Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (51‎-52)

0
13

51. Memutuskan (hukum) perkara antar sesama dengan adil

Allah SWT berfirman:

إِذْ دَخَلُوا عَلَى دَاوُدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوا لا تَخَفْ خَصْمَانِ بَغَى بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَى سَوَاءِ الصِّرَاطِ (٢٢)

Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka, mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut. (Kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain. Maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (QS. Shaad: 22)

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأنْفَ بِالأنْفِ وَالأذُنَ بِالأذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (٤٥)

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 45)

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ حَكَمَ بَيْنَ اثْنَيْنِ تَحَاكَمَا اِلَيْهِ وَارْتَضَيَاهُ ، فَلَمْ يَقْضِ بَيْنَهُمَا بِالْحَقِّ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ

Barang siapa yang memutuskan (hukum) perkara dua orang yang sedang berselisih dan mereka mempercayakan permasalahan tersebut kepadanya, namun ia tidak mengadilinya dengan baik dan benar, maka ia akan mendapat laknat Allah SWT.

52. Memerintahkan untuk melakuakan kebaikan dan mencegah dari kemungkaran (Amar makruf nahi mungkar)

Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٤)

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104)

Syekh Muhyiddin Al-Nawawi memberikan penjelasan mengenai firman Allah SWT berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٠٥)

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah: 105)

Ayat ini mengatakan bahwa orang yang tertipu oleh kesesatan adalah kebanyakan dari orang-orang bodoh. Mereka membawa kesesatan tersebut kepada yang lainnya. Namun maksud yang sebenarnya dari ayat ini yaitu: Jika kamu mengerjakan apa yang telah diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, niscaya kesesatan tidak akan dapat menyesatkanmu. Di antara perintah tersebut yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar (memerintahkan untuk berbuat baik dan mencegah dari perbuatan jelek). Adapun ayat lain yang semakna dan berhubungan dengan penjelasan ini yaitu:

مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ (٩٩)

Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan. (QS. Al-Maidah: 99)

Muhammad ibnu Tamam mengatakan bahwa bahwa nasihat adalah pasukan tentara Allah. Perumpamaannya layaknya seperti tanah liat yang dilemparkan kedinding. Jika seseorang mampu menahannya dari hujaman tanah liat tersebut, maka ia akan mendapatkan manfaat (tembok itu tidak akan kotor). Namun jika ia membiarkannya saja, niscaya tembok tersebut akan berbekas (kotor akibat tanah liat yang dilemparkan).

Sulaiman Al-Khowash mengatakan bahwa barang siapa yang memberikan nasehat kepada saudaranya dalam empat mata, maka ia benar-benar telah memberikannya nasehat. Dan barang siapa yang memberikan nasehat kepada saudaranya di hadapan umum, maka ia telah mencelanya.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here