Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (34-35)‎

0
23

34. Menjaga lisan

Maksudnya adalah menjaga lisan dari hal-hal yang tidak patut. Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ (١٨)

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf: 18)

Rasulullah SAW bersabda:

قَيِّمُ الدِّيْنِ اَلصَّلاَةُ وَسَنَامُ الْعَمَلِ اَلْجِهَادُ وَاَفْضَلُ اَخْلاَقِ الإِسْلاَمِ اَلصَّمْتُ حَتَّى يُسَلِّمَ النَّاسُ

Harga diri agama (Islam) adalah salat, ujung amal adalah jihad dan akhlak Islam yang paling utama adalah diam sehingga orang lain menjadi selamat.

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah perkataan-perkataan yang baik atau (kalau tidak bisa) lebih baik diam.”

Imam As-Syafi’i berkata: “Apabila salah satu dari kalian hendak berbicara, maka ia wajib memikirkan terlebih dahulu perkataannya. Jika perkataan tersebut mengandung kemaslahatan (kebaikan), maka berbicaralah. Namun jika ragu-ragu (perkataannya tidak mengandung kemaslahatan), maka urungkanlah untuk berbicara hingga benar-benar perkataanmu mengandung kemaslahatan”.

Orang-orang bijak mengatakan: “Barang siapa yang berbicara perihal yang tidak baik, maka ia benar-benar telah berbicara sia-sia. Barang siapa yang berteori tanpa adanya pertimbangan, maka ia benar-benar telah lupa. Dan barang siapa yang diam tanpa berfikir, maka benar-benar ia telah bermain-main.”

Ada seorang yang bijaksana yang mengatakan: “Jika kamu suka untuk berbicara, maka (lebih baik) diamlah. Namun jika kamu suka untuk diam, maka (lebih baik) berbicaralah.”

35. Menjaga kemaluan

Maksudnya adalah menjaga kemaluan dari hal-hal yang yang dilarang oleh Allah, seperti berzina, liwath (homoseksual), musahaqah (lesbian), mufakhadzah (berpaha-pahaan antar sesama laki-laki). Liwath adalah memasukkan kemaluan lelaki ke dalam dubur pria. Musahaqah adalah perbuatan yang dilakukan orang perempuan dengan perempuan lain dengan farji-nya. Mufakhadzah adalah perbuatan yang dilakukan seorang lelaki dengan dzakar-nya pada lelaki lain di pahanya. Allah SWT berfirman:

وَلاَ تَقْرَبُوْا الزِّنَى اِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيْلاً (٣٢)

Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra’: 32)

اَتَأْتُوْنَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِيْنَ (١٦٥)

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia. (QS. As-Syua’ara’: 165)

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (81)

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf: 81)

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِىْ مِنَ الْحَقِّ لاَ تَأْتُوْنَ النِّسَآءَ فِى أَدْبَارِهِنَّ

Allah SWT tidak (memerintahkan) malu pada suatu kebenaran. Dan janganlah kalian menggauli perempuan dari duburnya.

Maksudnya bahwa Allah tidak memerintahkan seseorang untuk malu untuk menjelaskan suatu kebenaran dan kebaikan.

Kata تَغْنَمُ pada bait ini mempunyai mubtada’ tersimpan yang ber-i’rab jazm, di mana mubtada’ tersebut merupakan jawab dari amr. Jadi makna yang dimaksud adalah: “Jika kamu dapat menjaga kemaluanmu, niscaya kamu akan mendapatkan keuntungan (kebahagiaan) di akhirat (surga) kelak”.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here