Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (60)‎

0
25

Nadhim berkata dalam nadham-nya:

وَاحْفَظْ حُقُوْقَ الأَهْلِ وَالأَوْلَادْ  #  أَنْفِقْ وَعَلِّمْهُمْ فَذَاكَ مُحَتَّمُ

Jagalah hak-hak keluarga dan anak. Berikanlah nafkah dan didiklah mereka. Karena sesungguhnya hal tersebut adalah wajib hukumnya.

Pada bait ini nadhim hanya memberitahukan satu macam cabang iman yang selanjutnya, yaitu:

60. Menjaga hak keluarga dan anak

Maksudnya adalah menjaga hak-hak istri dan anak. Wajib bagi seorang suami untuk memberikan nafkah kepada istrinya dengan cara melengkapi kebutuhan-kebutuhan yang ia perlukan sesuai dengan kemampuan yang ia milki. Oleh karena itu, intensitas dari kemampuan yang dimiliki oleh seorang suami bersifat relatif (jika dibandingkan dengan orang lain). Bisa saja banyak dan bisa juga sedikit, tergantung pada kesulitan dan kemudahan dalam melengkapi kebutuhan tersebut.

Janganlah seorang suami tidak memberikan nafkah istrinya yang sebelumnya belum ia berikan, karena nafkah yang belum ia berikan tersebut merupakan hutang baginya. Karena bahwasanya nafkah seorang istri merupakan bekal untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Hal ini berbeda dengan nafkah yang diberikan kepada kerabat yang bersifat untuk saling membantu saja.

Selain kewajiban memberikan nafkah, seorang suami juga berkewajiban untuk mendidik dan mengajarkan ilmu yang diperlukan oleh istrinya, seperti fardlu-fardlu ibadah dan sunah-sunahnya seperti bersuci, salat, zakat, puasa, haji, hal-hal yang berhubungan dengan masalah haid (menstruasi) dengan memberitahukan bahwa ketika sedang haid tidak mengapa ia meninggalkan salat, dan hal-hal lainnya yang bersangkutan dengan haqullah (hak-hak Allah).

Berbeda dengan Ibnu Al-Baraziy yang mengatakan bahwa hal ini hanya sebatas pada perintah yang bersangkutan dengan hak-hak diri (istri), seperti menjaga dirinya (istri) dari laki-laki lain, menutup bagian-bagian tubuh dari pandangan laki-laki lain, yaitu bagian tubuh yang haram untuk dilihat, tidak meminta bantuan laki-laki lain diluar kebutuhan, dan menjaga diri dari memperoleh harta yang haram. Oleh karena itu, diperbolehkan memberikan hukuman untuk istri jika memang ia melanggarnya.

Suami berkewajiban mengajarkan istrinya tentang kewajibannya untuk taat kepada suami selain dalam hal maksiat, dan memberitahukan tentang keharaman berbohong tentang kapan masa haidnya dan kapan berakhirnya.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here