NU DAN DINAMIKA GHOZWUL FIKR : PEREBUTAN WACANA TIADA HENTI

0
30

DSCI0046

oleh : Ali Martin

Genap usia 93 tahun Nahdlatul Ulama (NU) berdiri tepatnya pada tanggal 16 Rajab dalam kalender Hijriyah, usia yang sangat cukup matang dan dewasa bagi sebuah perjalanan organisasi. Perjalanan menjelang satu abad NU telah mengalami perubahan secara akseleratif, baik lompatan prestasi maupun hiruk-pikuk kegaduhan di internal NU sendiri.

Sejak berdirinya hingga abad reformasi kekinian, republik NU beserta dinamika sosio culture politic yang melingkupinya selalu menampilkan beragam wajah dengan setting kekuasaan dan kebangsaan yang berlaku pula pada setiap rezim. Bermacam pengamat dan para Indonesianis dari sederet nama Mitsuo Nakamura, Martin van Bruinessen, Ben Anderson, Douglas Ramage, Greg Barton, Greg Fealy hingga Andree Feillard (yang sering berkunjung ke Kendal), tak henti-hentinya mengamati dan mencandra tentang NU.

Berbagai wacana dan label juga telah ditempelkan terhadap NU dengan beragam istilah seperti oportunis, tradisional, Islam moderat, civil society, maupun tradisionalis radikal. (Nakamura;1997).

Eksotisme NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah, dengan basis massa terbesar di Indonesia merupakan fenomena dengan wacana yang sangat menarik untuk diamati. Hal ini setidaknya menurut penulis beberapa hal yang mendasarinya, pertama, NU merupakan ormas Islam yang ditasbihkan sebagai kelompok tradisional baik kemasyarakatan (socio-culture) maupun pemikiran keagamaannya (van bruinessen;1994), NU juga tidak hanya menjadi organisasi dakwah sebuah komunitas religius yang menampilkan diri sebagai moral force (kekuatan moral), tetapi juga NU secara tidak langsung bisa menampakkan diri sebagai political force (kekuatan politik), yang ikut mewarnai panggung politik kebangsaan Indonesia.

Kedua, transformasi yang terjadi di NU tidak seperti pada organisasi keagamaan lainnya, dengan transformasi yang radikal bahkan cenderung frontal namun tetap signifikan dengan melandaskan kaidah fiqhiyah ditengah lajunya demokratisasi di Indonesia.

 Ketiga, sejak didirikan NU mempunyai kaidah-kaidah keagamaan yang mendasari berdirinya NU, sehingga mampu menjadi peran vital dalam perjalanannya di tengah gemuruhnya pertarungan pemikiran dan wacana (ghozwul fikr) yang terjadi dan berkembang dari saat dahulu tahun 1926 hingga sekarang ini.

Dalam gerakan NU yang menampakkan performance yang tidak konstan tersebut, secara fiqhiyah yang intelektual dan argumentatif mempunyai pijakan yang jelas. Kaidah populer di kalangan nahdliyin tasamuh, tawasuth, tawazun dan i’tidal juga seperti “al-mukhafadzah ’ala al-qadim al-sholih wa al-akhzu bil-jadid al-aslah” (memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik) dan “mâ la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu” (jika tidak bisa meraih semuanya, jangan tinggalkan semuanya) seringkali menjadi pedoman dalam keputusannya, meskipun dilanjutkan dengan breakdown melalui mekanisme organisasi yang baku seperti muktamar, konbes, munas dan sebagainya. (haidar;1998)

Berdasar realitas di atas historiografi lintasan sejarah dapat dipetakan yaitu pertama, periode yang dibidani para ulama pesantren lebih sebagai gerakan keagamaan Islam ala ahlussunah wal jamaah yang berbasiskan pesantren sebagai penggerak Islamisasi massa pedesaan. Dimana realitas global dipenuhi dengan imperialisme, kolonialisme di satu sisi berhadapan dengan nasionalisme juga Pan-Islamisme di pihak lain, serta wahabisme yang tampil di Saudi Arabia. Maka komite Hijaz muncul sebagai jawaban terobosan terhadap realitas tersebut.

Bahkan berikutnya para ulama dengan sadar menunjukkan komitmen ke-Nusantaraan tersebut, seperti penetapan Indonesia (nusantara) sebagai darussalam bukan dar al-Islam pada Muktamar NU ke-15 di Menes Banten tahun 1938.

Komitmen selanjutnya dikeluarkannya Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI, hingga penghargaan kepada Soekarno dengan kaidah waliyyul amri ad-dlaruri bis-syaukah pada saat itu, serta kesepakatan Piagam Jakarta yang merupakan komitmen terhadap keutuhan NKRI.

