NU DAN PROBLEM INDUSTRIALISASI

0
118

 

(Studi Kasus; Industrialisasi di Kendal)

Oleh : Ali Martin

 

Setelah sekian tahun reformasi satu dasawarsa lebih berjalan, telah terjadi pula perubahan yang cukup mendasar dan signifikan, baik aspek sosial-ekonomi, sosial-budaya, sosial-politik di masyarakat Indonesia dari nasional hingga lokal atau desentralisasi di daerah. Perubahan yang akseleratif ini membawa kondisi seperti fluktuasi ekonomi, maraknya radikalisme fundamentalisme, rapuhnya akhlaq bangsa pada pelanggaran kemanusiaan, konflik sosial keagamaan, kekerasan pada perempuan dan anak, human traficking, budaya bangsa yang kurang kondusif bagi harmonisasi, hingga globalisasi perdagangan, serta berlakunya MEA di ASEAN.

Perubahan ini tidak hanya berdampak positif dan negatif saja, namun juga memberikan peluang serta tantangan bagi kita bersama. Karena hakekatnya perubahan adalah “sunatullah” sebuah keniscayaan, maka hal tersebut tidak mungkin kita tolak, termasuk bagi Nahdlatul Ulama (NU) baik individu maupun organisatoris. Hal inilah tantangan bagi NU untuk membangun kesadaran diri mempersiapkan sejak dini, menggali potensi-potensi sehingga terwujudnya kader nahdliyin yang berkualitas, tangguh, mandiri dan berdaya saing, yang juga beriman bertaqwa serta berkarakter ahlussunah wal jama’ah.

NU yang didirikan di Surabaya yang diawali dengan berdirinya Nahdlatul Tujjar merupakan organisasi sosial keagamaan kemasyarakatan, yang mempunyai fungsi mewujudkan kesejahteraan warganya di bidang keagamaan, pendidikan, kesehatan, perekonomian dan sebagainya sesuai amanat NU. Maka hal ini mencerminkan kader-kader NU yang beriman dan bertaqwa berlandaskan nilai-nilai aswaja, untuk selalu hadir dalam melindungi kaum miskin yang tidak berdaya dengan segudang problem dilingkungannya, memberdayakan kualitas kaum nahdliyin untuk mandiri, serta terpenuhinya kebutuhan dan hak-hak dasar bagi keadilan yang seringkali mendapatkan perlakuan diskriminatif.

Sebagai bagian dari organisasi kemasyarakatan dan gerakan Islam di Indonesia, NU juga harus ikut andil dan berperan serta dalam kerjasama melakukan peran-peran strategis untuk proses pembangunan baik level nasional maupun daerah. Penyiapan kader NU yang berkualitas, kompetitif daya saing, terampil, mempunyai kapasitas, kapabilitas yang mumpuni merupakan jawaban atas derasnya arus modernisasi, industrialisasi yang terus bergerak di penjuru pelosok daerah kini, tanpa terkecuali termasuk di Kabupaten Kendal. Salah satu contoh didirikannya Kawasan Industri Kendal (Kendal industrial park) di Kaliwungu Kendal, dapat dipastikan arus industrialisasi dan modernisasi cepat atau lambat bahkan sudah terlihat wujudnya dapat dipastikan akan terjadi di Kendal. Industrialisasi dan modernisasi tersebut bisa berdampak positif maupun negatif. Dengan dibukanya lapangan kerja dibutuhkan sekitar lima ribu tenaga kerja jelas membawa nilai positif kemajuan pertumbuhan ekonomi bagi warga Kendal yang diyakini mempunyai multifliyer effect, namun juga membawa dampak secara negatif dengan tergerusnya nilai-nilai kultur dan keagamaan yang sudah berjalan lama berhadapan dengan nilai-nilai modernisasi yang cenderung pragmatis dan hedonistik. Kemudian biasanya juga terjadi shock culture menurunnya kohesifitas antar warga yang selama ini berkultur Islam ahlussunah wal jama’ah

Kabupaten Kendal dengan slogan “Beribadat” merupakan daerah agraris yang bertumpu pada masyarakat pedesaan dengan pola sistem dan kultur yang berakar di masyarakat, yang notabene warga pedesaan tersebut adalah mayoritas masyarakat NU atau warga “nahdliyin”. Dari jumlah penduduk di Kendal tersebut secara statistik mayoritas adalah nahdliyin. Maka menjadi urgent apabila terjadi sesuatu hal dalam proses industrialisasi dan modernisasi yang akan tersentuh secara positif dan negatif terlebih dahulu adalah kaum nahdliyin. Apabila positif tentunya menguntungkan bagi warga NU, dan jika negatif warga NU pula yang merasakan kerugiannya. Maka melihat realitas diatas NU yang lalu dan kini yang sudah baik dan bagus ini baik nilai-nilai ajaran maupun sistem organisatoris, kedepan perlu dirumuskan kebijakan agar lebih baik lagi dalam menghadapi industrialisasi dan modernisasi yang sudah di depan mata. Dengan mengacu pada kaidah populer di NU yakni “al-mukhafadzah ’ala al-qadim al-sholih wa al-akhzu bil-jadid al-aslah” (memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik), maka beberapa langkah kebijakan yang harus dilakukan bersama antara lain.

