Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (58)‎

0
12

Nadhim berkata dalam nadham-nya:

(أَحْسِنْ لِقِنِّكَ فَاعْفُ عَنْهُ وَعَلِّمَنْ       وَإِطَاعَةُ السَّادَاتِ عَبْدًا تَلْزَمُ)

Berbuat baiklah kepada budak-budakmu, maafkan dan ajarkanlah dia (tentang masalah agama). Dan wajib bagi budak untuk taat kepada tuannya.

Pada bait ini nadhim memberitahukan 2 macam cabang iman yang selanjutnya, yaitu:

58. Berbuat baik kepada para budak, memaafkan mereka dan mengajarkan mereka tentang masalah agama

Kewajiban terhadap budak:

  • Berbuat baik kepadanya
  • Memaafkan kesalahannya
  • Mengajarkan hal agama yang wajib diketahui olehnya
  • Memberi nafkah menurut kadar kecukupannya
  • Memperhatikan hal yang disenangi dan dibenci olehnya
  • Memberi istirahat kepadanya pada musim panas dan waktu tidur siang

Rasulullah SAW bersabda:

لِلْمَمْلُوْكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ بِالْمَعْرُوْفِ وَلاَ يُكَلَّفُ مِنَ الْعَمَلِ مَا لاَ يُطِيْقُ

Berikan makan dan pakaian yang layak pada para budak, dan janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak ia sanggupi.

مَنْ لَطَمَ مَمْلُوْكَهُ اَوْ ضَرَبَهُ فِى غَيْرِ تَعْلِيْمٍ وَتَأْدِيْبٍ فَكَفَّارَتُهُ اَنْ يَعْتِقَهُ

Barang siapa yang menempeleng atau memukul budaknya bukan karena untuk mendidik atau mengajar mereka, maka ia mendapatkan kafarat (denda) yang berupa memerdekakan mereka.

Maksudnya yaitu, barang siapa yang memukul budaknya baik itu dibagian wajahnya atau bagian yang lain bukan karena untuk mendidik atau mengajar mereka, maka ia mendapatkan kafarat (denda) yang berupa memerdekakan mereka. Menurut ijma’ (kesepakatan para ulama) hukum kafarat ini adalah sunah, bukan wajib. Adapun memukul wajah adalah haram hukumnya, sekalipun dengan alasan untuk mendidik.

Rasulullah SAW bersabda:

عن علي رضي الله عنه قال كان آخر كلام رسول الله صلى الله عليه وسلم : وْصِيْكُمْ بِالصَّلاَةِ وَاتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ

Diriwayatkan dari Ali ra ia berkata: Perkataan terakhir Rasulullah SAW yaitu: “Aku wasiatkan kepada kalian semua untuk (selalu) mengerjakan salat dan bertakwalah kepada Allah dalam (memperlakukan) tangan kanan (pembantu dan budak) yang kalian miliki”.

عن أبي هريرة : لاَ يَقُوْلَنَّ اَحَدُكُمْ “عَبْدِى وَاَمَتِى” . كُلُّكُمْ عَبِيْدُ اللهِ وَكُلُّ نِسَاءِكُمْ اِمَاءُ اللهِ ؛ وَلكِنْ لِيَقُلْ “غُلاَمِى وَجَارِيَتِى وَفَتَايَ وَفَتَاتِى”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah: Janganlah salah satu di antara kalian mengatakan “Hambaku!, Budakku! dan umatku!”. Sesungguhnya kalian semua adalah hamba-hamba (laki-laki) Allah. Perempuan-perempuan (istri) kalian sesungguhnya adalah hamba-hamba (perempuan) Allah. Akan tetapi janganlah kalian mengatakan “Pembantuku!, Budakku!, Hambaku! (laki-laki dan perempuan)”.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here