PESANTREN SEBAGAI BENTENG NKRI

0
107

 FB_IMG_14608926401695733

Kangkung, pcnukendal.id. Kehadiran pondok pesantren tidak hanya mendidik orang menjadi pintar. Namun pesantren menjadikan orang pinter juga memiliki akhlak. Begitulah setidaknya kata pembuka KH. Abbas selaku pembicara dalam acara Haul Ke 6 Simbah KH. Samroddin Rois di Pondok Pesantren Assyagi’iyah Salafiyah Gebanganom Wetan Kangkung pada Ahah pagi (18/4)

Pondok Pesantren yang didirikan oleh Rois Syuriyah MWC NU Kangkung ketika itu, hingga sekarang masih eksis. Gus Mufton dalam kata sambutanya menyampaikan bahwa pesantren maupun madrasah terus mengajarkan nilai dan tradisi NU. Lebih lanjut penerus almarhum itu menegaskan, inti keberadaan lembaga pendidikan Islam warisan para ulama adalah sarana untuk tolabul ilmi. “Dugi sakmeniko tasih wonten ingkang belajar, minongko dados celengan sakmangke ten akhirot”, tutur kyai muda alumni ponpes Sarang itu.

20160417_104859

Untuk membentengi para santri, ponpes dibawah asuhannya tersebut memberikan  tambahan  dengan ekstra penca silat pagar nusa. Kegiatan tambahan tersebut bukan untuk mengajari santri untuk berkelahi. Namun, seumpama santri sampe “gelut”, biar tidak kalah. Begitu canda gus Mufton, yang disambut tertawa para hadirin.

Senada dengan Gus Mufton, Kyai Abbas menyinggung bahwa pendidikan pesantren melatih kesederhanaan dan kebersahajaan. Bukan mengajarkan untuk menjadi kaya. Santri di pesantren diajarkan juga untuk  banyak bersyukur. Puncak keimanan seseorang kepada Allah dilihat dari syukur tidaknya manusia.

Dihadapan ribuan jamaah yang hadir, kyai Abbas bercerita tentang perjalanan Rasulullah ketika isra’ mi’raj, terkait dengan penduduk surga. Dengan gaya bicara berapi-api kyai Abbas juga mengingatkan bahwa umat Islam harus berhati-hati dengan “reingkarnasi” generasi Abdurrahman bin muljam. Seorang khowarij yang menghalalkan darah sesama kaum muslimin. Dialah yang telah membunuh Ali bin Abi Thalib.

20160417_104851

 Di era sekarang banyak bermunculan aliran semacam itu, yang berbeda dengan mereka dianggap sesat dan halal untuk dihabisi. Disinilah pesantren harus mampu menjadi benteng umat Islam nusantara, menegakkan ajaran Islam yang ramah, penuh kasih, semangat mengajak. Bukan menghujat dan membinasakan yang belum baik. ” Titip NKRI, titip NU, agar tetap mengawal tegaknya Negara Indonesia warisan para ulama pesantren”, pungkasnya saat mengakhiri mauidlotul hasanahnya. (Ahmad Mustofa/Fahroji).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here