PAHALA SEDEKAH SETARA DENGAN HAJI MABRUR

0
604

Perjalanan haji Abdullah bin Mubarak ke tanah suci harus terhenti tatkala ia sampai di kota Kufah. Dia melihat seorang perempuan sedang mencabuti bulu itik dan Abdullah seperti  tahu, bahwa itik itu adalah bangkai.

“Ini bangkai atau hasil sembelihan yang halal?” Tanya Abdullah memastikan. “Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku”.

Ulama hadits yang zuhud itu heran, di negeri Kufah bangkai ternyata menjadi santapan keluarga. Ia pun mengingatkan perempuan tersebut bahwa tindakannya adalah haram. Si perempuan menjawab dengan pengusiran.

Abdullah pun pergi tapi selalu datang lagi dengan nasihat serupa. Berkali -kali hingga suatu hari aku tak mendapatkan makanan untuk menghidupi mereka”. Hati Abdullah bergetar, ia segera pergi dan kembali lagi bersama keledainya dengan membawa makanan, pakaian, dan sejumlah bekal. “Ambillah keledai ini berikut barang-barang bawaannya. Semua untukmu”.

Tak terasa, musim haji berlalu dan Abdullah bin Mubarak masih berada di Kufah. Artinya, ia gagal menunaikan ibadah haji tahun itu. Dia pun memutuskan bermukim sementara di sana sampai para jamaah haji pulang ke negeri asal dan ikut bersama rombongan.

Begitu tiba di kampung halaman, Abdullah disambut antusias masyarakat. Mereka beramai-ramai memberi ucapan selamat atas ibadah hajinya. Abdullah malu. Keadaan tak seperti yang disangkakan orang-orang.”Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini,” katanya meyakinkan para penyambutnya.

Sementara itu, kawan-kawan yang berhaji menyuguhkan cerita lain. “Subhanallah, bukankah kami menitipkan bekal kepadamu saat kami pergi kemudian mengambilnya lagi saat kau di Arafah?”

Yang lain ikut menanggapi, “Bukankah kau yang membelikan sejumlah barang untukku,“ kata satunya lagi. Abdullah bin Mubarak semakin bingung. “Aku tak paham dengan apa yang kalian katakan. Aku tak melaksanakan haji tahun ini.”

Hingga suatu malam, dalam mimpinya Abdullah mendengar suara, “Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji.” Demikian kisah ini diceritakan dalam kitab An-Nawadir karya Syeh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi.

Dari kisah di atas dapat disimpulkan, bahwa ibadah sosial yang berupa sedekah kepada fakir miskin atau orang yang sangat membutuhkan dengan niat ikhlas karena Allah, pahalanya setara dengan ibadah haji. (mukhamad umar/Pengurus Pergunu Kendal).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here