“NGURI-URI” BUDAYA GOTONG ROYONG

0
140

IMG-20160406-WA0015_resized

Patebon, NUKendal Online .Budaya gotong royong yang dimiliki bangsa Indonesia adalah warisan dari nenek moyang yang  wajib kita jaga dan dilestarikan. Menjaga dan melestarikan yang dalam bahasa Jawa sering disebut “Nguri-uri” nampaknya sudah menjadi kebutuhan kita bersama. Adanya upaya “Nguri-uri” budaya gotong royong sesungguhnya mengisyaratkan bahwa telah terjadi penurunan nilai-nilai kebersamaan atau semangat gotong royong.

Di zaman modern dimana fasilitas serba tercukupi, tradisi gotong royong memang terlihat  semakin terkikis dan luntur oleh kemajuan tehnologi. Masuknya  budaya barat yang mengedepankan liberalisme, hedonisme dan materialisme, ditengarai menjadi salah satu faktor pemicunya. Merasa mampu, bisa mencukupi kebutuhan dan menyelesaikan urusan pribadi barangkali merupakan salah satu sikap yang ikut berperan mengkikis budaya gotong royong di masyarakat.

IMG-20160406-WA0016_resized

Meskipun budaya gotong royong semakin luntur tergerus perkembangan jaman, namun di kehidupan masyarakat desa budaya gotong royong  masih ada dan relatif lebih baik dibanding masyarakat perkotaan. Masyarakat pedesaan yang rata-rata didominasi warga nahdliyin dalam hal ini menjadi pelestari budaya gotong royong.

Di desa Jambearum kecamatan Patebon misalnya, budaya gotong royong di sana ternyata masih ada. Masyarakat Jambearum yang secara geografis dekat dengan ibukota kabupaten Kendal ternyata masih “nguri-uri” budaya gotong royong  Hal itu terlihat ketika warga NU di Jambearum melakukan kegiatan gotong royong memperbaiki gedung madrasah.

Belum lama ini di dukuh Bulak RT 2 RW 5 desa Jambearum diadakan gotong royong oleh warga NU ranting Jambearum. Gotong royong dilakukan untuk memugar dan mengalih fungsi dari gedung madrasah menjadi gedung majelis taklim sekaligus balai pertemuan NU desa Jambearum.

Gotong royong tidak hanya dalam bentuk fisik dan tenaga. Untuk merehap gedung tersebut warga NU Jambearum juga gotong royong dalam menanggung beban material. Tidak kurang dari 13 Juta terkumpul dari swadaya murni warga NU setempat.

Tidak hanya warga NU  Jambearum yang terlibat dalam gotong royong itu. Warga NU desa sebelah seperti Kumpulrejo juga ada yang ikut berpartisipasi. Abdul Hamid, wakil ketua Ranting NU desa Kumpulrejo merasa ikut terpanggil untuk ikut bergotong royong dalam rehap gedung tersebut.

Menurut cerita Abdul Hamid, gedung itu dulu merupakan gedung madrasah. Karena madrasah sudah pindah ke lokasi yang lebih luas dan gedung baru, maka agar yang wakaf tetap mendapatkan manfaat, gedung tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi gedung majelis ta’lim dan balai pertemuan NU ranting Jambearum.

Abdul Hamid sendiri merasa terpanggil untuk berpartisipasi dan tahu banyak sejarah gedung itu karena tanah yang dibangun adalah wakaf dari sesepuhnya.

“Secara administrasi saya sudah tidak ikut didalamnya. Sekedar partisipasi saja. Hitung-hitung ikut nguri-uri tinggalan sesepuh dan ikut melestarikan budaya gotong -royong”. ungkapnya mengakhiri cerita kepada NU Kendal Online. (H Made/Fahroji)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here