PENISTAAN AGAMA : Antara Kepentingan Dan Kekuasaan

0
127

Penistaan agama sinonim dengan penghinaan, pembohongan atau pembangkangan terhadap agama. Menentang ajaran agama, meragukan, atau sekedar mempertanyakan sebenarnya merupakan bagian dari penistaan agama dalam arti yang luas. Kini, secara legal makna “penistaan agama” dipersempit penggunaannya khusus dari sudut penegakan hukum. Mereka yang dinyatakan telah menistakan agama, hanyalah orang yang secara hukum diputuskan bersalah. Sedangkan yang dinyatakan sebaliknya, akan bebas dari hukuman.

Terlepas dari itu semua, bahwa penistaan agama itu terjadi karena adanya kepentingan dan kekuasaan yang melatarbelakanginya. Simaklah peristiwa-peristiwa berikut :

1.Penistaan agama dimulai ketika iblis di surga menolak perintah Allah untuk melakukan sujud penghormatan kepada Adam, sebab dia merasa lebih mulia  –karena dia diciptakan dari api sedangkan Adam dari tanah– dan merasa harus menjaga kepentingan harga diri dan gengsinya, maka dari situlah sejarah penistaan agama dimulai.

2. Saat Qabil membangkang perintah Nabi Adam dan akhirnya membunuh Habil demi membela kepentingan syahwati terhadap wanita cantik bernama Iqlima, maka untuk pertama kali terjadilah babak penistaan agama, yang dilakukan oleh umat manusia.

3. Ketika raja Namrud yang menganggap dirinya sebagai tuhan dan merasa harus mempertahankan kekuasaannya berkata kepada Nabi Ibrahim AS : “Hai Ibrahim, katakan kepada tuhanmu Allah itu agar turun ke bumi, kemudian supaya perang melawan aku!”, maka dengan ucapannya itu, Namrud telah melakukan penistaan agama demi mempertahan kekuasaannya, karena jika seluruh penduduk negeri mengimani dakwah Ibrahim, maka dia akan kehilangan kekuasaan dan pada giliran berikutnya akan kehilangan ketuhanannya yang palsu itu.

4. Ketika raja Fir’aun meminta Musa untuk menunjukkan tanda bukti kenabiannya, maka Musa menjatuhkan tongkatnya, kemudian berubah menjadi ular besar yang menjadikan Firaun ketakutan, dan Musa mengangkat tangan kanannya yang mengeluarkan sinar kekuatan dahsyat yang menyilaukan. Setelah menyaksikan mukjizat Musa sebagai tanda bukti kenabian dan kerasulan secara langsung, malah Firaun berkata : “Orang yang mengaku Nabi dan Rasul ini ternyata seorang penyihir”.  Maka Firaun dengan ucapannya itu telah melakukan penistaan agama, karena sudah melihat tanda bukti kenabian dan kerasulan Musa dan tentu di hatinya yang dalam telah mengakui Allah sebagai Tuhan. Namun demi mempertahankan kekuasaanya untuk menguasai Mesir dan menindas Bani Israil, dia melakukan penistaan agama, karena sangat takut jika rakyat Mesir beriman kepada Musa maka dia jatuh dari kekuasaannya.

5. Abu Jahal, Abu Lahab, Al-Hakam bin Abil Ash, Uqbah bin Abi Muaith, Al-Nadlor bin Al-Harts, Umayyah bin Kholaf, Zam’ah bin Al-Aswad, Thu’aimah bin Ady, Ubay bin Khalaf, Nabih bin Al-Hajjaj dan Munabbih bin Al-Hajjaj adalah 11 tokoh yang mempengaruhi masyarakat Quraisy agar menganggap Muhammad SAW sebagai “Orang Gila” ketika memperlihatkan tanda bukti kenabian dan kerasulannya berupa perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Dan ketika kemukjizatan Al-Qur’an dan ucapan-ucapan Muhammad SAW bisa menghipnotis para sastrawan Arab hingga tetarik untuk masuk Islam, mereka menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai “Tukang Sihir”. Oleh karena takut jika masyarakat Quraisy beriman kepada Muhammad SAW, kekuasaan mereka berupa konglomerasi dalam ekonomi akan runtuh, maka mereka dengan anggapan-anggapan tadi telah melakukan penistaan agama.

6. Setelah Rasulullah SAW wafat, penistaan agama dimulai oleh Musailamah Al-Kadzdzab di Yaman yang mengaku sebagai nabi dan mengajak para pengikutnya untuk menolak membayar zakat. Bagi Khalifah Abu Bakar, seorang muslim tidak boleh memilih-milih ayat,  hanya mengambil yang disukai, dan mengabaikan yang tidak disetujui. Ketaatan harus menyeluruh. Pengakuan Musailimah bahwa dirinya seorang nabi dan kampanye bahwa zakat sudah tidak wajib sesudah Nabi wafat adalah penistaan agama yang dia lakukan karena ingin menjatuhkan pemerintahan Abu Bakar. Oleh karenanya, Abu Bakar RA memerintahkan bala tentara Islam untuk memerangi Musailamah dan para pengikutnya yang menolak zakat. Akhirnya Musailamah dibunuh oleh panglima perang kaum muslimin yaitu Khalid bin Walid.

7. Tahun 2011, sebuah majalah di Perancis membuat kartun Nabi Muhammad dengan judul Charia Hebdo. Hal itu menurut umat Islam sudah termasuk penistaan agama, dan itu terjadi karena ketakutan mereka jika ajaran Islam masuk ke benua Eropa. Protes keras yang dilakukan kaum muslimin tidak digubris pemerintah setempat. Alasannya, secara legal adanya kartun itu dianggap sebagai kebebasan berkreasi dan tidak melanggar hukum.

9. Aksi damai atau demonstrasi oleh ratusan ribu ummat Islam yang terjadi pada hari jum’at tanggal 4 Nopember 2016, yang kemudian dikenal dengan “Demo 411” terjadi karena pidato Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di kepulauan Seribu yang mengutip surat Al-Maidah ayat 51,  menurut sebagian umat Islam sudah menistakan Islam, meskipun menurut sebagian yang lain tidak menistakan Islam. Peristiwa itu terjadi secara kebetulan pada saat masyarakat Jakarta sedang menghadapi pemilihan gubernur DKI Jakarta, sehingga hal itu terindikasi terkait dengan kepentingan politik. Mereka menyangka bahwa kekuatan pemerintah melindungi Ahok. Oleh karena itu, mereka melalui demo tersebut menuntut pemerintah agar mengusutnya.
Akhirnya pada tanggal 14 november Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama oleh Bareskrim Polri. Polisi dengan menggunakan Pasal 156 a KUHP juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) untuk menjerat Ahok.

“Konsekuensinya proses penyelidikan ini akan ditingkatkan ke tahap penyidikan dengan menetapkan saudara Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M, alias Ahok sebagai tersangka dan melakukan tindakan pencegahan untuk tidak meninggalkan wilayah Republik Indonesia,” kata Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto di Ruang Rapat Utama (Rupatama) Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (16/11/2016).

Tetapi polisi tidak melakukan penahanan terhadap Ahok karena dianggap kooperatif. Dengan demikian, pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo telah menunjukkan tidak melindungi Ahok dan tidak melakukan intervensi hukum. Dan marilah ikuti terus perkembangan berikutnya sampat proses hukum itu tuntas dan berkeadilan. Dan yang paling kita khawatirkan adalah terjadinya perpecahan umat Islam dan perpecahan bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here