Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (47)‎

0
15

47. Bertaubat

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٨)

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At-Tahrim: 8)

Adapun makna dari نَصُوح adalah murni karena Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda:

اَلتَّائِبُ حَبِيْبُ اللهِ وَالتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah. Orang yang bertaubat dari dosa itu seperti orang yang tidak mempunyai dosa.

Dari berbagai pengertian tentang taubat, terdapat satu pengertian yang mengatakan bahwa taubat adalah meninggalkan kemaksiatan dengan cara menjaga diri dari hal-hal maksiat dan berkomitmen untuk meninggalkannya dimasa mendatang atau pun memperbaiki kelalaian (berbuat maksiat) yang dulu pernah dilakukan. Dan tidak diragukan lagi bahwa hal ini sangatlah diwajibkan.

Adapun menyesal dan sedih atas kemaksiatan yang pernah dilakukan adalah wajib hukumnya, karena inilah yang menjadi inti pokok dari taubat. Begitulah yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali, dan penjelasan ini terdapat dalam salah satu kalimat yang ada pada bait ini, yaitu وَأَنْتَ النَّادِمُ.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pengertian taubat adalah:

  1. Seketika meninggalkan perbuatan maksiat.
  2. Bercita-cita meninggalkan maksiat untuk waktu yang akan datang.
  3. Jangan ragu mengejar keteledoran yang telah dilakukan pada waktu-waktu yang telah lalu.
  4. Menyesali perbuatan dosa yang telah lalu dan sedih terhadapnya adalah kewajiban dari taubat, karena penyesalan adalah jiwa dari taubat, sebagaimana kata al-Ghozali.

Sahabat Abu Bakar pernah mendengarkan Rasulullah SAW bersabda :

 مَامِنْ عَبْدٍ يَذْنُبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطَّهُوْرَ وَيُصَلِّى ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ اِلاَّ غُفِرَ لَهُ

Seorang hamba yang berbuat dosa akan diampuni dosanya oleh Allah jika kemudian ia mau bersuci dan salat, kemudian meminta ampun kepada Allah SWT.

مَنْ قَالَ عَشْرًا حِيْنَ يُصْبِحُ وَحِيْنَ يُمْسِى : “اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ وَاَسْأَلُ التَّوْبَةَ وَالْمَغْفِرَةَ مِنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ ” غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ رَمْلٍ عَالِجٍ . وَمَنْ قَالَ : “سُبْحَانَكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَعَمِلْتُ سُوْءًا فَاغْفِرْ لِى ذُنُوْبِى فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ ” غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ دَبِيْبِ النَّمْلِ

Barang siapa di waktu pagi dan sore hari sepuluh kali membaca istighfar “Aku meminta ampun kepada Allah Dzat Yang Agung, tidak ada Tuhan selain Dia Dzat Yang Maha Hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri. Aku bertaubat kepada-Nya dan meminta taubat beserta ampunan dari semua dosa”, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah, walaupun dosa-dosanya seperti sekumpulan pasir. Dan barang siapa yang membaca “Maha Suci Engkau, aku telah berbuat keji terhadap diriku sendiri dan aku juga telah berbuat kejelekan, ampuni dosa-dosaku, karena hanya Engkaulah Dzat yang dapat mengampuni dosa”, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah, walaupun dosa-dosanya seperti deretan semut.

Abu Abdullah Al-Waraq mengatakan bahwa jika kamu mempunyai dosa yang seperti tetesan air hujan dan buih air laut, maka dosa tersebut dapat hilang dari dirimu jika kamu memohon ampun kepada Allah dengan membaca bacaan istighfar seperti berikut:

اَللّهُمَّ اِنِّى اَسْأَلُكَ وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كَلِّ ذَنْبٍ تُبْتُ اِلَيْكَ مِنْهُ ثُمَّ عُدْتُّ فِيْهِ وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ مَا وَعَدْتُّكَ مِنْ نَفْسِى ثُمَّ لَمْ اُوْفِ لَكَ بِهِ وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ عَمَلٍ اَرَدْتُّ بِهِ وَجْهَكَ فَخَالَطَهُ غَيْرُكَ وَاَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ نِعْمَةٍ اَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ فَاسْتَعَنْتُ بِهَا عَلَى مَعْصِيَتِكَ

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan aku memohon ampun ampun kepada-Mu atas semua dosa yang mana aku telah bertaubat kepada-Mu, namun kemudian aku mengulangi dosa tersebut lagi. Aku memohon ampun kepada-Mu dari semua yang pernah aku janjikan kepada-Mu tentang diriku, namun kemudian aku tidak menepatinya kepada-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dari semua amal yang aku tujukan kepada diri-Mu, namun kemudian aku menyampurinya (tujuan amal tersebut) dengan (makhluk) selain-Mu. Aku memohon ampun kepada-Mu dari semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku, namun kemudian aku memakainya untuk berbuat maksiat.

Di dalam buku yang bernama lubabu ath-thalibin Imam As-Sahimiy menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thobrani dari Abu Darda’:

من استغفر للمؤمنين والمؤمنات كل يوم سبعا وعشرين مرة كان من الذين يستجاب لهم ويرزق

Barang siapa yang memohonkan ampun untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan setiap hari dua puluh tujuh kali, maka ia termasuk orang-orang yang dikabulkan doanya dan diberikan rejekinya.

Syekh Abu Al-Hasan Al-Syadzili mengatakan bahwa jika kamu menginginkan hatimu tidak berkarat, keropos, keruh, tidak kemasukan kesusahan dan tidak ditinggali oleh dosa, maka perbanyaklah membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ، لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ ثَبِّتْ عِلْمَهَا فِى قَلْبِى وَاغْفِرْ لِى ذَنْبِى وَاغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَقُلِ الْحَمْدُ لِلهِ وَسَلاَمٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اصْطَفَى

Maha Suci Allah dengan memuji-Nya; Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Agung tidak ada Tuhan selain Allah tetapkan ilmunya (mengetahui kalimat subhanallah wa bihamdih subhanallahil adhim la ilaha illallah) di dalam hatiku, dan ampunilah dosa-dosaku dan orang-orang mukmin baik yang laki-laki maupun yang perempuan.

dan bacalah juga:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِيْنَ اِصْطَفَى

Segala puji bagi Allah dan semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here