PEMIKIRAN PENDIDIKAN K.H. HASYIM ASY’ARI

0
172

Oleh : H. Muhammad Umar Said

(Tulisan ini sesungguhnya merupakan ringkasan dari makalah penulis yang diseminarkan di kelas pada saat menempuh studi S2 Jurusan Islamic Studies di UIN Walisongo pada tahun 2005 -2007 M.)

Pendahuluan

Sebagai penulis produktif, K.H. Hasyim Asyari – selanjutnya dalam tulisan ini disebut Asy’ari – menulis dalam berbagai bidang kajian termasuk teologi, sufisme, politik dan hukum Islam. Pemikiran teologinya bercorak suni, sedangkan praktik dan pemikiran mistiknya sejalan dengan sufisme. Ia mendorong kaum Muslim mengikuti ajaran empat mazhab suni. Dalam bidang politik, ia mengajak kaum Muslim memperkuat persaudaraan Islam. Ia adalah pendiri Pesantren Tebu Ireng dan Nahdlatul Ulama (1871-1947), dan di seluruh Jawa, para kyai memberi gelar padanya “Hadratus Syaikh” yang artinya tuan guru besar. (Zamakhsyari Dhofier, 1994).

Walaupun Asy’ari menghabiskan sebagian besar waktunya mengajar di pesantren, ia memainkan peran politik yang penting, khususnya sebagai pemimpin gabungan organisasi Islam pada masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang dan Indonesia Merdeka, serta pendukung utama kemerdekaan Indonesia pada akhir 1940-an. Utamanya, Asy’ari dipandang sebagai pemimpin utama Muslim tradisionalis sejak 1920-an sampai 1940-an, tetapi juga disegani kalangan Muslim modernis walaupun ketika itu hubungan antar mereka kurang harmonis. Karena itu ia dapat dikatakan sebagai pemimpin spiritual bagi banyak ulama, tentara dan politikus.(lihat:  Lathiful Khuluq, 2001).

Bertolak dari situlah, kaitannya dengan studi pemikiran pendidikan Islam, perlu kita lacak dan ‘potret’ pemikiran pendidikan Asy’ari sehingga kita fair di dalam merunut alur pemikiran pendidikan Islam.

Latar Belakang (Background) Pendidikan Asy’ari

Pendidikan awalnya sampai berumur 15 tahun diperoleh dengan bimbingan ayahnya. Ia mendapat pelajaran dasar-dasar ilmu tauhid, figih, tafsir, dan hadits. Asy’ari kemudian meneruskan studi ke beberapa pesantren di Jawa dan Madura yaitu Pesantren Wonokromo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis, Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo). Tradisi pesantren dalam mencari ilmu ini memberi kesempatan pada Asy’ari untuk belajar tata bahasa dan sastra Arab, fiqih, dan sufisme dari Kyai Khalil Bangkalan selama 3 tahun, dan diperkirakan oleh Kontowijoyo, Asy’ari pernah belajar bersama Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) di Semarang. (lihat : Kuntowijoyo, 1991).

Asy’ari kemudian pergi ke Hijaz untuk melanjutkan pendidikannya. Di Mekah, mula-mula Asy’ari belajar di bawah bimbingan Syaikh Mahfudz – pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadits dari 23 generasi –dari Termas (w. 1920), yakni ulama Indonesia pertama yang mengajar Shahih Bukhari di Mekah. Di bawah bimbingannya pula Asy’ari belajar tarikat Qodiriyah dan Naqsyabandiyah, ilmu yang diterima oleh Syaikh Mahfudz dan Syaikh Nawawi. Sebelumnya, syaikh yang terakhir ini menerima ilmu tersebut dari Syaikh Ahmad Khatib dari Sambas (Kalimantan Barat), seorang sufi pertama kali yang menggabungkan ajaran tarikat Qodiriyah dan Naqsyabandiyah. Jadi, Syaikh Mahfudz merupakan penghubung tradisi sufi yang menghubungkan Syaikh Nawawi dari Banten dan Syaikh Ahmad Khatib Sambas dengan Asy’ari.

Asy’ari juga belajar fiqih mazhab Syafi’i di bawah bimbingan Ahmad Khatib yang juga ahli dalam bidang ‘imu falaq, ‘ilmu hisab” dan “aljabar”. Khatib juga seorang ulama liberal yang mendorong kemajuan dan pembaharuan (tajdid). Namun, ia tidak setuju dengan berbagai pembaruan yang dilontarkan Muhammad Abduh. Khatib membolehkan para muridnya belajar pada Abduh di Mesir. Khatib setuju dengan Abduh mengenai tarikat, tetapi tidak setuju dengan pendapatnya mengenai pembentukan mazhab fiqih baru. Jadi, di bawah pengaruh Khatib-lah Asy’ari mempelajari Tafsir Al-Manar karya Abduh. Asy’ari memuji rasionalitas penafsiran Abduh, tapi nantinya tidak menganjurkan kitab tersebut dibaca muridnya karena Abduh mengejek ulama tradisionalis. Asy’ari juga setuju dengan dorongan Abduh untuk meningkatkan semangat Muslim, tetapi tidak setuju dengan pendapat Abduh untuk membebaskan umat dari tradisi mazhab. Asy’ari berpendirian, bahwa tidak mungkin memahami al-Qur’an dan al-Hadits tanpa memahami perbedaan pendapat pemikiran hukum Islam. (Lathiful Khuluq, 2001).

