Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (17)‎

0
30

17. Mencari ilmu

عن عبد الله بن مسعود قال :  قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم  مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ يَنْتَفِعُ بِهِ فِى آخِرَتِهِ وَدُنْيَاهُ كَانَ خَيْرًا لَهُ مِنْ عُمْرِ الدُّنْيَا سَبْعَةَ آلاَفِ سَنَةٍ صِيَامَ نَهَارِهَا وَقِيَامَ لَيَالِيْهَا مَقْبُوْلاً غَيْرَ مَرْدُوْدٍ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang mempelajari satu pembahasan ilmu kemudian ia mengambil manfaatnya di dalam dunia dan akhirat, maka ilmu tersebut lebih baik baginya dari pada umur tujuh ribu tahun hidup di dunia yang setiap siangnya ia berpuasa dan pada malam harinya ia beribadah seraya amal-amal tersebut diterima oleh Allah tanpa ditolak sedikitpun.

عن معاذ بن جبل قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم تَعَلَّمُوْا الْعِلْمَ فَاِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلهِ حَسَنَةٌ وَدِرَاسَتَهُ تَسْبِيْحٌ وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَتَعْلِيْمَهُ صَدَقَةٌ وَبَذْلَهُ لِاَهْلِهِ قُرْبَةٌ وَالْفِكْرَ فِى الْعِلْمِ يَعْدِلُ الصِّيَامَ وَمُذَاكَرَتَهُ تَعْدِلُ الْقِيَامَ

Dari Mu’adz bin Jabal. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Pelajarilah ilmu! Jika hal itu dilakukan karena Allah, maka akan dinilai sebagai satu kebaikan. Mempelajarinya dinilai seperti membaca tasbih, mencarinya dinilai sebagai jihad dan memperolehnya dinilai sebagai ibadah, mengajarkannya dinilai sebagai sedekah, mewariskannya kepada ahlinya dinilai sebagai qurbah (mendekatkan diri kepada Allah), memikirkannya dinilai layaknya melakukan puasa, mendiskusikannya dinilai layaknya melakukan qiyamul lail (ibadah di malam hari).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم اُطْلُبِ الْعِلْمَ وَلَوْ كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ بَحْرٌ مِنَ النَّارِ

Rasulullah SAW bersabda: Tuntutlah ilmu walau di sekelilingmu dan disekelilingnya (ilmu tersebut) adalah lautan api

قال رسول الله صلى الله عليه وسلّمِ  اُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ

Rasulullah SAW bersabda: Tuntutlah ilmu semenjak di atas ayunan (ketika masih bayi) hingga liang lahat (sudah meninggal).

Jadi, menuntut ilmu merupakan kewajiban di mana pun dan kapan saja.

Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa terdapat empat macam ilmu, yaitu ilmu fiqih untuk urusan agama, ilmu kedokteran untuk urusan jasmani, ilmu perbintangan untuk urusan waktu, dan ilmu nahwu untuk urusan lisan.

  1. Ilmu fiqih untuk membetulkan amalan dan urusan agama.
  2. Ilmu kedokteran untuk menyehatkan jasmani/badan.
  3. Ilmu falak (perbintangan) untuk menentukan waktu, terutama waktu salat.
  4. Ilmu nahwu untuk lisan/bacaan.

Ketahuilah! Ilmu jika dilihat dari sisi cara memperolehnya terbagi menjadi dua macam, yaitu:

  1. Kasbiy/usaha, adalah ilmu yang dihasilkan dari usaha membiasakan belajar dan membaca bersama seorang guru.
  2. Sima’iy/mendengarkan, adalah ilmu yang diperoleh dengan belajar dari ulama, yaitu dengan menyimak pelajaran agama dan dunia.

Ilmu ini hanya dapat diperoleh dengan mencintai ulama,membaur, berkumpul dan sering bertanya-jawab kepada mereka. Dalam memperoleh ilmu ini bagi orang yang menuntutnya diwajibkan untuk berniat memperoleh ridha Allah SWT, desa akhirat (surga), menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari segala macam kebodohan, menghidupkan agama dan menjaga Islam dengan ilmu.

Dengan adanya ilmu ini hendaknya ia bersyukur atas nikmat akal dan kesehatan badan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Sebaliknya, janganlah ia berniatan bahwa dengan ilmu ini ia dapat membanding-bandingkannya dengan orang lain, dengan ilmu ini ia dapat memperoleh harta dunia, dan ia bisa mendapatkan kemuliaan dari penguasa dan yang lainnya.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here