pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah dalam rangka memperingati Hari Santri Tanggal 22 Oktober Tahun 2016. Dengan jamaah yang tersebar, keseluruhan Shalawat Nariyah yang dibaca mencapai jumlah 1.666.500.000. Jumlah itu didapat dari jumlah Shalawat Nariyah yang dibacakan sebanyak 4.444 oleh 375.000 jamaah.

Hal itu dilakukan oleh warga NU bukan sebagai sensasi atau supaya menjadi hal yang spektakuler, tetapi sebagai dialog yang tidak berbentuk adu argumentasi (حوار نظري), namun dialog yang menggunakan perbuatan massif (حوار ثقافي جماعي) yang sudah menjadi budaya kaum penganut aswaja. Dan pembacaan shalawat itu diyakini sebagai pengamalan “Agama yang dibudayakan, bukan budaya yang diagamakan”. Hal itu dilakukan warga NU diniatkan untuk menangkal gerakan radikalisasi yang dilakukan Wahabi yang mengkafirkan atau memusyrikkan para pembaca Shalawat Nariyah. Dengan demikian, gebyar satu milyar shalawat Nariyah ternyata mempunyai makna yang luhur dan mulia, yaitu “Dialog Budaya Sebagai Gerakan Deradikalisasi” terhahap gangguan Wahabi yang memang sedang mewabah di bumi nusantara yang kita cintai ini.

Dialog melalui budaya yang dilakukan banyak orang secara massif seperti itu tentu lebih efektif daripada dialog dengan merangkai argumen-argumen ilmiah yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang saja. Dan tidak hanya shalawat Nariyah saja, semua pembacaan tahlil, maulid Nabi, manaqib, istighosah dan semua amaliah warga NU yang dilakukan dilakukan secara bersama-sama dan rutin juga merupakan “Dialog Budaya Sebagai Gerakan Deradikalisasi”. Dengan banyaknya amaliyah agama yang dibudayakan itu, maka NU akan menjadi kekuatan yang dahsyat bagi kelanggengan faham Ahlissunnah Waljamaah dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here