NU Kendal Kupas Tuntas Cadar dan Celana Cingkrang

0
112

Kendal, pcnukendal.com – Kontoversi pemakaian cadar dan celana cingkrang yang menyedot perhatian publik saat ini hingga rencana pemerintah yang akan melarang pemaksian cadar bagi ASN oleh sebagian masyarakat dianggap keras, dikupas tuntas dalam pengajian selapanan yang diselenggarakan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kabupaten Kendal di Graha NU Kendal, Sabtu pagi (07/12).

Moderator pengajian, Dr Jafar Baihaqi MH menyampaikan cadar dan celana cingkrang di Indonesia mulai merebak sejak tahun 1980-an sebagai fenomena kebangkitan Islam. Cadar dan celana cingkrang dianggap sebagai salah satu simbol keislaman. Namun karena adanya peristiwa ekstrem yang sering dikaitkan dengan terorisme dan radikalisme oleh orang-orang yang berpakaian cadar dan celana cingkrang sehingga menarik untuk dikaji dari segi etika, estetika, dan hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Syariat atau budaya?

Ketua PCNU Kabupaten Kendal, KH Muhammad Danial Royyan yang menjadi narasumber pengajian menyebut hukum memakai cadar dan celana cingkrang sebagai hukum yang berubah sesuai perubahan tempat dan zaman, bukan hukum tetap (qoth’i). Apakah itu termasuk syariat atau budaya?.

“Pakaian, makanan, dan minuman jika dikaitkan dengan agama dapat berarti simbol atau syiar. Pembahasan terhadap hal tersebut berubah-ubah seperti pembahasan terhadap hukum memakai celana dan dasi, dahulu pada zaman KH Hasyim Asy’ari,” katanya.

“Syariat berarti tatanan hukum atau perangkat hukum. Syàri’ atau pembuat hukum adalah Allah dan Rosulullah, Allah melalui Alquran dan Rosulullah melalui hadist. Tasyri’ adalah proses perumusan syariat. Sedangkan permasalahan cadar dan celana cingkrang termasuk furu’ul furu’ (cabang dari cabang) sehingga membahasnya nggak perlu ngotot,” jelasnya.

Urf atau ma’ruf adalah kebaikan yang sesuai dengan budaya lokal, jadi suatu budaya di suatu wilayah yang belum tentu dianggap baik di wilayah yang lain.”

“Syariat dapat dikategorikan primer (lidzatihi) dan sekunder (lighoiri dzatihi). Yang primer misal sujud saat sholat, sedangkan yang sekunder contoh duduk diantara dua sujud. Sedangkan cadar tidak diatur dalam Alquran sehingga bukan syariat secara lidzatihi. Yang ada dalam Alquran adalah jilbab. Membahas cadar harus dikaitkan dengan aurat wanita. Sedangkan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Menurut Imam Hanafi, wajah tidak termasuk aurat, sehingga tidak harus ditutupi”.

Menjawab pertanyaan mengenai sebuah hadits bahwa suara wanita termasuk aurat, KH Danial menyampaikan bahwa haram itu ada dua yaitu haromun muthlaqun dan haramun muqoyyadun. Haramun muthlaqun misalnya zina. Adapun suara wanita termasuk haromun muqoyyadun.

Jenggot, syariat atau budaya?

Menjawab adanya hadits untuk memelihara jenggot dan mencukur kumis, KH Danial menyampaikan pendapat Imam Sakdudin al-Taftazani, assunnah dalam arti hadits ada 2, yaitu sunnah yang terkait dengan ibadah dan sunnah yang tidak terkait dengan ibadah. Untuk sunnah yang terkait ibadah maka kita wajib mengikutinya. Sedangkan kehidupan Nabi sehari-hari yang tidak terkait agama seperti makan, minum, pakaian, dan kendaraan, kita tidak wajib mengikutinya tetapi lebih afdlol mengikutinya. Terkait hal ini diperlukan kearifan lokal (ma’ruf) yang diakui dan ditradisikan di suatu wilayah.

Haram berlaku Isbal

Bagi pemakai celana cingkrang atau di atas betis mereka berpegang pada suatu hadits yang mengutamakan untuk berpakaian putih dan kainnya di atas betis atau cingkrang, tidak menyentuh tanah. Sedangkan yang tidak di atas betis disebut isbal.

Pada suatu waktu Abu Bakar memakai pakaian yang kainnya tidak di atas betis tetapi sampai ke kedua mata kaki dan bertanya kepada Rosulullah, namun Rosulullah menjawab bahwa yang haram adalah yang isbal untuk kesombongan. Dari hukum muqoyyad atau klausul ini yang dimaksud haram adalah kalau untuk kesombongan seperti gaun pengantin. Dari sini dapat diambil pelajaran betapa pentingnya memahami sejarah atau asal usul sebelum membahas fiqih.

Larangan ASN Bercadar

Bagaimana mengenai adanya aturan yang melarang ASN memakai cadar?. Menurut KH Danial sah saja pemerintah mengaturnya misalnya agar tidak terjadi eksklusifisme, memudahkan untuk saling mengenal, dan menjauhkan fitnah atau cap teroris. Dalam kaidah ushul fiqih disebutkan “hukmul hakimi yarfaul khilaf” atau keputusan pemerintah menghilangkan ikhtilaf atau perbedaan. (Moh Fatkhurahman).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here