PEMIKIRAN PENDIDIKAN IMAM AL-GHAZALI

0
642

Muhammad Umar Said

(Tulisan ini penting untuk dibaca terutama untuk para guru NU, sebab yang dipaparkan dalam tulisan ini adalah sosok pemikir besar Islam abad XI M. Hujjatul Islam (Penyelamat ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah), yaitu Imam Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali yang begitu detail memaparkan konsep pendidikan, yaitu mengenai siapa manusia itu, macam-macam ilmu dan tujuan mencari ilmu dan bagaimana agar guru bisa membentuk murid menjadi insan kamil yang memiliki kompetensi spiritual, intelektual, sosial, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat).

 

A. Pendahuluan

Arus globalisasi yang mulai abad XX semakin memenuhi celah-celah kehidupan umat manusia di segala penjuru negara. Salah satu celah yang dijelajahi adalah ruang intelektual yang terbukti merasuknya teori-teori Barat yang dinilai memiliki kredibilitas dan validitas dalam mengatasi segala macam persoalan. Dimensi pendidikan misalnya, seringkali meminjam istilah-istilah yang digaungkan oleh kaum intelektual Barat yang sekuler. Pertanyaannya adalah, tidakkah dalam sejarah bangsa-bangsa Timur (baca:Islam) memiliki pakar pendidikan yang juga diperhitungkan oleh intelektual Barat?

Al-Ghazali merupakan satu figur pemikir Islam yang tidak dapat dipandang sebelah mata oleh siapa pun. Karya-karyanya menyeruak ke permukaan disiplin ilmu dan menjadi kiblat bagi generasi-generasi selanjutnya. Berkaitan dengan hal tersebut, dinyatakan bahwa  al-Ghazali dengan karya monumentalnya, Ihya Ulumiddin merupakan salah satu karya  yang dianggap sangat berjasa  dalam menegakkan Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw. Maka  tidak terlalu berlebihan apa yang disebutkan oleh Abdurrahman Mas’ud dalam bukunya bahwa al-Ghazali dipandang sebagai social former, pembaharu masyarakat secara luas. Ahlussunnah wal Jamaah, golongan muslim terbesar di dunia semuanya gandrung pada pemikiran dan mauidhah hasanahnya. (lihat Abdurrahman Mas’ud, 2002).

Dalam ranah pendidikan, al-Ghazali menyumbangkan pemikiran tentang klasifikasi ilmu pengetahuan kaitannya dengan subyek didik (pendidik dan anak didik) yang kesemuanya berpangkal kepada esensi manusia secara qodrati. Sumbangannya dalam pendidikan Islam tersebut sampai detik ini masih menghangat, termasuk dalam pendidikan Islam di Indonesia. Di Jawa, al-Ghazali menjadi guru utama sepanjang masa sejak zaman Walisongo di abad ke-15 sampai 16. Kemudian dilanjutkan dalam pondok pesantren, sebuah lembaga pendidikan Islam yang indigenous yang sampai sekarang masih mengidolakan pemikiran al-Ghazali.

Di sisi lain, pemikiran al-Ghazali dikritik habis-habisan oleh para pemikir muslim selanjutnya semisal Ibn Rusyd yang mengoreksi pemikiran al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut al-Tahafut yang merupakan koreksi dan kritik terhadap buku karya al-Ghazali Tahafut al-Falasifah. Bahkan Ahmad Fuad al-Ahwani, tokoh pendidikan muslim abad XX yang menyesalkan kehadiran al-Ghazali dalam dunia Islam yang dianggap sebagai penyebab kemunduran intelektual Islam. (Muhammad Jawwad Ridha, 2002).

Merujuk dari dua sisi yang kontradiktif tidaklah berlebihan jika memperbincangkan kembali pemikiran al-Ghazali khususnya dalam aspek pendidikan, sehingga mampu menempatkan al-Ghazali secara proposional.

 

B. Sketsa Biografi al-Ghazali

Al-Ghazali bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali- al-Thusi. Beliau berusia relatif pendek tidak lebih dari 55 tahun. Lahir pada tahun 450 H./1058 M. di Thus, sebuah kota kecil di Khurasan (sekarang Iran) dan wafat di daerah yang sama pada tahun 505 H./1111 M.

