Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (23-24)‎

0
26

23. Puasa Ramadhan

Maksudnya adalah melakukan puasa di bulan ramadhan dengan meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkannya disepanjang harinya dengan niat pada malam harinya untuk taat kepada Allah, dilakukan sejak fajar sampai terbenamnya matahari, dalam keadaan tidak haid, nifas dan wiladah disepanjang harinya, dan terbebas dari penyakit ayan, mabuk, makan, minum, bersetubuh dan merokok di sebagian hari (tidak sepanjang waktu puasa) .

Apabila seseorang yang puasa lupa atau tidak sengaja makan, maka puasanya masih dianggap sah. Berkenaan dengan ketidaksengajaan tersebut diibaratkan Allahlah yang memberikan makanan kepadanya dan Allah sedang mengasihaninya. Demikian adalah perkataan dari Al-Sakhamiy di dalam bukunya yang bernama Lubabu ath-thalibin.

24.  I’tikaf

Maksudnya adalah berdiam atau menetap di dalam masjid dengan niat untuk i’tikaf. I’tikaf ini disunahkan setiap saat, walaupun di waktu yang tidak disukai. Dalam hal melakukan i’tikaf tidak diperkenankan bagi seorang istri kecuali sudah mendapatkan ijin dari suaminya, dan bagi seorang budak kecuali sudah mendapatkan ijin dari tuannya. Namun jika tidak demikian, maka bagi suami dan tuan tersebut berhak untuk mengeluarkan mereka dari masjid.

Rukun i’tikaf ada empat, yaitu:

a. Niat

Hendaklah membaca niat ketika baru memulai untuk menetap atau berdiam diri di dalam masjid. Oleh karena itu tidak dianggap sah jika seseorang membaca niat i’tikaf saat ia memasuki masjid, sedangkan ia mengerjakan kegiatan lain selain i’tikaf.

Dalam berniat diwajibkan untuk memperjelas apakah i’tikaf yang akan dilakukan bersifat wajib atau karena nadzar (berjanji kepada Allah untuk melakukan sesuatu jika keinginannya dikabulkan)

b. Masjid

Hendaknya masjid di sini bersifat murni (siapa saja bebas dan berhak memakainya), bukan masjid pribadi. Hal ini dikarenakan antara keduanya memiliki cara penghormatan yang berbeda.

c. Berdiam atau menetap

Maksudnya adalah berdiam diri di dalam masjid semampunya selama masih dalam kategori i’tikaf. Jadi, i’tikaf boleh dilakukan dalam posisi berdiri dengan jangka waktu di atas thuma’ninah, dan ketika itu diperbolehkan untuk berpindah posisi selama tidak mondar-mandir sehingga tidak berdiam diri. Hal ini juga diperbolehkan untuk i’tikaf mandzur (i’tikaf yang menjadi nadzar), karena untuk memberikan kesempatan bagi orang yang melakukan i’tikaf untuk mengambil posisi yang dapat membuatnya thuma’ninah, baik dalam posisi ruku’ ataupun yang lainnya.

d. Mu’takif (orang yang ber-i’tikaf)

Adapun syarat bagi mu’takif adalah sebagai berikut:

  1. Beragama Islam
  2. Berakal
  3. Tidak sedang berhadas besar

Maka dianggap tidak sah i’tikaf seseorang yang tidak mempunyai kriteria di atas. Namun jika kebetulan pada saat melakukan i’tikaf si mu’takif pingsan, maka i’tikaf-nya tidaklah batal, bahkan pada waktu ia sedang pingsan dianggap sebagai i’tikaf. I’tikaf seseorang dianggap terputus ketika ia murtad dan mabuk. Hal ini berlaku jika memang ia berniat melakukannya dengan sengaja.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here