Pemimpin yang Tawadhu’

0
56

Oleh: K.H. Moh Muzakka Mussaif

Tawadhu’ atau rendah hati adalah akhlak yang mulia. Kemuliaan akhlak ini karena selalu melekat pada diri Rasulullah, para sahabatnya, dan orang-orang sholih lainnya. Oleh karena itu, sifat ini harus diteladani oleh siapapun yang mengaku umat Rasulullah. Sebab, siapapun yang tidak mengamalkan sifat ini niscaya mereka berada dalam kesombongan.

Tawadhu’ bukan sifat yang sulit diamalkan seperti sifat ikhlas dan sabar, tetapi tawadhu’ lebih mudah mengamalkannya karena indikatornya jelas. Sesiapapun yang memandang orang lain lebih baik atau setidaknya memandang diri lebih rendah dari orang lain maka ia termasuk tawadhu’.

Terkait sifat tawadhu’ ini Amirul Mukminin, Sayyidina Umar bin Khaththab pernah berkata:

رأس التواضع ان تبتدئ بالسلام على من لقيته من المسلمين، وان ترضى بالدون من المجلس وان تكره ان تذكر بالبر والتقوى

Dari perkataan Sayyida Umar itu sangat jelas indikator sifat tawadhu’, yakni

  1. Memulai dengan mengucapkan salam terlebih dahulu jika bertemu orang-orang muslim;
  2. Rela duduk di bawah dalam sebuah majlis (pertemuan);
  3. Tidak senang (benci) jika disebut sebagai orang baik dan orang yang bertakwa.

Memulai mengucapkan salam terlebih dahulu adalah indikator sifat tawadhu’ pertama. Sebab, jika seseorang hanya menunggu orang lain saja bersalam dan tidak mau mengawalinya saat berpapasan dengan orang lain, maka di dalam hatinya ada sifat takabur. Sebab, yang satu atau keduanya merasa lebih utama atau lebih tinggi atas yang lain. Jika salah satu atau keduanya tawadhu’ pasti mereka akan berebut untuk mengawali ucapan salamnya.

Indikator kedua juga cukup jelas, yakni jika sesiapapun tidak rela duduk di bawah atau di belakang dalam suatu majlis, tetapi dia maunya di depan atau di atas, berarti dalam dirinya ada kesombongan. Ia tidak rela duduk di tempat itu karena ia merasa lebih mulia derajatnya dari yang lain.

Indikator yang ketiga juga sangat jelas, yakni orang tawadhu’ tidak suka dipuji dan disanjung karena kesalihan dan ketakwaannya. Oleh karena itu, sesiapapun yang suka disanjung dan dipuji di situlah pasti ada kesombongan dan tidak ada sifat tawadhu’ padanya.

Indikator tawadhu’ yang disampaikan Sayyidina Umar itu bukan hanya pendapat atau perkataan beliau yang disampaikan pada kaum muslimin saja. Namun, sebagai Amirul Mukminin, beliau pun mengamalkannya dalam memimpin kaum muslimin.

Dalam kitab Durratun Nashihin halaman 154, diceritakan oleh Qois bin Hazim bahwasannya ketika Sayyidina Umar berkunjung ke Syam, beliau berkendara dengan satu onta bergantian dengan ajudannya. Awalnya beliau menunggang onta dan ajudannya menuntun onta. Dalam perjalanannya satu farsakh (kira-kira 5,5 km) beliau turun dari onta lalu ajudannya disuruh naik onta dan beliau menuntunnya. Setelah satu farsakh lagi perjalanannya, ajudannya turun dan beliau naik onta lagi. Begitu selanjutnya hingga sampai tujuannya.

Ketika memasuki negeri Syam yang mendapat giliran naik onta adalah ajudannya, beliau berposisi sebagai penuntun onta. Pada saat beliau menuntun onta bertemulah beliau dengan air dan mengambil air itu sementara kedua telompah (sandal/sepatu) diletakkan di bawah ketiak kiri. Pada saat itulah Sahabat Abu Ubaidah sebagai pemimpin negeri Syam keluar dari rumahnya dan melihat kondisi Amirul Mukminin. Beliau berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya para pembesar negeri Syam ini keluar untuk menjemputmu, maka tidak pantas jika mereka melihatmu dalam kondisi seperti ini?”. Amirul Mukminin pun menjawabnya dengan santai saja, “Sungguh hanyalah Allah yang memuliakan kita dengan Islam, maka aku pun tidak peduli terhadap pembicaraan orang lain”.

Jika kita mencermati sifat pemimpin besar kaum mukmin tersebut sangat tawadhu’, bagaimana dengan kita yang awam sebagai ummat Rasulullah? Tentu kita akan malu jika bersifat sombong. Keteladanan beliau jika dicontoh oleh siapapun baik yang alim, berpangkat, berharta, maupun punya kelebihan dari yang lain, maka kesombongan dan arogansi tidak muncul di negeri ini.

والله اعلم بالصواب

Pengajian Bakda Shubuh di Masjid Baitun Nikmah

Penulis adalah Pengasuh Majlis Taklim Al Muslihun Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here