Peringati Harlah, PCI Muslimat NU Hong Kong Gelar Pengajian

0
49

Hong Kong, pcnukendal.com – Memperingati Harlahnya yang ke-1, Pengurus Cabang Istimewa Muslimat NU Hong Kong-Macao menggelar pengajian pada Minggu (5/5) di Gedung Islamic Kasim Tuet Memorial College Chaiwan.

Acara dibuka dengan pembacaan ummul kitab dan shalawat nariyah dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an. Selanjutnya dengan penuh hikmat dan semangat group paduan suara PCI Muslimat NU Hong Kong-Macao bersama anggota Muslimat NU yang hadir menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars dan Hymne Muslimat NU, Sholawat An Nahdliyah, Mars Banser dan Syubbanul Wathon.

Ketua PCI Muslimat NU Hong Kong-Macao, Siti Fatimah Angelia berharap dapat menghijaukan Hong Kong, yakni semakin banyak warga Indonesia yang bergabung dengan Muslimat NU di Hong Kong.

Sementara itu, Nyai Hj. Arifah Choiri Fauzi, Sekretaris PP Muslimat NU Hong Kong dalam sambutannya menjelaskan sejarah berdirinya Muslimat NU. Menurutnya Muslimat NU mempunyai tugas dan peran tersendiri yang tidak sama dengan NU dalam hal tertentu. Ia menganjurkan para perempuan NU untuk bergabung dalam Fatayat atau Muslimat NU. Hal itu disampaikannya melihat adanya beberapa perempuan NU yang menjadi pengurus NU di Hong Kong.

Disamping itu, Hj. Arifah juga berpesan agar meniatkan segala sesuatu yang dilakukan dengan niat ibadah. Menyikapi maraknya berita hoaks, Hj. Arifah berpesan agar anggota Muslimat NU tidak gampang mempercayai berita yang diragukan kebenarannya apalagi sampai menyebarkannya.

“Karena hoax sama saja dengan fitnah, maka seleksilah dalam menerima berita apapun,” tegasnya.

Acara pengajian diisi dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan ustadz H. Muhammad Mundzir dan Ki Ageng Ganjur Al Zastrow. Ustadz Mundzir menyampaikan tentang fadhilah sholawat. Sholawat, menurutnya adalah ciri khas orang NU. Ia mengajak para anggota Muslimat NU untuk memperbanyak membaca sholawat karena bersholawat dapat menurunkan keberkahan, menjadi pengobat hati dan penyejuk jiwa, menjadikan hati tenang dan tentram.

Sementara Ki Ageng Ganjur Al Zastrow menyampaikan ciri khas dakwah orang NU, yakni tidak membuat ketakutan, tidak mudah mengharamkan, membid’ahkan, mengkafirkan, menilai orang sesat dan akan masuk neraka.

Da’i nyentrik itu juga merasa prihatin dengan banyaknya orang yang mengaku ustadz dan ulama padahal tidak memiliki bekal pengetahuan ilmu agama. Akibatnya dengan sembarangan menerjemahkan makna ayat Al Qur’an dan hadits tanpa belajar tafsir, bahasa Arab dan ilmu alat.

Acara diakhiri dengan doa, pemotongan tumpeng dan penampilan Mell Shandy dalam lantunan sholawat dan kasidah bersama tim Ki Ageng Ganjur. (Inayah/Mufty)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here