Sejak kecil al-Ghazali hidup sebagai yatim piatu. Ia mewarnai masa mudanya untuk belajar kepada ulama-ulama besar seperti: Ahmad bin Muhammad al-Razkafi di Thus, Ibn Nashr al- Isma’ili di Jurjan dan Imam al-Haramain Abu al-Ma’ali al-Juwaini di Naisabur. Kepadanya al-Ghazali belajar ilmu kalam, ilmu ushul, mazhab fiqh, retorika logika, tasawuf dan filsafat. Selepas meninggalnya al-Juwaini, ia berhijrah ke Mu’askar, suatu tempat luas untuk barak militer Nizhamul Mulk, Perdana Menteri Saljuk. Tempat itu sering menjadi basecamp bagi ulama-ulama ternama. Dari sinilah karirnya mulai menanjak, hingga akhirnya dipercaya sebagai Rektor (pemimpin) Universitas Nidhamiyyah di Baghdad pada usia 34 tahun. Di sela-sela jabatannya, dia menulis berbagai buku yang mengisahkan beragam bidang  seperti fiqh, ilmu kalam, dan filsafat. Setelah empat tahun, dia lengser keprabon dan mulai merasa kekeringan jiwa. Akhirnya, dia meninggalkan Baghdad menuju daerah-daerah lain secara sporadik untuk mencari jiwanya yang hilang hingga akhirnya kembali ke Thus. Sisa masa umurnya dimanfaatkan untuk membaca al-Qur’an, al-Hadits dan mengajar serta selama 10 tahun menekuni ilmu tasawuf hingga terbitlah karya besarnya Ihya Ulumiddin yang mengupas habis tentang ilmu tasawuf yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. (lihat Abdurrahman Mas’ud, 2002).

 

C. Manusia dalam Pandangan al-Ghazali

Secara filosofis, pendidikan merupakan usaha untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu memperbincangkan pendidikan, perlu diketahui terlebih dahulu esensi manusia itu sendiri. Dalam hal ini, al-Ghazali ikut urun rembuk mengenai manusia dalam kitab Ihya-nya. Menurut al-Ghazali, tubuh manusia terdiri dari empat esensi yaitu qalb, ruh, nasf, dan aql. Kedua esensi yang disebut pertama  lebih peka ketika menekuni tasawuf dan keruhaniahan. Sedangkan nafs dan aql “bericara” di forum filsafat dan keduniaan. Dapat disimpulkan bahwa kesempurnaan manusia itu tercapai ketika mampu menggabungkan alam filsafat dan tasawuf. Inilah yang disebutkan al-Ghazali sebagai tujuan hidup manusia. Al-Ghazali menyatakan:

“Segala tujuan manusia itu terkumpul dalam agama dan dunia. Dan agama tidak terorganisasi selain dengan terorganisasinya dunia. Dunia adalah tempat bercocok tanam bagi akhirat. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepada Allah bagi orang yang mau membuatnya menjadi tempat yang tetap dan tanah air abadi”. (lihat Muhammad jawwad Ridha, 2002).

Selanjutnya, al-Ghazali menambahkan bahwa untuk dapat meraih tujuan hidup, manusia haruslah melakukan amal dengan cara mengetahui prosedurnya, dan prosedur amal hanya dapat dicapai melalui ilmu. Maka, pangkal kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat adalah ilmu. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang berbunyi: “khairuddunya wal akhirati ma’al ilmi wa syarafuddunya wal akhirati ma’al ilmi” (“sebaik-baik dunia dan akhirat adalah dengan ilmu, dan kemuliaan dunia dan akhirat juga dengan ilmu”). Dalam hal ini, adalah wajar jika al-Ghazali membahas panjang lebar dalam kitab Ihya Ulumiddin mengenai bab klasifikasi ilmu, bahkan dituangkan dalam bab tersendiri, “kitab al-ilmi”.

 

