NU LAHIR KARENA ISYARAT LANGIT

0
31

langit

Kelahiran Nahdlatul Ulama di bumi  Nusantara adalah hasil isyarat langit. Karena dilahirkan dari isyarat langit, maka NU akan tetap langgeng meskipun umurnya hampir mencapai seratus tahun. Demikian dikatakan Rois Syuriyah PBNU, KH. Mustofa Aqil Siraj saat mengisi ceramah pada puncak Harlah NU ke 93 tingkat Cabang Kendal di Halaman Islamic Center, Cepiring Kendal, Sabtu(16/4).

“Kalau tidak dengan isyarat langit mungkin NU sudah bubar. Karena organisasi yang seangkatan dengan NU juga sudah bubar, contohnya Masyumi” jelasnya.

Diceritakan kyai Mustofa, suatu saat mbah Kholil Bangkalan mengutus santrinya untuk menemui  kyai Hasyim Asy’ari. Santri bingung bagaimana caranya ketemu dengan kyai Hasyim As’ari sedang dirinya tidak tahu mana orangnya. Akhirnya si santri berwasilah ke makam Sunan Ampel. Setelah ketemu, utusan  kyai Kholil kemudian menyerahkan kotak yang dibawanya  yang berisi tongkat dan tasbih.

l2

Lebih jauh adik kandung KH. Said Aqil Siroj itu menjelaskan bahwa tongkat adalah lambang kekuasan. Sedangkan tasbih simbul agama, sementara kotaknya mengisyaratkan sebuah wadah. Oleh karenanya pemberian mbah Kholil kepada KH. Hasyim As’ari itu dimaknai perintah untuk membuat wadah  untuk mengurus negara dan agama. Wadah yang dimaksud dikemudian hari  diberi nama Nahdlatul Ulama.

Selanjut setelah NU lahir ternyata lambang NU juga belum ada. Untuk membuat lambang NU, KH Hasyim Asy’ari kemudian  meminta KH Ridwan Abdullah untuk  membuat gambar lambang NU. Untuk mendapatkan inspirasi gambar  lambang NU, KH Ridwan Abdullah juga harus bertawasul ke makam Sunan Ampel. Dalam munajatnya itulah kemudian ia mendapat isyarat dari langit tentang gambar jagad atau bumi. Itu artinya bahwa NU  tidak hanya mengurus Indonesia, tetapi juga harus mengurus dunia.

Benar saja menjelang satu abad kelahiran NU di luar negeri sudah banyak terbentuk Pengurus Cabang Istimewa. NU juga semakin sering terlibat banyak dalam forum-forum international untuk meningkatkan perannya. Ini membuktikan bahwa penggunaan lambang dunia yang merupakan hasil istikharah itu akan selalu sesuai dengan perkembangan zaman.

Lebih jauh pengasuh pondok pesantren  Kempek Cirebon itu  menjelaskan bahwa dalam mendakwahkan Islam, NU mengikuti cara-cara yang digunakan Wali Songo yang mengedepankan akhlaq. Karena NU sendiri dalam mendakwahkan Islam juga tidak lepas dari masalah aqidah, syari’ah maupun akhlaq.

Akhlaq ini menjadi ukuran kemulyaan seseorang. Nabi Muhammad SAW itu mulia karena akhlaqnya. Para sahabat itu mulya bukan karena ilmunya tapi karena akhlaqnya. Sebab dulu cabang-cabang ilmu belum ada seperti sekarang “Namun zaman sekarang nampaknya sudah berubah orang lebih mengutamakan ilmunya dibanding akhlaqnya”.pungkasnya (Fahroji)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here