Ramadan dan Setahun Pandemi

0
13

Oleh: Imron Samsuharto

Dalam suasana pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun lebih, segala ikhtiar dikerahkan untuk mengatasinya. Ikhtiar bersifat fisik atau lahiriah sudah banyak dilakukan dengan sesedikit mungkin berkegiatan di luar rumah. Vaksinasi pun digalakkan dengan menyedot biaya hingga triliunan. Stay at home dikampanyekan tiada henti. Namun, ikhtiar bersifat batiniah kurang mendapat porsi yang semestinya, nyaris terabaikan. Sisi ikhtiar batiniah adalah taqorrub ilallah atau mendekat serta meningkatkan ketaatan kepada Allah dzat Penguasa alam semesta. Memohon ampun karena berlumur dosa dan kesalahan. Inilah yang dinamakan ta’aruf atau dekat secara sempurna seperti kedekatan jari-jemari.

Setelah ber-ta’aruf, diikuti berserah secara sepenuhnya kepada Allah tanpa keragu-raguan. Biasa disebut dengan tawakal. Gambarannya seperti ketaatan dan kepasrahan Ismail yang siap disembelih ayahnya, Ibrahim, tanpa ragu sedikit pun. Hal itu menunjukkan iman yang kukuh tak tergoyahkan. Orang yang beriman, dalam setiap salat tak lupa menetapkan hati sebelum membaca fatihah rekaat pertama dengan doa iftitah: “Sesungguhnya salatku, ibadahku, serta hidup dan matiku hanyalah untuk Allah dzat Penguasa alam semesta.”

Alam seisinya dan segala problematikanya, dihadapi oleh mereka yang ber-ta’aruf dan tawakal dengan tidak grusa-grusu serta menghindari sikap spekulatif. Sandarannya hanya satu, yakni Allah swt pemilik kebaikan dunia-akhirat. Apa pun upaya atau ikhtiar bersifat keduniawian, kalau pada akhirnya tak disandarkan pasrah kepada Yang Mahakuasa, hasilnya hambar belaka.

Seperti dalam menghadapi pandemi corona, yang sejatinya itu adalah ujian keimanan, banyak orang bertaruh kekuatan dengan mengerahkan ikhtiar fisik semata. Bahkan di Amerika ada jual-beli bunker bawah tanah berlapis baja anti corona, yang konon bisa dipakai dalam waktu lama dengan segala fasilitas komplet tanpa interaksi dengan dunia luar. Ikhtiar berlebihan yang menunjukkan kecongkakan manusia, seolah di dalam bunker itu jaminan tak bakal diserang oleh virus apa pun. Padahal kalau Allah swt berkehendak untuk memusnahkan kecongkakan itu, bunker yang ditawarkan untuk orang-orang superkaya tersebut bisa bocor ditembus virus melalui musabab yang tak disangka-sangka.

Dengan pendekatan keduniawian itu, serasa ingin berlomba menghindari pandemi dengan langkah apa pun. Panik tiada tara. Bila perlu terbang mengangkasa ke planet lain sekalian. Betapa kepanikan itu menggambarkan bahwa manusia berada dalam kelemahan yang sesungguhnya. Di tengah kepanikan yang memuncak, diangkatlah isu konspirasi su’udhon tingkat tinggi. Amerika menuduh kalau virus corona itu buatan manusia yang dikembangkan oleh sebuah laboratorium di Cina, dan tragisnya Amerika mengajak negara-negara lain untuk bersikap yang sama. Cina mengelak keras, menuduh balik yang juga spekulatif, bahwa corona pada awalnya dibawa oleh tentara Amerika ke Cina dalam ajang sport games internasional khusus tentara sedunia.

Kewaspadaan pada corona mesti diutamakan bukan basa-basi, namun sungguh terlalu jika ikhtiar ber-ta’aruf dan ber-tawakal kepada Alllah swt dikesampingkan. Paling sederhana adalah rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebagai aplikasi langsung prinsip annadhofatu minal iman (kebersihan sebagian dari iman). Sejatinya tangan dan wajah yang bersih melalui rutinitas ber-wudhu itumenjauhkan kemungkinan virus hinggap, sehingga satu fase penyebaran corona terpotong di sini. Kemudian beribadah dalam sikap pasrah, baik di masjid maupun di rumah. Jika orang sadar betul berlaku seperti itu, maka tak ada kekhawatiran berlebihan menghadapi virus corona.

Orang beriman yang ber-ta’aruf dan ber-tawakal kepada Allah, di samping mewaspadai seluk-beluk perihal pandemi corona, juga mereferensikan situasi yang didahapi itu dengan mendasarkan pada sumber hukum tertinggi, yakni Alquran. Dengan demikian, mata tidak buta,  kalbu pun terjaga karena bersandar pada aturan tertinggi tersebut.

 Jadi, kalau berada di zona hijau, lalu di wilayah tersebut orang-orang menjaga prinsip annadhofatu minal iman disertai ta’aruf dan tawakal, maka gelaran salat Jumat dan tarawih berjamaah di masjid pada bulan Ramadan, tak perlu diperdebatkan hingga berbusa-busa. Jamaah yang kondisinya tidak sehat, cukup beribadah di rumah. Artinya imbauan beribadah di rumah, hindari berjamaah di masjid, serta jangan datangi majelis ta’lim itu tidak serta merta pukul rata. Ada celah penyesuaian menurut kondisi wilayah masing-masing yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnnya.

Pada bulan Ramadan yang amat mulia, memanfaatkan taqorrub ilallah secara maksimal itu penting, di samping ibadah horizontal amal sosial seperti membantu sesama yang lagi terjepit akibat corona. Ladang pahala berlimpah bagi yang berlebih dan tergerak meringankan beban orang yang kesusahan. Sungguh sayang jika tempat ibadah seperti masjid dan surau kehilangan syiar Ramadhan. Tadarus Alquran dan siraman rohani di masjid-masjid dan surau-surau, kiranya jangan sampai kehilangan gemanya.

Ghirah memakmurkan masjid atau surau, hanya dimiliki oleh orang beriman kepada Allah dan hari akhir. Dengan amantu billah wal yaumil akhir yang menancap di dada, mereka tidak waswas atau takut pada keadaan apa pun. Dalam menyikapi keprihatinan pada Covid-19, mereka mengacu pada ayat ke-18 surah At-Taubah: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Pada Ramadan yang sarat keberkahan serta dikabulkannya segala permintaan, seyogianya dipanjatkan banyak doa agar pandemi corona yang sudah setahun lebih itu segera usai dan lenyap dari muka bumi. Terus didawamkan diiringi dzikir dan wirid, memohon kepada dzat Pengabul doa sebagaimana firmannya “ud’uuni astajib lakum” (berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan – Al-Mu’min:60).

Orang-orang yang menjaga taqorrub ilallah dengan senantiasa bermunajat kepada Allah swt, ikhlas berdoa untuk kepentingan manusia di seantero dunia, tak hanya untuk umat muslimin-muslimat. Inilah peran sunyi mereka secara spiritual tanpa koar-koar. Mudah-mudahan pandemi berangsur hilang dan lenyap, dan cukuplah kiranya korban-korban jiwa yang meninggal akibat pandemi itu. Semoga penderitaan para korban akibat corona menjadi aset pengurang dosa yang mereka perbuat selama di alam fana.

Penulis adalah Pemerhati religi, alumnus FS (kini FIB) Undip Semarang

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here