Asy’ari meninggal pada tanggal 7 ramadan 1366 H. Beberapa karya ‘hebat’ pada zamannya, termasuk pidato, ceramah atau nasihatnya ditanskripkan orang lain, karena memang kebanyakan karyanya berbahasa Arab. Dan, salah satu karyanya itu yakni Adaabul ‘aalimi wa al-mutaallimi fii maa yahtaaju ilaihi-l-mutaallimi fii ahwaali ta’allumihi wamaa yatawaqqafu ‘alaihi-l-mu’allimu fii maqaamaati ta’liimihi.

 

Adab murid menurut Asy’ari

Pemikiran Asy’ari tentang adab seorang murid sepenuhnya terdapat dalam kitab Adaabul ‘aalimi wa al-mutaallimi yang telah diterjemahkan, cetakan pertama tahun 1415 H bab ke-2 halaman 24-28 yang diterbitkan oleh Makatabatul  Turatsil Islamy di pesantren Tebu Ireng Jombang disertai dengan pemahaman dan interpretasi si penulis tentang pendapat tersebut. Adab murid menurut Asy’ari tersebut yaitu:

  1. Hendaklah membersihkan hatinya dari segala kebencian, kedengkian, akidah yang rusak dan akhlak yang bobrok. Dengan demikian akan mudah baginya menerima ilmu, menghafalkan, menelaah dan mengkaji yang ada di dalamnya. Hal ini dapat dipahami karena kebersihan hati akan mengurangi beban seseorang dalam berpikir jernih. Kebencian dan kedengkian akan memberikan beban bagi hati yang merupakan salah satu unsur/sarana penting dalam kegiatan belajar.
  2. Hendaklah memperbagus niat dalam mencari ilmu dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Mengamalkannya serta menghidupkan syariat dan menyinari hatinya, mengosongkan batinnya dan ber-taqarrub serta mendekatkan diri kepada Allah dan tidak bermaksud mengejar tujuan duniawi, seperti menjadi pemimpin, mencari penghormatan, mencari pujian dan sanjungan orang lain dan sebagainya. Murid yang riya akan memiliki semangat yang cukup tinggi dalam belajarnya manakala ia mendapat perhatian dan sanjungan dari orang lain terutama gurunya, dan sebaliknya akan lemah semangatnya bahkan boleh jadi tidak memiliki semangat belajar manakala perhatian dan sanjungan orang lain terutama gurunya tidak ditujukan kepadanya;
  3. Hendaklah bersegera mencari ilmu pada masa mudanya dan selama hayatnya, karena waktu berjalan dan tak pernah kembali. Hendaklah ia memutuskan diri dengan sesuatu yang menyibukkan dan menghalanginya dari kesempurnaan menuntut ilmu dan berijtihad serta kemampuan berjuang untuk memperolehnya. Masa muda dianggap sebagai masa di mana otak manusia sangat produktif. Sebaliknya masa tua adalah masa di mana akal sudah mengalami kemunduran dalam memproduksi dan bahkan nyaris tidak mampu lagi berproduksi;
  4. Hendaklah puas dengan makanan dan pakaian yang ada. Dengan kesabaran atas kehidupan yang sederhana akan memperoeh kemuliaan ilmu. Asy’ari dalam hal ini tampaknya ingin menampilkan sisi kesederhanaan itu membuat orang tidak berfoya-foya, meskipun ia memiliki sesuatu untuk bisa melakukannya. Menjadi hidup sederhana juga dituntut kesabaran, karena dengan demikian apabila murid tersebut memang tidak memiliki harta yang lebih, tidak akan muncul perasaan iri dan dengki yang merupakan sumber penyakit hati yang justru harus dihindari oleh para murid;
  5. Hendaklah membagi waktu siang dan malam serta mampu memanfaatkan sisa umurnya karena sesungguhnya sisa umur tidak bernilai. Waktu menghafal yang paling baik adalah malam hari (waktu sahur) dan untuk mencari ilmu adalah pagi hari dan untuk menulis pada siang hari. Sedangkan untuk pengkajian dan pengulangan pada malam hari. Tempat yang baik untuk menghafal adalah ruang tertentu dan di tempat-tempat yang jauh dari hal-hal yang melalaikan. Tidak baik menghafal di dekat tumbuh-tumbuhan, dan di tempat yang bising. Mensiasati waktu merupakan salah satu anjuran penting yang ditekankan Asyari. Ini penting sekali, mengingat bahwa waktu yang diatur sedemikian rupa akan dapat memberikan arahan yang jelas dalam belajar. Tentang tidak baik belajar di dekat tumbuh-tumbuhan, barangkali maksudnya ketika siang hari tumbuhan mengeluarkan oksigen, dan itu berarti bisa membuat kantuk, sehingga lebih tepatnya ketika itu enjoy Sedangkan ketika malam hari tumbuhan mengeluarkan karbondioksida, dan itu buruk untuk kesehatan tubuh;
  6. Hendaklah menyedikitkan makan dan minum, karena kenyang itu sungguh-sungguh menolak kemauan beribadah dan memberatkan badan. Di antara faedah sedikit makan adalah sehatnya badan dan terhindar dari penyakit jasmani;
  7. Hendaklah menggiring dirinya dengan wara’ dan kehati-hatian dalam setiap keadaan dan makanan, minuman dan pakaian serta tempat tinggalnya;
  8. Hendaklah menyedikitkan penggunaan makanan yang merupakan penyebab lemahnya perasaan seperti at-thufah al-hamidi dan meminum al-khali dan juga penggunaan al-balgham al-mubalidi bagi benak dan yang memberatkan badan seperti banyak minum susu dan ikan. Hendaklah meninggalkan apa-apa yang menyebabkan lupa;
  9. Hendaklah menyedikitkan tidurnya sepanjang tidak membawa dampak buruk bagi jasmani dan benaknya. Tidurnya dalam sehari-harinya tidak lebih dari 8 jam atau sepertiga hari. Jika kita tangkap maksud Asy’ari, sedikit tidur berarti banyak bangunnya. Ukuran sedikit adalah sepanjang tidur tersebut telah memberikan kesegaran terhadap jasmani dan rohani. Namun jika terpaksa banyak, maka ukurannya tidak melebihi 8 jam. Karena tidur melebihi 8 jam justru membuat manusia semakin bertambah lelah dan tidak menghasilkan kesegaran baik jasmani maupun rohani. Sisa waktu yang tidak dimanfaatkan untuk tidur sebaiknya digunakan untuk belajar;
  10. Hendaklah meninggalkan isyrak (pergaulan) yang membuang-buang waktu, karena meninggalkannya termasuk sesuatu yang lebih penting yang seharusnya dilakukan oleh penuntut ilmu, apalagi bagi yang berlainan jenis secara khusus. Di sini Asy’ari menjelaskan bahwa jika seseorang murid banyak waktu bermainnya, maka sedikit sekali berpikirnya (belajarnya). Bahayanya isyrak adalah menghilangkan umur tanpa manfaat dan hilangnya agama jika bersama orang yang bukan muhrim-nya. Jika membutuhkan teman, maka haruslah teman yang baik akhlaknya.