D. Ilmu dalam Pandangan al-Ghazali

Al-Ghazali membagi ilmu dalam berbagai kategori sesuai cara pandangnya. Secara Epistemologis, ilmu diklasifikasikan menjadi dua kategori: syar’iyyah, yaitu ilmu yang diperoleh Nabi dan tidak ditunjukkan kepada siapa pun kecuali kepadanya, dan aqliyyah, yaitu ilmu yang bersumber dari akal, baik yang diperoleh secara dlaruri (insting) maupun iktisabi. Sedangkan secara ontologis, ilmu terpetakan menjadi dua hal: fardhu ‘ain, yaitu ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas akhirat dengan baik meliputi Ilmu Tauhid, llmu Syariat dan ilmu sirri, dan fardhu kifayah, meliputi yang berkaitan dengan urusan keduniaan yang perlu diketahui oleh sebagaian manusia tertentu. Sedangkan menurut cara pandang aksiologis, ilmu dapat dirinci dalam tiga jenis, yang terpuji, yang diperbolehkan seperti ilmu pantun, sejarah dan sebagainya, dan yang tercela. Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu tercela bukan karena hakekat ilmu itu sendiri, tetapi karena  faktor manusianya. Secara sederhana, al-Ghazali merinci ilmu yang tercela dikarenakan tiga sebab, Pertama, ilmu yang membawa kemelaratan baik bagi yang mendalami ilmu itu maupun orang lain, seperti ilmu sihir dan mantera, kedua,  ilmu yang biasanya membawa  kemelaratan kepada yang memiliki ilmu itu sendiri, seperti ilmu nujum, dan ketiga, ilmu yang tidak memberi faedah kepada orang itu sendiri, seperti mempelajari ilmu yang tidak jelas sebelum mempelajari ilmu yang lebih penting dan jelas. Sebagai contoh ilmu kedokteran, ilmu hitung, dan teknologi yang kesemuanya termasuk dalam ilmu aqliyyah secara epistemologis-fardhu kifayah secara ontologis-mahmudah secara aksiolologis.

 

E. Pendidikan dalam Pandangan al-Ghazali

Sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa kemuliaan seseorang terkait erat dengan kualitas dan kuantitas ilmu yang dimiliki. Maka, untuk mendapatkan ilmu pengetahuan haruslah melalui jalur yang namanya pendidikan. Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin memang tidak menyebutkan secara ekspisit mengenai arti pendidikan. Namun dari pertanyaannya, dapat dirumuskan pendidikan menurut al-Ghazali adalah usaha untuk menyempurnakan manusia (insan kamil) yaitu manusia yang hidup bahagia dunia dan akhirat. Dari pengertian di atas, terdapat beberapa unsur yang membangun yaitu usaha, subyek didik (guru dan murid) dan tujuan.

  1. Usaha (ikhtiyar)

Dalam hal pendidikan, yang dimaksud dengan usaha adalah cara atau teknis yang digunakan dalam rangka menciptakan ruang belajar yang efektif dan efisien. Maka, untuk menciptakan hal tersebut al-Ghazali membuat kurikulum yang disesuaikan dengan usia murid, yaitu:

  1. Usia 00-06 tahun adalah masa asuhan orang tua. Dalam kata lain, pendidikan masa ini disebut dengan dresser ( pembiasaan);
  2. Usia 06-09 tahun adalah masa dimulainya pendidikan anak secara formal. Dalam masa ini, anak diajarkan tentang al-Qur’an, hadits-hadits yang mengandung cerita, riwayat dan ihwal orang  baik supaya tertanam dalam jiwanya kecintaan kepada orang-orang shalih;
  3. Usia 09-13 tahun adalah masa pendidikan kesusilaan dan kemandirian. Diharapkan pada usia ini anak telah mampu membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang manfaat dan sia-sia, mana yang patut dikerjakan dan mana yang perlu dihindari;
  4. Usia-13-16 tahun adalah masa evaluasi terhadap pendidikan yang telah berjalan sejak usia pembiasaan sampai kepada masa latihan kemandirian.
  5. Usia 16 tahun ke atas adalah pendidikan kedewasaan. Menurut Islam, masa ini dikategorikan telah dewasa dan segala yang dilakukannya merupakan tanggung jawab sendiri.

Selain kurikulum, dalam rangka memperlancar terwujudnya tujuan pendidikan al-Ghazali menawarkan metode pendidikan yang dapat dibagi dalam dua hal sebagai berikut:

1.1.Metode pendidikan agama

Metode ini pada prinsipnya dimulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran setelah itu penegakkan dalil-dalil yang menunjang penguatan akidah;

 

1.2Metode pendidikan akhlak

 Setelah pendidikan agama mulai ditanamkan, hendaknya dibarengi juga dengan pendidikan akhlak, karena menurut al-Ghazali, inti pendidikan haruslah mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia.

Dari uraian di atas usaha pendidikan bagi al-Ghazali haruslah mancakup pembentukan rasional, agama dan akhlaknya sekaligus.

