PRINSIP HUMANISME ALA NABI

0
269

Ali Fitriana Rahmat

Pada awal diutusnya Rasulullah saw, tersebutlah seseorang yang menerima informasi tentang sosok agung, Baginda Nabi Muhammad saw. Demi mencari orang yang membuatnya penasaran, ia merelakan dirinya untuk menempuh perjalanan jauh menuju kota Mekah. Setelah menemukan sosok yang dicari, langsung terjadi obrolan antara keduanya;

“Siapa kamu?”, tanyanya penasaran.

Aku utusan Allah (Rasulullah)”, jawab Nabi saw.

“Siapa yang mengutusmu?”, lanjutnya.

Allah swt”, tegas Rasul saw.

Semakin penasaran, orang itu melanjutkan pertanyaannya, “Untuk apa, Dia mengutusmu?”

Nabi Muhammad saw menjawabnya dengan mantap, “Untuk menyambung silaturahim, mencegah pertumpahan darah, menjaga keamanan jalanan, dan meruntuhkan berhala sesembahan serta menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa”.

Lalu orang tersebut menyatakan, “Sangat indah sekali misi pengutusanmu. Bersaksilah di hadapanku bahwa aku telah beriman kepadamu dan membenarkanmu”.

Riwayat Ahmad yang dinilai oleh sebagian ulama sebagai hadis sahih ini memberikan pelajaran bagi kita agar menguji validitas berita ataupun isu yang berkembang di masyarakat langsung dari narasumber otoritatif. Idealnya memang demikian sebelum terburu-buru memvonis ataupun menyebarkannya tanpa memiliki rasa tanggungjawab.                

Riwayat di atas juga diulas secara menarik oleh Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri dalam bukunya al-Insâniyyah Qabla al-Tadayyun (2015). Menurut beliau, misi utama pengutusan Nabi saw adalah tauhid (mengesakan Allah dalam beribadah). Namun, -lanjut beliau- sebelum Nabi Muhammad saw menuturkan misi utama, terlebih dahulu disebutkan tiga poin besar, yakni; menyambung silaturahim (ikatan kekeluargaan) yang menjadi pangkal kerukunan sosial, mencegah pertumpahan darah  dalam rangka memberi jaminan hidup bagi setiap manusia, dan menjaga keamanan jalanan yang menjadi tolak ukur ketertiban umum. Baru kemudian disebutkan misi utama risalah Nabi Muhammad saw. Sebab mencederai tiga poin besar itu sangat berpotensi mengganggu kelangsungan beribadah umat beragama. Tiga poin itu menjadi pilar-pilar humanisme ala Nabi saw.

Sudah saatnya kita ‘membangunkan’ rasa humanisme dari tidur panjangnya menuju kenyamanan beribadah kepada Allah swt semata. Seorang wanita yang ‘memenjara’ seekor kucing saja dijebloskan ke dalam neraka. Sedangkan pelacur yang memberi minum seekor anjing diampuni dosanya berkat belas kasih sayang di hatinya. Dari sinilah muncul ungkapan (al-Insâniyyah Qabla al-Tadayyun) ‘kemanusiaan sebelum beragama’.

 

Mempererat ikatan kekeluargaan merupakan nilai kemanusiaan yang paling mendasar dalam tatanan kehidupan. Tanpa keluarga, sanak saudara, dan kerabat, seseorang akan hidup dalam kekeringan. Keberadaan mereka sangat ternilai harganya. Sangat rugi sekali orang yang mengabaikan dan mentelantarkan mereka. Nabi saw telah mencontohkannya kepada kita bagaimana interaksi beliau kepada paman-pamannya yang tidak seakidah. Beda pandangan bukan berarti harus saling bermusuhan. Beda keyakinan bukan berarti harus saling berjauhan. Beda kecukupan bukan berarti harus saling berpangku tangan. Konflik keluarga dapat menjadi benih konflik sosial. Sudah banyak konflik yang terjadi -khususnya di Indonesia- baik yang mengatas namakan agama, suku atau yang lainnya hanya karena awalnya percikan yang berawal di tubuh keluarga. Memperkuat tali kekeluargaan menjadi pangkal kerukunan sosial.         