 

Kesimpulan

Istilah adab berkaitan dengan hal seni. Ada seni tersendiri menata sikap mental yang baik untuk suatu perbuatan yang baik. Adab murid terhadap dirinya sendiri menunjukkan bahwa pangkal utama kesuksesan belajar sangat bergantung pada individu manusia itu sendiri. Betapa pun hebatnya seorang guru mengarahkan dan mengajarkan seorang murid, jika murid tersebut tidak memiliki sikap mental yang baik, maka akan sulit diarahkan.

10 Adab Murid  tersebut tidak bertentangan dengan inti ajaran Islam yang tertuang dalam al-Quran dan Hadits. Asy’ari sangat memperhatikan 2 unsur pada diri manusia, yaitu unsur fisik bendawi dan unsur non fisik. Yang termasuk unsur fisik bendawi adalah masalah badan-jasmani. Adapun unsur yang non bendawi adalah “hati” (qalbu)-rohani. Setiap unsur harus diberikan konsumsinya masing-masing.

Kontribusi pemikiran Asy’ari semakin nyata ketika kebanyakan pesantren di Indonesia- yang banyak dipengaruhi oleh Tebu Ireng- banyak melahirkan orang-orang yang memiliki Emotional Question and Spiritual Question. Meminjam istilah Cak Nur ketika Temu Tokoh Nasional di Universitas Wahid Hasyim beberapa tahun silam, “Kita punya model pendidikan asli Indonesia, yakni pesantren yang murid-muridnya datang dari  rumah ke situ bertujuan untuk thalabul ilmi lillahi ta’ala. Dan juga konstruk laku-adab yang dibangun dalam tradisi pesantren masih bisa dirasakan sebagai cagar budaya nusantara”. (Allahu a’lam bis shawab)

Referensi:

  1. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Jakarta: Mizan, 1994.
  2. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
  3. Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan, 1991
  4. Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama: Biografi K.H. Hasyim Asy’ari, Yogyakarta: LkiS, 2001.
  5. Suwito dan Fauzan, Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan, Bandung: Angkasa, 2003.
  6. Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi TentangPandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, 1994.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here