 

  1. Guru

Menurut al-Ghazali, profesi keguruan merupakan profesi yang paling mulia dan agung dibandingkan dengan pekerjaan lain. Hal ini didasarkan atas pernyataan al-Ghazali:

“makhluk yang paling mulia adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia penampilannya adalah kalbunya. Guru selalu menyempurnakan, mengagungkan dan mensucikan kalbu itu serta menuntunnya untuk dekat kepada Allah…”

Lebih lanjut al-Ghazali menyebutkan beberapa hal menyangkut tugas dan tanggung jawab guru:

a. Guru adalah orang tua kedua di depan murid

Sebagai orang tua, tentunya guru diharapkan mempunyai rasa kasih sayang dan tanggung jawab bagi keberhasilan pendidikan murid. Hal ini berdasarkan hadits yang menyatakan, “sesungguhnya aku ini adalah bagaikan seorang ayah bagi anaknya” (H.R. Abu Daud Nasai, Ibnu Hibban dari Abu Hurairah). (Muhammad Jawwad Ridha, 2002).

 

b. Guru sebagai pewaris ilmu Nabi

Sebagai pewaris Nabi, al-Ghazali menganjurkan para guru untuk mendidik tanpa pamrih, melainkan mendidik karena Allah dan mencapai kedekatan kepada-Nya.

 

c. Guru sebagai penunjuk jalan dan pembimbing keagamaan murid

Al-Ghazali menyarankan para guru untuk senantiasa memberikan nasihat kepada murid untuk meluruskan niat, bahwa tujuan belajar bukanlah hanya untuk meraih prestasi semata, melainkan juga untuk mengembangkan ilmu itu sendiri dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

 

d. Guru sebagai figur sentral murid

Al-Ghazali menasehatkan kepada setiap guru agar senantiasa menjadi teladan dan pusat perhatian bagi muridnya.

 

e. Guru sebagai motivator bagi murid

Al-Ghazali mengingatkan kepada guru untuk tidak mengecilkan, merendahkan apalagi meremehkan bidang studi lain di hadapan murid. Dengan begitu, guru diharapkan selalu memberikan dorongan kepada muridnya untuk selalu giat mempelajari berbagai disiplin ilmu.

  1. Murid

 Sebagaimana halnya dengan guru, menurut al-Ghazali murid juga harus menanamkan dalam dirinya beberapa sifat dalam rangka melakukan pendidikan, yaitu:

a.Belajar merupakan proses jiwa, artinya belajar merupakan proses panjang untuk menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku;

b. Murid harus berkonsentrasi dan focus dalam belajar;

c. Murid belajar dengan sikap tawadhu’;

d. Murid bertukar pendapat hendaklah jika telah mantap ilmu pengetahuannya.

e. Murid harus mengetahui nilai dan tujuan ilmu yang dipelajari.

f. Murid belajar secara bertahap;

g. Murid belajar untuk berakhlakul karimah.

 

  1. Tujuan belajar

Menurut al-Ghazali tujuan  pendidikan dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:

a. Mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, dalam artian mampu dan sadar melaksanakan ibadah wajib dan sunnah;

b. Menggali dan mengembangkan potensi manusia.

c. Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduniaan

d. Membentuk manusia berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela;

e. Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manusiawi.

 

F. Penutup

Al-Ghazali sebagai sosok pemikir ulung sudah tentu telah menyumbangkan pemikiran yang spektakuler. Kecenderungan pemikiran yang konservatif (demikian pendapat para pengkritik sesudahnya) dapat dimaklumi mengingat pada masanya telah terjadi penyelewengan ajaran agama sejak dimulainya filsafat berbicara tentang ketuhanan. Di samping itu, terjadi aliran-aliran kebatinan yang dinilainya juga melenceng dari ajaran asasi Islam.

Di masa global sekarang ini, pemikiran al-Ghazali layak untuk terus dihidupkan mengingat persoalan global yang kian bergumul dalam setiap kehidupan. Persoalan tersebut lambat laun mengkikis akidah dan moralitas anak bangsa. Maka, diperlukan sebuah benteng yang kokoh dalam diri manusia modern. Maka, al-Ghazali-lah pada abad ke-11 telah mengawali dengan menata kembali sendi-sendi agama yang hampir runtuh. Allahu ‘alam bis shawab.    

 

Referensi :

  1. Abdurrahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik, Yogyakarta: Gama Media, 2002.
  2. Abidin Ibn Rusn, Pemikiran al-Ghazali  tentang Pendidikan, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998.
  3. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, Syirkat li al-Thob’i wa al-Nasyri, Bandung, T.th.
  4. Muhammad Jawwad Ridha, Tiga Utama Teori Pendidikan, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002. 

 

 

Penulis:

Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama  (PERGUNU) Kab. Kendal.                          

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here