Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (46)‎

0
12

46. Senang dalam taat kepada Allah, sedih karena kehilangan taat, dan menyesal sebab maksiat

Kesenangan seseorang akan taat kepada Allah merupakan kemurahan dan bimbingan yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Sebagaimana firman Allah SWT:

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ (٥٨)

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58)

Oleh karena itu, tidak sepatutnya apabila ia mengatakan bahwa kesenangannya akan taat kepada Allah adalah karena muncul dari dirinya sendiri, maka hal yang seperti itu sangatlah tercela.

Hendaklah kesedihan seseorang karena kehilangan kesempatan untuk melakukan taat kepada Allah dibarengi dengan niat bahwa ia bertekad untuk mengerjakannya pada kesempatan yang selanjutnya. Jika tidak demikian, maka hal itu termasuk membohongi diri sendiri. Dan barang siapa yang tidak sedih karena kehilangan kesempatan untuk melakukan taat kepada Allah dan tidak menyesal mengerjakan kemaksiatan, maka yang demikian termasuk tanda-tanda matinya hati. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوْ مُؤْمِنٌ

Barang siapa yang kebaikannya membuat dirinya bahagia dan keburukannya membuat dirinya sedih, maka ia adalah seorang mukmin.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here