Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (49)‎

0
28

49. Taat kepada ulil amri (penguasa) jika sesuai dengan kaidah syariat Islam

Maksudnya adalah menaati perintah-perintah dan larangan-larangannya yang berlaku berdasarkan undang-undang yang ada. Begitu juga wajib taat kepada semua peraturan secara lahir dan batin. Sebagaimana firman Allah SWT:

يَآَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’: 59)

Yang dimaksud dengan ulil amri adalah para ulama dan pemerintah sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

مَنْ اَطَاعَ اَمِيْرِى فَقَدْ اَطَاعَنِى وَمَنْ عَصَى اَمِيْرِى فَقَدْ عَصَانِى

Barang siapa yang mentaati perintahku, maka ia benar-benar telah taat kepadaku. Dan barang siapa yang mendurhakai (menentang) perintahku, maka ia benar-benar telah durhaka kepadaku.

Akan tetapi taat di sini bukan dalam perkara haram dan makruh. Sedangkan ketika dalam perkara yang mubah, jika perkara tersebut mengandung kemaslahatan umum bagi umat muslim, maka wajib menaatinya. Sebaliknya jika tidak ada kemaslahatan umum bagi umat muslim di dalamnya, maka tidak boleh ditaati.

Oleh karena itu, jika diajak untuk meniadakan kebiasaan merokok, yang mana merokok adalah perkara yang sekarang sudah banyak dikenal, maka wajib menaatinya. Mengapa demikian? Karena peniadaan kebiasaan merokok tersebut mengandung kemaslahatan umum. Jika tidak dilakukan maka akan menimbulkan kerugian bagi pelakunya sendiri dan orang lain. Demikianlah yang disampaikan oleh Imam Al-Bajuriy.

Huruf wau yang terdapat pada kata وَأُولِي dalam bait ini tidak termasuk ke dalam wazan (patokan bahr kamil yang dipakai dalam nadham buku ini, yaitu dengan rumus enam kali kata متفاعلن), karena huruf wau tersebut berkedudukan sebagai huruf tambahan saja untuk membedakan dengan huruf jar “الى” ketika dalam keadaan i’rab nashab dan jar. Adapun ketika dalam keadaan i’rab rafa’, maka dikembalikan pada bentuk awalnya, karena tidak terdapat kesamaan antara الى dan أولو yang ber-i’rab rafa’.

Kata أَطِعْهُمُ pada bait ini dibaca dengan huruf mim yang ber-harakat dhammah dengan bacaan isyba’.

Kata لاَ تَجْرِمُ dalam bait ini termasuk ke dalam babnya ضرب. Maksud dari kata ini yaitu ketika kamu menaati pemerintah, niscaya kamu tidak akan mendapatkan dosa.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here