Al-Barrâ’ bin ʻÂzib pernah meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah bersabda, “Melenyapkan dunia seisinya bagi Allah swt tidak ada apa-apanya dari pada harus menumpahkan darah tanpa hak”. Pertumpahan darah merupakan puncak krisis nilai kemanusian. Memang manusia mempunyai DNA untuk menumpahkan darah sesama yang diwariskan oleh putra Adam sejak dunia berusia belia. Namun Nabi Muhammad saw diutus untuk meredam potensi kekacauan dunia dengan saling menghormati dan mencegah pertumpahan darah antar sesama.          

Mengapa Nabi saw harus menyebutkan secara khusus keamanan jalanan? Sebab jalan merupakan area umum tempat beraktifitas paling penting bagi semua manusia tanpa memandang kelas, etnis, agama ataupun ras. Sehingga keamanan di jalan menjadi barometer keamanan sosial.     

Meruntuhkan berhala bukan suatu tindakan anarkis dengan cita rasa agama. Namun sebagai upaya penyadaran kembali serta pengembalian fitrah manusia yang dikaruniai akal sehat. Tanpa akal sehat kebodohan moral dan intelektual akan menguasai alur hidup manusia. Nabi Muhammad saw ada untuk membawa misi untuk mengembalikan manusia seutuhnya hingga akal sehatnya.   

Ibadah hanya kepada Allah swt menjadi misi utama-Nya mengutus Nabi saw. Hidup adalah ibadah. Mungkin itu pesan singkat yang bisa diungkap dari hikmah penciptaan manusia dan alam raya. Tanpa agama manusia akan hidup dalam kebingungan. Sehingga ibadah menjadi prinsip utama dalam menjalani hidup.  

Allah swt mengajarkan Rasul-Nya untuk mengenalkan dirinya sebagai manusia biasa terlebih dahulu sebelum menampilkan sosoknya sebagai penerima wahyu sekaligus pembawa risalah keesaan Tuhan. “Katakanlah, sesungguhnya aku manusia seperti kalian yang menerima wahyu bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Satu” Qs. Al-Kahfi [18]: 110. Para ulama ushûl ‘meramu’ syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw menjadi lima prinsip. Kelima prinsip itu mereka fahami sebagai tujuan diturunkannya syariat atau lebih dikenal dengan sebutan maqâshid al-syarîʻah. Empat dari kelima tujuan itu merupakan pilar-pilar nilai kemanusiaan. Sehingga Islam sebagai agama yang berjargonkan ‘membawa rahmat kasih sayang bagi alam semesta’ sangat menekankan untuk menjaga kelima prinsip itu, yakni; jiwa, agama, akal, keturunan dan harta. Menurut hemat penulis kelima tujuan syariat itu sudah terwakili dalam poin-poin yang disebutkan oleh Baginda Nabi Muhammad saw;.menyambung silaturahim untuk menjaga keturunan, mencegah pertumpahan darah untuk menjaga jiwa, keamanan jalanan untuk menjaga harta, meruntuhkan berhala sesembahan untuk menjaga akal sehat dan menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa untuk menjaga agama Islam.

Selain cerita di atas masih banyak bagaimana cara Nabi saw ngewongke wong. Salah satunya kisah yang sangat familier di telinga kita, diriwayatkan Nabi Muhammad saw dengan tulus berdiri demi menghormati jenazah seorang Yahudi yang sedang melintas menuju persemayaman terakhirnya. Sehingga tidak heran jika Universitas sekaliber al-Azhar sebagai perguruan Islam tertua membatalkan rencana acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw saat terjadi letusan bom di gereja Katedral Markus di Abbasiyah sebagai bentuk belasungkawa dan solidaritas kemanusian.    

Akhirnya sebelum beragama, manusia harus menjadi manusia yang manusiawi. Berjuang untuk kemanusiaan bukan berarti dengan merelakan agamanya. Sebab agama ada untuk kemanusiaan.   

 

 “Bangsa Indonesia kehilangan dua hal besar dan mahal dengan meninggalnya Gus Dur, yaitu demokrasi dan humanisme. Humanisme Gus Dur benar-benar berangkat dari nilai-nilai Islam yang paling dalam. Tetapi humanismenya itu melintasi agama, etnis, territorial dan Negara”, KH. Hasyim Muzadi, Dewan Pertimbangan Presiden.

Mengenang 7 tahun wafatnya Presiden Indonesia keempat, KH. Abdurrahman Wahid, Bapak Humanisme Indonesia (30 Desember 2009 – 30 Desember 2016)

Banyuwangi, 23 Desember 2016

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here