Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (61)‎

0
9

Nadhim berkata dalam nadham-nya:

وَاحْبُبْ لأَهْلِ الدِّيْنِ رُدَّ سَلاَمَهُمْ * عُوْدَنَّ مَرْضَى صَلِّ مَوْتَى أَسْلَمُوْا

Cintailah ahli agama, jawablah salam mereka, kunjungilah orang yang sakit, salatilah orang muslim yang mati.

Pada bait ini nadhim hanya memberitahukan empat macam cabang iman yang selanjutnya, yaitu:

61. Mencintai ahli agama

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ سَرَّهُ اَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ وَلْيَأْتِ اِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ اَنْ يُؤْتَى اِلَيْهِ

Barangsiapa senang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah berupaya agar ketika mati dalam keadaan bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan suka berkunjung sebagaimana ia senang untuk dikunjungi.

Sabda Rasulullah saw riwayat Anas ra:

اَكْثِرُوْا مِنَ الْمَعَارِفِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ؛ فَاِنَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ شَفَاعَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Perbanyaklah kenalan dengan orang mukmin, karena sesungguhnya setiap orang mukmin mempunyai syafaat (pertolongan) di sisi Allah pada hari kiamat.

Rasulullah saw bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَآدِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ ؛ اِذَا اشْتَكَى عُضْوٌ مِنْهُ تَدَاعَى سَائِرُهُ بِالْحُمَى وَالسَّهَرِ

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kesayangan mereka adalah seperti tubuh. Jika salah satu anggota tubuh mengaduh, maka anggota tubuh lainnya saling memanggil dengan sakit panas dan tidak dapat tidur.

Rasulullah saw bersabda:

اِدْخَالُ السُّرُوْرِ فِى قَلْبِ مُؤْمِنٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّيْنَ سَنَةً

Membuat kesenangan di hati seorang mukmin adalah lebih baik pahalanya dari pada ibadah enam puluh tahun.

Melebihkan penghormatan terhadap seseorang yang sikap dan pakaiannya menunjukkan ketinggian kedudukannya di masyarakat daripada lainnya adalah pantas, sehingga dapat menempatkan seseorang pada kedudukannya yang layak.

Dalam suatu perjalanan Sayyidatina Aisyah singgah di tempat persinggahan dan menyiapkan makanan. Kemudian seorang pengemis datang dan beliau berkata: Berilah pengemis itu uang satu sen. Sesudah itu ada seseorang yang naik kendaraan lewat, lalu Sayyidatina Aisyah ra berkata: Ajaklah ia untuk ikut makan. Beliau ditanya oleh para sahabat: Tuan putri telah memberi pengemis yang miskin tadi uang satu sen dan mengundang orang yang kaya untuk ikut makan? Beliau menjawabb: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menempatkan manusia pada tempat mereka masing-masing. Oleh karena itu, kita harus menempatkan mereka pada tempat mereka yang layak. Pengemis yang miskin tadi sudah rela dengan pemberian uang sebanyak satu sen, tetapi buruk bagi kita untuk memberi orang yang keadaannya seperti orang kaya tadi dengan uang satu sen.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here