Pesan Demokrasi Ibrahim-Ismail

0
222

Oleh: Imron Samsuharto

Hakikat nilai-nilai demokrasi telah ada sejak lama jauh sebelum asas demokrasi itu didengung-dengungkan. Pesan demokrasi tersirat pada kisah Nabi Ibrahim dan putra tercintanya Nabi Ismail. Penukikannya tampak pada ajaran yang sama sekali jauh dari otoriter, meskipun itu perintah bersifat dogmatis langsung dari Sang Maha Pencipta. Sesuatu yang bernilai dogmatis tidak harus diaplikasikan secara fanatis buta, namun bisa diterapkan secara demokratis dan fleksibel. Tengoklah kisah Ibrahim-Ismail.

Kisah Nabi Ibrahim dan sang putra Ismail lebih kerap mencuat ke permukaan pembicaraan dalam majelis taklim, forum diskusi keagamaan, pengajian, dan terlebih pada khutbah ketika mendekati dan saat Idul Adha atau hari raya kurban. Pada penyelenggaraan salat Idul Adha, umumnya dikhutbahkan tentang kisah Ibrahim-Ismail tersebut. Demikian fenomenalnya kisah itu, maka kitab suci Alquran mengabadikannya dalam  Surah Ash-Shaffat (Yang Berbaris).

Seperti diketahui, bahwa Nabi Ibrahim amat merindukan keturunan atau putra harapan sebagai generasi penerus. Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku seorang anak dari golongan orang-orang yang saleh. Demikian doa yang terus dipanjatkan Ibrahim. Ibrahim sangat terkenal sebagai pribadi yang suka memberi hewan kurban kepada orang yang membutuhkan. Hewan kurban seperti unta dan kambing, sudah tak terhitung jumlahnya dipersembahkan oleh Ibrahim karena ketaatan kepada Allah. Bahkan suatu hari Ibrahim berucap, “Jangankan unta atau kambing untuk dikurbankan, anak pun jika saya punya nanti, akan saya kurbankan.”

Dikabulkanlah doa Ibrahim itu dengan anugerah seorang anak bernama Ismail. Ibrahim sangat menyayanginya. Namun, tatkala Ismail menginjak usia remaja datanglah perintah Tuhan agar Ibrahim menyembelih sang putra itu. Perintah penyembelihan kepada Ibrahim juga seperti penguakan dan penagihan akan janji yang pernah diucapkannya di masa dahulu. Bukankah Ibrahim pernah berjanji hendak mengurbankan anak jika memang dikaruniai? Terbuktilah bahwa ucapan itu pun bernilai doa. Pengabulan atas doa Ibrahim yang kerap dipanjatkan dulu sudah mewujud berupa anak keturunan. Dan janji Ibrahim itu ternyata tertagih juga.

Perintah tersebut benar-benar sulit dilogikakan tapi murni uji kekuatan iman, baik untuk Ibrahim maupun Ismail. Nukilan dari Surah Ash-Shaffat ayat 102 menunjukkan dialog Ibrahim-Ismail yang masyhur itu. “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Ismail pun menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dialog tersebut menunjukkan derajat keimanan dan ketaatan Ibrahim dan Ismail kepada Allah. Jika dicermati lebih dalam, nilai-nilai demokrasi tertancap pada dialog tersebut. Menurut jumhur ahli tafsir, Ibrahim mendapatkan perintah dalam mimpinya itu berulang tiga kali. Artinya datangnya perintah penyembelihan itu berlangsung pada tiga kali mimpi. Ibrahim lalu menyampaikan berita mimpi itu kepada sang putra dengan penuh hati-hati. Ibrahim yakin seratus persen tanpa ragu bahwa perintah itu sah dari Allah, Tuhan Maha Pemberi Anugerah.

Namun demikian, Ibrahim tidak serta merta langsung memotong leher putranya itu, diberinya Ismail ruang untuk berpikir. Betapa bijak dan halus sikap sang bapak kepada putra tercintanya itu, meskipun diliputi kesedihan. Sang putra Ismail mengedepankan keimanan kepada Tuhan, maka dengan penuh keikhlasan dan kesabaran meminta agar sang bapak Ibrahim melaksanakan mimpinya itu. Lalu dipersiapkanlah segala sesuatunya untuk penyembelihan Ismail. Saat itulah Ibrahim dan Ismail dinyatakan lulus uji keimanan. Ismail ditebus dan digantikan dengan seekor sembelihan yang besar. Itulah balasan yang nyata kepada Ibrahim-Ismail.

Sungguh indah komunikasi terbuka antara bapak-anak yang bernilai demokratis tersebut sebagaimana diteladankan oleh Ibrahim-Ismail. Ini sangat layak menjadi pelajaran orangtua dalam mendidik putranya, bagaimana menciptakan suasana kehidupan yang demokratis terhadap anaknya. Orangtua bukanlah otoritas tangan besi yang semaunya dan sekehendak hatinya dalam mendidik anak. Anak mesti diajak berdialog dan diberi ruang untuk berpendapat. Jika nilai-nilai ini diterapkan oleh setiap keluarga, amboi indah sekali kehidupan ini. Pada gilirannya keindahan itu berimbas pada kehidupan yang lebih luas di lingkungan masyarakat.

Masyarakat yang dilatarbelakangi penancapan nilai-nilai demokrasi yang kuat akan mengerucut pada kehidupan demokratis dalam berbangsa dan bernegara, tanpa menanggalkan nilai-nilai keimanan sebagaimana Ibrahim-Ismail contohkan. Maka, kehidupan demokrasi selama tidak berseberangan atau berkontaradiksi dengan ajaran keimanan atau syar’i, kiranya tak ada masalah sehingga bisa hidup subur menjamur di bumi nusantara.

Di samping pesan demokrasi, tertuang juga secara jelas semangat untuk berkurban. Pada hari nahar Idul Adha dan tasyriq, disunahmuakadkan bagi orang yang mampu untuk berkurban. Satu orang pengurban untuk seekor kambing, atau tujuh orang secara patungan untuk seekor unta/sapi. Tidaklah sekali-kali daging kurban itu sampai pada Tuhan, melainkan nilai ketakwaan orang yang berkurban.

Teladan Ibrahim-Ismail akan tetap kontekstual dengan situasi apa pun dan sampai kapan pun. Pesan moral dan makna mulia pengurbanan hewan dengan penyembelihan serta pembagian daging kurban itu tidaklah berhenti pada saat Idul Kurban, namun diharapkan terpateri juga dalam kehidupan sosial sehari-hari. Demikian pula nilai-nilai demokrasi yang tak boleh dikesampingkan begitu saja dalam kehidupan bermasyarakat.

Penulis adalah Peminat Masalah Sosial-Keagamaan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here