Pertama, memperkuat kapasitas kelembagaan organisatoris NU. Struktur organisasi dan jaringan kelembagaan di lingkungan NU, mengharuskan NU untuk selalu memperkuat jaringan hingga di tingkat bawah, minimal eksistensi dan keaktifan NU hadir di lingkungan kaum nahdliyin yang membutuhkan saluran media dakwah, sosialisasi, pendampingan dan pemberdayaan di warga NU tersebut. Maka aktifitas dan program dari Cabang, MWC hingga Ranting beserta Lembaga dan Badan Otonomnya harus dapat terkordinasikan secara baik agar tidak terjadi tumpang tindih, dan mampu menyiapkan warga NU dalam menghadapi industrialisasi dan modernisasi tersebut.

Kedua, memperkuat kapasitas kader dan jamaah NU. Penguatan ini merupakan potensi besar penyiapan kader atau anggota NU yang mempunyai nilai lebih, baik kualitas, pendidikan, wawasan, keterampilan, untuk kemandirian dan daya saing bagi anggota NU, melalui pendidikan, pelatihan-pelatihan tepat guna, pemagangan dan kerjasama kolaborasi dengan instansi pihak terkait. Sehingga nantinya menjadi “tuan rumah di negeri Kendal” sendiri. Penguatan ini juga untuk menurunkan angka TKI/W (tenaga kerja indonesia/wanita) ke luar negeri yang mana Kendal dikenal urutan nomor dua se-jawa tengah sebagai pemasok TKI dan TKW ke luar negeri. Maka apabila TKI minimal kalaupun kerja ke luar negeri adalah TKI/W yang berpendidikan dan berketerampilan tinggi sehingga mendapatkan jaminan yang layak dan pekerjaan formal dengan kehidupan yang lebih baik.

Ketiga, memberdayakan lembaga dibawah NU, sebagai respon atas analisa kebutuhan warga NU serta memperkokoh gerak perjuangan organisasi di masyarakat, seperti memaksimalkan fungsi lembaga-lembaga yang mampu bersinergi dengan instansi atau lembaga lain secara equelity. Lembaga-lembaga di NU tersebut diatas merupakan garda depan bagi anggota dan jamaah untuk melakukan penguatan dan pemberdayaan agar lebih berkualitas dan mandiri.

Keempat, memperkuat dan mengembangkan nilai-nilai Islam ala ahlussunah wal jama’ah dalam setiap aktifitas organisatoris maupun kultural warga NU. Sebagai sebuah sumber nilai dan rujukan, maka penguatan dan pengembangan nilai-nilai ahlussunah wal jama’ah seperti tasamuh, tawassuth, tawazun, i’tidal dll, musti dibumikan untuk menghadang radikalisme fundamentalisme yang kini marak. Maka terwujudnya kader dan anggota NU yang Islami berakhlaqul karimah menjadi benteng keluarga dan sebagai tumpuan dalam penanaman sikap tersebut di atas, sehingga pada akhirnya dapat mempengaruhi lingkungan sekitarnya di masyarakat.

Kelima, menjalin kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak, baik eksekutif, legislatif, ormas non pemerintah dan civil society lainnya dalam pembuatan kebijakan yang pro-rakyat. Hal ini terkait program dan aktifitas yang tepat guna, bermanfaat dalam rangka penyiapan kualitas, daya saing dan kemandirian kader. Seperti pendidikan, pelatihan, workshop, pemagangan dengan instansi terkait. Lebih teknis contohnya ditindaklanjuti dengan bimbingan teknis manajemen, permodalan, distribusi, marketing dan sebagainya. Sehingga akan lahir komunitas binaan UMKM, LPK/LKP, seperti kampung tenun, kampung produsen sarung, kampung penghasil jilbab, cluster kerajinan cinderamata dan lainnya dengan komoditas produk unggulan dari warga NU di Kendal.

Dengan terwujudnya komunitas dan komoditas produk unggulan dari kader warga NU yang beriman bertaqwa, berkualitas, berdaya saing dan mandiri, maka otomatis NU secara organisatoris akan terangkat dengan sendirinya, dengan cerminan dan performance dari kader, jamaah dan anggotanya yang layak untuk disandingkan di area publik lokal, regional maupun nasional. Beberapa agenda diatas tentunya sangat membutuhkan kerjasama semua elemen organisasi untuk terlibat bersama sehingga mencapai tujuan bersama-sama. Tanpa kolektif kolegial semua elemen NU tidak dapat tercapai dan hanya diangan-angan. Maka kebersamaan, sinkronisasi dan keteguhan sikap menuju cita-cita bersama semua akan terwujud, semoga..amin.

Ali Martin ; Dosen Fisip Universitas Wahid Hasyim Semarang dan Wakil Sekretaris PC NU Kendal, kebetulan penelitian Tesis tentang Gerakan NU era Reformasi di S2 Universitas Indonesia (UI) Jakarta, kini sedang menyelesaikan Doktoral/S3 di Fisip Universitas Padjadjaran Bandung

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here