Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (32-33)‎

0
21

32.  Menepati janji

Allah SWT berfirman:

 يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ (٤٠)

Allah berfirman: “Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku karuniakan kepadamu dan penuhilah janjimu, agar Aku penuhi (pula) janji-Ku, dan semata-mata kepada-Ku sajalah kamu takut”. (QS. Al-Baqarah: 40)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الأنْعَامِ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ (١)

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Maidah:1)

 …. وَاَوْفُوْا بِالْعَهْدِ اِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُوْلاً

“… dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya”. QS (Al-Isra’: 34)

Rasulullah SAW bersabda:

اَلْعِدَةُعَطِيَّةٌ

Janji adalah pemberian

اَلْعِدَةُدَيْنٌ

Janji adalah hutang

ثَلاَثٌ فِى الْمُنَافِقِ : اِذَا حَدَثَ كَذَبَ وَاِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ وَاِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tiga hal yang ada pada orang-orang munafiq yaitu, ketika berbicara ia berbohong, ketika berjanji ia mengingkari dan ketika dipercaya ia berkhianat

Artinya, jika ketiga hal ini ada pada diri seorang muslim, maka ia sama seperti dengan orang munafiq, sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikh Al-Aziziy.

33. Bersyukur

Allah SWT berfirman:

… وَاشْكُرُوْا لِى وَلاَ تَكْفُرُوْنَ

“… dan bersyukurlah kepada-Ku, jangan kau ingkari nikmat-Ku”. (QS. AL-Baqarah: 152)

  وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ  (١٥٤)

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. (QS. AL-Baqarah: 154)

إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا  (١٤٦)

“Kecuali orang-orang yang taubat, dan mengadakan perbaikan, dan berpegang teguh pada (agama) Allah, dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 146)

مَا يَفْعَلُ اللهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا

“Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman? Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.”

Rasulullah SAW bersabda:

اَرْبَعُ خِصَالٍ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَمُلَ اِسْلاَمُهُ وَلَوْكَانَ لَهُ مِنْ قَرْنِهِ اِلَى قَدَمِهِ خَطَايَا اَلصِّدْقُ وَالشُّكْرُ وَالْحَيَاءُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Ada empat hal di mana ketika seseorang memilikinya, maka keislamannya akan menjadi sempurna. Walaupun mulai dari ujung kepala sampai telapak kakinya (melakukan) kesalahan. Yaitu jujur, syukur, malu dan memperbaiki akhlak.

Syukur mengandung 3 unsur, yaitu:

a. Ilmu/Pengetahuan

Yaitu mengetahui bahwa bahwa semua kenikmatan yang diterima pada hakekatnya adalah dari Allah Swt. Sedangkan semua orang yang menjadi sebab dari kenikmatan tersebut pada hakekatnya hanyalah sebagai perantara semata-mata yang dipaksa oleh kehendak dan kekuasaan Sang Pemberi nikmat, Allah Swt. Namun Allah Swt mengajarkan kepada kita agar kita pandai berterima kasih kepada orang-orang yang menjadi perantara dari kenikmatan Allah Swt tersebut, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:

لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ .  رواه أبو داود

Yang tidak termasuk bersyukur kepada Allah adalah orang yang tidak bersyukur kepada manusia. Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah.

b. Khal/Keadaan

Maksudnya adalah bahagia dan senang mendapatkan nikmat (yang diberikan oleh) Allah.

  • Gembira karena melihat wujud dari kenikmatan yang datang.
  • Gembira karena melihat manfaat dari kenikmatan yang datang.
  • Gembira karena memandang kepada pemberian nikmat dari Sang Pemberi nikmat.

Kegembiraan hati yang termasuk unsur syukur adalah yang terakhir.

c.  Amal/Perbuatan,

Maksudnya adalah mengerjakan apa yang dimaksud dan dikehendaki oleh Allah Dzat Yang Memberikan Nikmat, dan mengerjakan hal-hal yang disukai-Nya.

Syekh As-Subla mengakatan: “Syukur adalah mengetahui Mun’im (Allah Dzat Yang Memberikan Nikmat), bukan mengetahui nikmat”. Dan ada sebagian ulama yang mengatakan: “Syukur al-‘am (umum) adalah mensyukuri makanan, minuman, dan pakaian (yang telah diberikan Allah). Sedangkan syukur al-khas (khusus) adalah mensyukuri keinginan-keinginan hati/hal-hal yang datang pada hati/jiwa (yang telah diberikan Allah).

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here