Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (18)‎

0
24

18. Mengajarkan ilmu agama

Nabi Muhammad SAW bersabda :

لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ

Hendaklah orang yang sudah menyaksikan (hadir dalam pengajian) dari kalian untuk memberitahukan kepada orang yang tidak hadir (dalam pengajian) pelajaran yang sudah diajarkan (saat pengajian).

Maksudnya yaitu, wajib bagi seseorang dari kalian yang sudah menyimak apa yang aku (Nabi Muhammad SAW) katakan untuk memberitahukan perkataanku kepada orang yang tidak menyimaknya.

Hadis ini merupakan pesan untuk para sahabat dan generasi setelahnya hingga hari kiamat. Diharuskan bagi ahlu ilmi (orang yang memiliki ilmu) untuk menyampaikan ilmunya. Setiap orang yang mempelajari satu masalah, maka ia sudah termasuk ke dalam ahlu ilmi (orang yang memiliki ilmu). Dan setiap orang bodoh yang mengetahui syarat-syarat salat, hendaklah ia memberitahukannya kepada orang lain (yang tidak mengetahuinya). Jika tidak, maka sama artinya ia telah mengajak orang lain (yang tidak mengetahuinya) untuk melakukan dosa.

Wajib bagi setiap masjid dan kampung suatu kota untuk mempunyai satu ahli ilmu (pembimbing) yang dapat mengajarkan ilmu dan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Setiap ahli agama setelah selesai melaksanakan fardlu ‘ain yaitu mengajar di daerahnya sendiri, melakukan fardlu kifayah yaitu keluar ke daerah yang berdekatan dengan daerahnya untuk mengajarkan agama dan kewajiban syariat kepada penduduk desa tersebut. Pada saat itu hendaklah ia membawa bekal sendiri untuk ia makan nantinya, sehingga ia tidak memakan makanan mereka (penduduk desa yang diberi pelajaran).

Jika sudah ada salah seorang yang menunaikan kewajiban ini, maka gugurlah dosa dari para ahli ilmu yang lain. Jika tidak ada sama sekali orang yang menunaikan kewajiban ini, maka dosanya akan menimpa semua orang. Orang yang alim berdosa karena keteledorannya tidak mau pergi ke daerah tersebut, sedangkan orang yang bodoh berdosa karena keteledorannya dalam meninggalkan menuntut ilmu. Begitulah pendapat yang dikatakan oleh Ahmad As-Sakhimi yang diambil dari perkataan Al-Ghazali.

Ketahuilah juga bahwa orang alim akhirat (mahir dalam ilmu akhirat /ingin mencari kebahagiaan akhirat) mempunyai tiga ciri-ciri, yaitu:

  1. Dia tidak mencari perkara dan kesenangan duniawi dengan ilmu yang ia miliki.
  2. Dia bermaksud untuk menyibukkan dirinya dengan ilmu-ilmu ukhrowiyah (yang bersifat akhirat), sehingga konsentrasinya hanya tertuju pada ilmu batin untuk memperbaiki hatinya
  3. Dia senantiasa berpegang teguh terhadap ilmunya dengan cara taqlid (mengikuti) kepada pemilik syari’at, yakni Nabi Muhammad Saw baik dalam ucapan maupun perbuatannya.

Adapun orang yang tidak mempergunakan ilmunya untuk mencari perkara duniawi mempunyai lima ciri-ciri:

  1. Tidak berlawanan ucapan dan perbuatannya, sehingga ia menjadi orang yang senantiasa ‎mengerjakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.‎
  2. Dia menjadikan ilmunya sebagai timbangan untuk mengukur seberapa kemampuannya. Dia ‎sangat taat kepada Allah dan menjaga dirinya dari ilmu-ilmu yang bersifat untuk beradu ‎argumentasi saja.‎
  3. Dia sangat menjauhi kemewahan dalam hal makanan, tempat tinggal, perabot rumah dan ‎pakaian.‎
  4. Dia tidak suka berbaur dengan pemerintah, kecuali untuk memberikan nasehat kepadanya, ‎mencegah dia melakukan kedholiman dan membantunya dalam mencari ridla Allah SWT.‎
  5. Dia tidak terburu-buru dalam memberikan fatwa. Dia sangat berhati-hati dalam berbicara. ‎Bertanyalah kepada orang yang ahli fatwa. Dia sangat menghindari melakukan ijtihad (yang ‎ceroboh) ketika duduk masalahnya tidak jelas. Namun jika terdapat masalah yang tidak ‎mudah untuk diijtihadi, maka dengan terus terang dia akan mengatakan, “Aku tidak ‎mengerti”.‎

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here