Pemuda Muhammadiyah Weleri Bikin Film Sejarah PKO

0
21

Weleri, pcnukendal.com – Untuk mewadahi hobi anggota Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) dalam bidang sinematografi, PCPM Weleri menggandeng Kultum Sinema memproduksi sebuah film yang mengangkat sejarah berdirinya Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang kini lebih dikenal dengan sebutan Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan (RS PKU).

PKO disutradarai Sani Arrahman, tokoh pemuda Muhammadiyah putra dari almarhum KH Muslim Weleri.

“Beberapa kesulitan pengambilan film ini yakni dari 200 pemain hanya 2 orang yang mempunyai basic teater. Dengan modal minim, namun semangat yang besar untuk membuat sejarah yang menceritakan sejarah akhirnya tercapai,” ujar Sani.

Film ini nantinya akan di menjadi manuskrip di Museum Muhammadiyah yang sekarang masih dibangun, lanjutnya.

Film berdurasi 58 menit ini, menceritakan kisah H. Sudja tokoh pertama yang mencetuskan gagasan berdirinya PKO. Bermula dari rapat pimpinan pengurus yang dipimpin oleh KH. Ahmad Dahlan, kemudian melahirkan beberapa gagasan penting diantaranya adalah pendirian PKO. Sebuah gagasan yang ditertawakan waktu itu karena dianggap hal yang “nganeh-nganehi”.

H. Sudja’ memang bukan sosok orator yang tampil di muka umum, namun H. Sudja’ lebih suka berada di belakang layar menjadi konseptor. Beliau memiliki mimpi yang tinggi. Impian tentang mendirikan rumah sakit tersebut berawal dari ajaran KH. Ahmad Dahlan dan teologi Al-Maun.

“Berangkat dari rasa ingin tahu dari sejarah Muhammadiyah, kemudian kami wujudkan kedalam sebuah film sederhana. Memang film ini masih jauh dari yang diharapkan, namun bisa jadi media alat syiar kami,” ujar Malik Abdul Karim, ketua PCPM Weleri yang berperan sebagai sosok H. Sudja’.

Kedepannya film ini akan diwajibkan menjadi tontonan wajib di rumah sakit serta Universitas Muhammadiyah. Hal ini masih digodok pada tingkat Pimpinan Pusat Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), lanjutnya.

Dalam acara nonton bareng yang digelar pada Ahad (28/03) di gedung PCPM Weleri, jurnalis NU Kendal Online diundang khusus untuk menyaksikan film yang ber-budget minim ini untuk melihat salah satu dari sejarah ke-Muhammadiyah-an.

“Sebuah film sederhana yang mempunyai banyak makna, semangat pemuda yang ikut terlibat dalam film ini patut dicontoh untuk generasi zaman sekarang, mungkin ke depannya bisa dipublikasikan untuk masyarakat umum juga,” ucap jurnalis NU Kendal Online memberikan komentar di hadapan para anggota Pimpinan Cabang Nailatul Aisyiyah dan Aisyiyah Weleri. (Firdaus/Muf)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here