Periode kedua NU mengalami diversifikasi wacana dan gerakan yang didominasi para santri-aktivis politik dengan melakukan gerakan politik praktis (structural oriented). Melalui muktamar di Palembang dengan metamorfosis mengubah “jenis kelamin” NU menjadi partai politik, yakni Partai NU, yang sebelumnya bergabung di Masyumi.

Pertarungan wacana Islam versus nasionalisme sekuler berlanjut di Konstituante. Sampai kemudian harmonisasi pada kasus Demokrasi Terpimpin, Nasakom dan pemberlakuan azas tunggal Pancasila.

Di periode ketiga melalui muktamar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984 ditandai dengan “khittah”. Sebagai rumusan harmonisasi nilai-nilai ajaran Islam dalam konteks kebangsaan dan ke Indonesiaan. Semaraknya wacana khittah dalam satu dasawarsa cukup memberi angin segar bagi generasi baru NU.

Dan pasca khittah terjadi depolitisasi formal yang telah membawa NU ke arah gerakan politik kultural (cultural oriented), yang diperankan oleh genre pembaharu yang diback up oleh para ulama karismatik. Implementasi khittah yang cenderung dimaknai “tafsir bebas” oleh sebagian kalangan NU saat itu terderivasikan pada gerakan politik kultural, yang kemudian hari menimbulkan problem konflik internal berujung pada polarisasi aspirasi politik NU dalam partai politik yang ada saat itu yakni PPP, Golkar dan PDI.

Keterlibatan lebih jauh dalam ranah politik ini membawa konsekuensi yang cukup memprihatinkan. Saat itu NU mengalami marginalisasi, namun ternyata juga membawa blessing in disguese dalam gerakan kultural NU untuk lebih concern pada proses kaderisasi internal. Peran sebagai organisasi dakwah, keagamaan, pendidikan dan transformasi menjadi civil society yang cukup disegani ditengah kuatnya arus demokratisasi.

Di era reformasi yang disebut periode keempat ini, NU melakukan ijtihad politik dengan menampilkan kedua gerakan secara komplementer baik kultural oleh NU, maupun struktural dengan mendirikan sekoci PKB, yang lalu menyusul partai lainnya PNU, PKU dan Partai SUNI, sebagai counter hegemony dan tafsir bebas khittah atas Islam ahlussunah wal jamaah yang dilakukan oleh elite NU saat itu.

Pergeseran politik NU tersebut sebagai wujud reorientasi dan keputusan politik terhadap interaksi dan kepentingan-kepentingan yang dikompromikan (David E. Apter;1992), sesuai yang dipahami dan dilakukan oleh para aktor yang mendominasinya (weberian theory).

Hingga kemudian gerakan NU dan poros tengah yang mengantarkan Gus Dur ke kursi presiden meski tidak sampai akhir periode, ternyata membawa ekses yang besar pada gerakan NU.

Mundurnya Gus Dur dari tampuk kekuasaan membawa pekerjaan rumah dan menyadarkan warga NU untuk selalu concern dan komitmen kepada pemberdayaan warganya dibidang keagamaan, pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Dengan berbagai model pemberdayaan harus dilakukan untuk menyiapkan kader dan warga NU mengahadapi melinium global tersebut.

Pada milenium global ini pula pertarungan wacana dan pemikiran muncul kembali baik fundamentalisme, radikalisme dan juga liberalisme di semua kalangan, tanpa terkecuali di kalangan warga NU. Ketegangan-ketegangan lokal berkelindan dengan ketegangan global membawa wajah nahdliyin yang tergerus dan terpetakan satu sama lainnya dengan berbagai argumentasi.

Radikalisme, fundamentalisme mengharu-biru dalam kancah lokal-global, diiringi liberalisme yang terus merangsek ke segala penjuru bumi. Diakui ataupun tidak, sedikit atau banyak warga NU masuk dalam ghozwul fikr pusaran pertarungan tersebut.

Tanpa sadar ghozwul fikr dan perebutan wacana tidak akan berhenti dan akan terulang kembali dengan lokus dan nilai-nilai ideologisnya masing-masing. Tugas organisasi NU adalah memberikan guidence kepada warganya sesuai road map cita-cita untuk berdirinya NU yang tercantum dalam qonun asasi Hadratussyeikh mbah Hasyim Asyari.

Dengan merujuk kembali ke cita-cita awal berdirinya NU, insya Allah mabadi’ khoiru ummah bisa terwujudkan sesuai situasi kondisi sekarang ini, apabila keluarga besar nahdliyin tidak melupakan cita-cita awal para pendirinya. Semoga.

“penulis : Ali Martin, M.Si, “Dosen Fisip Universitas Wahid Hasyim Semarang. Wakil Sekretaris PC NU Kendal. PW Lakpesdam NU Jateng. Kebetulan penelitian Tesis tentang Gerakan NU era Reformasi di S2 Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Kini sedang menyelesaikan Doktoral/S3 di Fisip Universitas Padjadjaran Bandung.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here