Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (50)‎

0
16

Nadhim berkata dalam nadham-nya:

(أَمْسِكْ حَبِيْبِيْ مَا عليه جَمَاعَةٌ  #  وَاحْكُمْ بِعَدْلٍ وَانْهُ مَا هو مَأْثَمُ)

(وَأْمُرَ بِمَعْرُوْفٍ وَأَنْتَ أَعِنْهُمُ  #  جِدًّا على بِرٍّ وَتَقْوَى تُكْرَمُ)

Peganglah bersama-sama apa yang ada padanya (agama Islam) wahai kekasihku. Hukumilah dengan adil. Cegahlah perkara yang mengandung dosa dan perintahkanlah kebaikan-kebaikan.

Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa. Niscaya kalian akan dimuliakan di sisi Allah dan manusia.

Pada kedua bait ini nadhim memberitahukan 4 macam cabang iman yang selanjutnya, sebagai berikut:

50. Berpegang teguh pada apa saja yang disepakati jamaah

Maksudnya adalah berpegang pada apa yang ada pada agama Islam dengan berjamaah (bersama-sama), yaitu sesama muslim. Seorang muslim bisa dikatakan sebagai jamaah. Sebagaimana yang dikatakan oleh guru kita Ahmad An-Nahrawiy. Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠٣)

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali ‘Imran: 103)

Dan Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ اِلاَّ بِاِحْدَى مِنْ ثَلاَثٍ : اَلثَّيِّبُ الزَّانِى وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

Tidak dihalalkan darah seorang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga hal, yaitu janda (orang yang pernah nikah) yang berzina, membunuh orang dengan sengaja, dan orang yang meninggalkan agamanya dan meninggalkan jamaah.

Maksudnya adalah tidak diperbolehkan membunuh seorang muslim dengan sengaja, kecuali jika ia melakukan salah satu dari tiga hal sebagai berikut:

  1. Tsayyib (pernah nikah) yang berzina. Yang dimaksud Tsayyib di sini adalah seorang yang merdeka, baligh dan berakal sehat, baik yang menyetubuhi atau yang disetubuhi kamaluannya, yang mana pernikahan sebelumnya adalah pernikahan yang sah. Maka ia wajib dirajam (dilempar) dengan batu sampai mati.
  2. Seorang pembunuh. Maka ia mendapatkan qishash yang berupa hukuman mati. Dalam hal ini terdapat beberapa syarat yang sudah dijelaskan dalam ilmu fiqih.
  3. Orang yang meninggalkan Islam yang meninggalkan umat muslim. Adapun hal ini disebut dengan murtad. Seakan-akan ia menghina Nabi, Malaikat atau bahkan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ اَحْدَثَ فِى اَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang mengada-ada tentang perkara kita (umat Islam) dan perkara ini bukan berasal darinya (Islam), maka ia benar-benar telah murtad.

Maksudnya yaitu barang siapa yang membawa perkara baru di dalam agama Islam yang mana perkara tersebut bukan berasal darinya (agama Islam), maka ia telah dianggap sebagai orang yang melakukan perkara batil (salah).

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here