Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (40)

0
22

Nadhim berkata dalam nadham-nya:

(وَالزِّيَّ مَعْ ظَرْفٍ وَلَهْوًا قَدْ نٌهِيَ      أَنْفِقْ بِمَعْرُوْفٍ وَإِلَّا تَأْثُمُ)

(Jagalah dirimu) terhadap perhiasan beserta bejana (yang haram), permainan yang dilarang (oleh Allah), dan berinfaqlah dengan cara-cara yang baik. Jika tidak, niscaya kamu akan mendapatkan dosa.

Dalam bait ini nadhim memberitahukan tentang tiga macam cabang iman yang selanjutnya, yaitu:

40.  Berjaga diri dari pakaian, perhiasan dan bejana (perabot rumah) yang diharamkan oleh Allah

Diharamkan bagi laki-laki yang sudah baligh dan transgender (orang yang mempunyai dua kepribadian) untuk memakai kain sutra, kain yang lebih banyak campuran suteranya seperti sutra timbangan, kain yang ditenun dengan emas atau perak baik keseluruhannya atau sebagian saja, dan kain yang dicampur dengan salah satu (emas dan perak). Jika dari hal-hal tersebut muncul sesuatu yang bersifat baru karena diletakkan di atas api kecuali emas atau perak tersebut berkarat, maka hal tersebut tidaklah haram hukumnya.

Dan diharamkan lagi bagi laki-laki dan transgender walaupun masih kecil memakai bejana yang terbuat dari emas dan perak, oleh karena itu diharamkan bagi orang tuanya jika membiarkan mereka mempergunakannya. Dan diharamkan juga untuk menyimpannya dengan maksud bukan untuk dipakai, seperti meletakkannya di rak, baik materialnya secara keseluruhan atau sebagaian walaupun hanya sedikit dari salah satunya (emas dan perak) atau dari kedua-duanya sekaligus, baik bejana tersebut kecil atau besar. Maka diharamkan benda-benda seperti mata pena, botol tempat celak, jarum, sarung pedang, bingkai cermin, sendok, sisir, pedupaan dan sebagainya jika memang material di dalamnya berupa emas dan atau perak.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ لَبِسَ الْحَرِيْرَ مِنَ الرِّجَالِ فِى الدُّنْيَا اَلْبَسَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِنَ النَّارِ

Barang siapa yang memakai sutera saat di dunia, maka Allah akan memakaikannya baju dari api kelak di hari kiamat.

Maksud dari hadis ini, bagi laki-laki yang memakai sutera di dunia dengan sengaja dan mengetahui keharamannya dan tidak dalam keadaan darurat, maka Allah akan memakaikannya baju yang terbuat dari api kelak di hari kiamat sebagai balasan dari apa yang sudah ia kerjakan.

مَنْ لَبِسَ الْحَرِيْرَ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِى اْلآخِرَةِ

Barang siapa yang memakai sutera di dunia, maka dia tidak akan pernah memakainya kelak di akhirat.

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ اَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ حَتَّى يَضَعَهُ مَتَى يَضَعُهُ

Barang siapa yang memakai pakaian untuk maksud ketenaran, maka Allah akan berpaling darinya hingga ia melepaskannya pada waktu ia melepaskannya.

Maksudnya dari hadis ini, barang siapa yang memakai pakaian dengan tujuan untuk bersombong diri dan berbangga-bangga, maka Allah tidak akan melihatnya dengan pandangan rahmat, kemudian Allah mengecilkannya dalam hal-hal penglihatan dan menghinakannya dalam hal hati (perasa).

لاَ تَأْكُلُوْا فِى آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلاَ تَشْرَبُوْا فِى صَحَافِهَا

Janganlah kalian semua makan menggunakan bejana yang terbuat dari emas dan perak, dan janganlah kalian minum menggunakan piring besar (dari emas dan perak).

Faidah

Diceritakan bahwa Al-Hasan Al-Bushra dan Farqod sedang berada di sebuah perjamuan. Hasan adalah seorang yang berilmu dan Farqod adalah seorang ahli ibadah. Pada perjamuan tersebut terdapat sebuah keranjang yang terbuat dari daun kurma dan piring besar yang terbuat dari emas dan perak yang berisi buah kurma. Pada saat itu Hasan duduk sambil makan, sedangkan Farqod menarik mundur si Hasan untuk mengambil keranjang tersebut dan memindahkan isi yang ada di dalam piring emas ke dalamnya (keranjang). Ia meletakkan kurma itu di atas roti bakar lalu memakannya. Kemudian ia pun berbalik badan dan memalingkan wajahnya seraya berkata: Hei Furaiqid ! Mengapa kamu tidak mengerjakan seperti apa yang aku kerjakan? Hasan berpendapat bahwa pengosongan isi piring emas yang dilakukannya bukanlah untuk memindahkan pemakaian tempat, melainkan untuk menghilangkan kemungkaran. Kemudian ia membandingkan dengan kepandaiannya antara kesunahan perjamuan dengan makan, merubah alasan, menghilangkan kemungkaran dan mengajarkan hukum-hukum fiqih. Oleh karena itulah ia men-tasghir (kaidah bahasa Arab dalam pengecilan makna dan maksud kata) namanya. Maka ia mengatakan: “Hei Furaiqid” karena ia bermaksud menyindirnya dengan adanya hal kemungkaran.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here