Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (6-8)

0
40

Nadhim berkata dalam nadhom-nya,

والبَعْثِ والقَدَرِ الجَلِيْلِ وجَمْعِنا  #     في مَحْشَرٍ فيْه الخَلائِقُ تَحْشَمُ

Dan berimanlah pada pembangkitan (dari kematian), taqdir yang agung dan berkumpulnya kita di padang makhsyar, dan di sana semua mahluk akan merasa malu.

6. Iman pada kebangkitan orang mati:

Kita wajib beriman bahwa sesungguhnya Alloh SWT akan membangkitkan atau menghidupkan semua mahluk yang sudah mati, baik yang dikubur, mati tenggelam, atau sebab lainnya. Menurut pendapat yang disepakati oleh seluruh ulama, yang dibangkitkan adalah wujud dari badan dan bukan yang semisal dari badan ini. Dalam surat At-Taghabun ayat 7 Alloh SWT berfirman:

زَعَمَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا اَنْ لَنْ يُبْعَثُوْا قُلْ بَلَى وَرَبِّى لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ (٧)

Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh”. (QS. At-Taghabun: 7)

7. Iman pada qadar (taqdir)

Yaitu yakin dan percaya bahwa Alloh menciptakan mahluk-mahluk-Nya disesuaikan dengan sesuatu (taqdir) yang sudah lampau, dan Alloh telah mengetahui sebelumnya. Maka semua perbuatan dan aktivitas mahluk-mahluk-Nya merupakan taqdir Alloh SWT. Oleh karena itu hendaknya para manusia ikhlas dan menerima segala apa yang sudah menjadi qadha’ Alloh.

Diceritakan oleh Syekh Afifuddin Az-Zahid, ia sedang berada di negara Mesir. Ia mengadukan tentang peristiwa yang telah terjadi di Bagdad. Peristiwa itu adalah pembunuhan orang-orang kafir terhadap orang-orang muslim hingga ia porak-poranda dan mengalami masa keruntuhan. Selama tiga tahun setengah kota Bagdad lengang tanpa seorang Khalifah. Orang-orang kafir mengalungkan mushaf-mushaf (Alquran) di leher anjing dan membuang buku-buku para imam ke sungai Dajlah sehingga tumpukan-tumpukan buku tersebut menjadi sebuah jembatan yang bisa dilewati oleh kuda-kuda. Ia pun sangat geram dan mengutuk keras peristiwa itu. Ia berkata, “Ya Tuhan, bagaimana hal ini bisa terjadi, sedangkan di dalamnya terdapat banyak anak-anak dan orang-orang yang tak berdosa”. Kemudian ia bermimpi ada seorang laki-laki yang membawa sebuah buku. Ia pun mengambil buku itu dari tangan laki-laki tersebut. Kemudian ia menemukan di dalamnya sebagaimana yang ada pada dua bait nadhom yang menggunakan bahr al-mutaqarib berikut:

دَعِ الإِعْتِرَاضَ فَمَا الأَمْرُ لَـكَ * وَلاَ الْحُكْمُ فِى حَرَكَاتِ الْفَلَكِ
وَلاَ تَسْـأَلِ اللهَ عَنْ فِعْلِــهِ * فَمَنْ خَـاضَ لُجَّةَ بَحْـرٍ هَلَكَ

Tinggalkanlah (kebiasaan suka) berkomentar atau membantah, niscaya kamu tidak akan menemui masalah pada dirimu dan tidak akan pernah ada hukum yang menjerat perjalanan lintasan hidupmu.
Dan janganlah sekali-kali kamu bertanya kepada Alloh mengenai apa yang telah Alloh kerjakan (tetapkan). Oleh karena itu barang siapa masuk ke dalam palung lautan yang dalam, maka  ia akan rusak (tenggelam).

8. Iman pada hari dikumpulkannya manusia di Padang Makhsyar

Yaitu beriman dan percaya bahwa kelak setelah proses pembangkitan (dari mati) semua mahluk akan digiring dan dikumpulkan di tanah makhsyar. Yaitu tempat pemberhentian akhir para mahluk setelah digiring. Tempat ini berupa hamparan tanah datar yang berwarna putih. Tanah lapang ini berbentuk rata tanpa ada bagian yang berstruktur cembung (tinggi tanahnya) yang bisa dipakai untuk bersembunyi dan tidak ada yang berbentuk cekung (rendah tanahnya) yang bisa dipakai untuk berlindung dari pengawasan-pengawasan yang ada.

Manusia akan digiring ke Padang Mahsyar secara berombongan sesuai tingkatannya, diantaranya yaitu:

  1. Golongan yang menaiki kendaraan, yaitu orang-orang yang bertakwa.
  2. Golongan yang berjalan kaki, yaitu orang-orang yang mempunyai amal baik sedikit.
  3. Golongan yang berjalan menggunakan wajahnya sebagai alas, itu adalah orang-orang kafir.

Setelah mereka berkumpul di Padang Makhsyar, kemudian mereka bubar menuju surga ataupun neraka dan melewati jembatan shiroth al-mustaqim.

Adapun umat dari Nabi Muhammad SAW akan terbagi menjadi tujuh macam golongan, yaitu orang-orang yang jujur, orang-orang yang berilmu agama (alim), para wali pengganti (wali abdal), para syuhada (yang berjihad dan mati di jalan Alloh), para haji (mabrur), orang-orang yang taat (pada perintah dan hukum Alloh), dan orang-orang yang suka melakukan maksiat.

  1. Untuk orang-orang jujur akan melewati jembatan shiroth al-mustaqim seperti kilat yang menyambar.
  2. Untuk para ilmuan agama akan melewati jembatan shirath al-mustaqim seperti angin yang bertiup.
  3. Untuk para wali pengganti akan melewati jembatan shiroth al-mustaqim seperti burung yang terbang dalam jangka waktu beberapa jam saja.
  4. Untuk para syuhada akan melewati jembatan shirath al-mustaqim seperti kuda pacuan yang berlari di tengah hari.
  5. Untuk para haji (mabrur) akan melewati jembatan shirath al-mustaqim hanya dalam jangka waktu satu hari saja.
  6. Untuk orang-orang yang bertakwa akan melewati jembatan shirath al-mustaqim dalam waktu satu bulan saja.
  7. Sedangkan untuk orang-orang yang suka melakukan maksiat, kaki-kaki mereka akan diletakkan di atas jembatan shirath al-mustaqim.

Diletakkanlah dosa-dosa mereka di atas punggung mereka dan mereka pun menyeberang menuju neraka yang panasnya api neraka menyala-nyala menyambar mereka. Dan ketika itu api neraka melihat cahaya iman di dalam hati mereka seraya berkata, “Silahkan engkau berjalan lebih dulu wahai orang yang beriman, karena cahaya imanmu bisa meredam panasnya api neraka.

Keterangan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Muhammad Al-Hamdaniy.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here