PRO-KONTRA JENGGOT PANJANG

0
560

Memelihara jenggot itu sebenarnya termasuk hal yang disunnahkan, berdasarkan beberapa hadits yang kualitas matan dan sanadnya shahih. Tapi perlu diingat bahwa sunnah Nabi SAW ada dua macam :

1. Sunnah Pokok, yaitu sunnah Nabi yang berkaitan dengan ibadah. Sunnah macam ini wajib diikuti. Dan yang berlawanan dengannya dinamai “Bid’ah” yang “Dlolalah”.

2. Sunnah Tamabahan, yaitu sunnah Nabi yang berkaitan dengan kebiasaan dalam keseharian, seperti pakaian, makanan, minuman, kendaraan dan semua perbuatan yang bermuatan budaya atau tradisi. Mengikuti sunnah yang kedua ini termasuk Fadlilah bukan Faridloh. Dan yang bertentangan dengannya tidak bisa dianggap bid’ah kecuali ada dalil yang shorih.

Nah, jenggot itu termasuk sunnah yang kedua bukan yang pertama. Maka orang yang tidak berjenggot tidak bisa dianggap Ahli Bid’ah yang harus diberantas. Dan semua orang sudah tahu bahwa jika suatu perintah memiliki keterkaitan dengan adat, maka itu tidak bisa diartikan dengan wajib. Hukum yang muncul dari perintah itu adalah sunnah atau bahkan mubah.

Sekarang ini, jenggot dijadikan simbol oleh orang orang Islam Radikal yang suka mengkafirkan orang lain, sehingga mereka sering disebut “Golongan Islam Jenggot”. Dan mereka berlebih-lebihan dalam memanjangkan jenggot.
Menanggapi mereka itu, ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj pernah mengatakan : “Jenggot mengurangi kecerdasan dan  semakin panjang jenggotnya semakin goblok”. Mendengar pernyataan itu, sontak mereka langsung mencaci dan menyerang dengan semangatnya. Orang NU yang berseberanganpun ikut menganggap bahwa ucapan itu termasuk melecehkan KH Hasyim Asy’ari yang juga berjenggot.
Serangan-serangan itu sebenarnya sudah berlebihan dan sarat kepentingan. Yang dimaksud Kang Said itu jenggot yang dipanjangkan secara berlebihan dan simbolisasi radikalisme. Karena berlebihan dalam memanjangkan jenggot ternyata tidak baik menurut empat madzhab kecuali madzhab Hanbali. Perhatikan dalil-dalil berikut :

عن أبي زرعة رحمه الله أنه قال : كان أبو هريرة يقبض على لحيته ثم يأخذ ما فَضُل منها

Dari Abi Zur’ah RA dia berkata : “Abu Hurairah menggenggam jenggotnya, kemudian memotong rambut jenggot yang lebih dari segenggaman”.

عن مروان بن سالم أنه قال : رأيت ابن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف

Dari Marwan bin Salim dia berkata : “Aku melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya, lalu memotong apa yang lebih dari ukuran telapak tangan”.

قال زياد ابن أبيه: ما زادت لحية رجل على قبضته، إلا كان ما زاد فيها نقصاً من عقله.

Ziad bin Abihi berkata : “Tidaklah panjang jenggot lelaki melebihi genggamanya, kecuali kelebihannya itu mengurangi akalnya”.

قال الغزالي رضي الله عنه : كلما طالت اللحية تشمر العقل / احياء علوم الدين ١/١٤٢

Imam Ghozali RA berkata : “Selama jenggot itu panjang, maka akal menjadi pendek” (Ihya Ulumiddin juz I hal 142).

قال بعض الشعراء:
إذا عرضت للفتى لـحـيةٌ
وطالت فصارت إلى سرته

فنقصان عقل الفتى عندنـا
بمقدار ما زاد في لحيتـه

Sebagian penyair berkata :
“Ketika pemuda mempunyai jenggot lebar dan panjang sampai pusarnya, maka akalnya (kecerdasannya) berkurang seukuran panjang jenggotnya”.

Maka memotong rambut jenggot dari ukuran segenggaman itu adalah hal yang baik dan telah dilakukan oleh Ulama Salaf sejak dari angkatan para sahabat Nabi SAW.

Adapun pendapat yang menganggap bahwa memelihara jenggot itu suatu kewajiban adalah tidak memiliki dasar yang kuat. Al-Halimi dalam kitab Manahij menyatakan bahwa pendapat yang mewajibkan memanjangkan jenggot dan haram mencukurnya adalah pendapat yang lemah. (Hasyiyah Asnal Mathalib, juz V hal 551).

Imam Ibn Qasim al-Abbadi menyatakan bahwa pendapat yang menyatakan keharaman mencukur jenggot menyalahi pendapat yang mu’tamad .(Hasyiah Tuhfatul Muhtaj Syarh al-Minhaj, juz IX hal 375).

Ulama madzhab  Syafi’i berpendapat bahwa memelihara jenggot dan mencukur kumis adalah sunnah, tidak wajib. Oleh karena itu tidak ada dosa bagi orang yang mencukur jenggotnya. Apalagi bagi seorang yang malah hilang ketampanan, kebersihan dan kewibawaannya ketika ada jenggot di wajahnya. Misalnya apabila seseorang memiliki bentuk wajah yang tidak sesuai jika ditumbuhi jenggot, atau jenggot yang tumbuh hanya sedikit.

Imam Malik memakruhkan jenggot yang dibiarkan panjang sekali. Sebagian ‘ulama yang lain berpendapat bahwa panjang jenggot yang boleh dipelihara adalah segenggaman tangan. Bila ada kelebihannya (lebih dari segenggaman tangan) mesti dipotong. Sebagian lagi memakruhkan memangkas jenggot, kecuali saat haji dan umrah saja (lihat Imam An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, hadits no. 383; dan lihat juga Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, hadits. No. 5442). 

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here