PENTINGNYA PERILAKU TOLERANSI

1
361

Dalam sebuah kisah, Ali bin Abi Thalib hendak pergi ke masjid buru-buru karena takut tertinggal shalat subuh berjamaah.

Di tengah perjalanan, ia bertemu seorang kakek yang sedang berjalan pelan di depannya. Sang kakek berjalan sangat lambat di sebuah gang sempit. Demi memuliakan dan menghormati kakek tua, Ali bin Abi Thalib tidak mau mendahuluinya, meskipun terdengar di masjid sudah iqamah. Ketika sampai di dekat pintu masjid, si kakek tua justru berjalan terus saja, ternyata kakek tua itu beragama Nasrani. Ali buru-buru masuk ke masjid. Ajaibnya, ia mendapati Rasulullah saw dan para jamaahnya masih melakukan ruku’. Ali pun ikut ruku’ sampai selesai sehingga Ali bin Abi Thalib ikut berjamaah dengan sempurna.

Sehabis shalat para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tadi rukuknya lama sekali, padahal Engkau belum pernah melakukan hal itu sebelumnya?” Rasulullah saw. menjawab,”Tadi Jibril datang dan meletakkan sayapnya di atas punggungku dan menahannya lama. Ketika ia melepaskan sayapnya, barulah saya bangun dari rukuk”. Para sahabat bertanya, “Mengapa Jibril melakukan itu?” “ Aku tidak menanyakan kepada Jibril, “jelas Rasulullah. Lalu Jibril datang dan menjelaskan, “Hai Muhammad, tadi Ali tergesa-tergesa ingin melaksanakan shalat berjamaah, akan tetapi di tengah perjalanan ada seorang kakek dan ia tidak mau mendahuluinya karena sangat menghormati orang lain meskipun ia Nasrani.” (Diambil dari Kisah-kisah Teladan, Fathurrahman al-Munawwar).

Kisah yang sering kita dengar di atas, dapat diambil ‘ibrah bahwa toleransi (at-tasamuh) sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, lebih-lebih bagi warga Nahdhiyyin sebagai penganut ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan sebagai warga negara yang hidup di Negara Indonesia yang dikenal sebagai The nation state (Negara bangsa) yang plural. Dalam hal ini, toleransi berarti menghormati, dan menghargai perbedaan yang memang sudah menjadi “sunnatullah”. Toleransi juga merupakan awal dari sikap menerima, bahwa perbedaan bukanlah suatu hal yang salah, justru perbedaan harus dihargai dan dimengerti sebagai kekayaan. Misalnya perbedaana ras, suku, agama, ideologi, golongan, mazhab, adat istiadat, cara pandang, perilaku dan pendapat.

Dengan perbedaan itu, diharapkan manusia bisa mempunyai sikap toleransi terhadap segala perbedaan yang ada, dan berusaha hidup rukun, baik individu dengan individu, individu dengan masyarakat, serta kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat, bahkan bangsa satu dengan bangsa yang lain. Dengan toleransi akan terwujud tata kehidupan yang harmonis, rukun, aman, tenteram dan bahagia. Sebaliknya, jika kehidupan bermasyarakat tidak mencerminkan perilaku toleransi, yang terjadi adalah kecurigaan bahkan permusuhan di antara warga masyarakat.  Allahu a’lam. (mukhamad Umar/Pengurus Pergunu Kendal).

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here