Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (15-16)‎

0
26

15. Menjunjung dan memuliakan derajat Nabi Muhammad SAW

Dalam hal ini hendaklah seseorang mengetahui akan tingginya derajat Nabi SAW, sopan santun ketika menyebut nama beliau, senang mendengar nama dan hadis-hadis Nabi, memperbanyak membaca salawat dan salam untuk Nabi SAW, dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti sunnah Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَرْفَعُوْا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوْا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُوْنَ (٢)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain supaya tidak menghapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. (QS. Al-Hujuraat: 2)

16. Bakhil terhadap agama Islam

Dalam hal ini dicontohkan ketika seseorang lebih memilih dibunuh dan dimasukkan ke dalam api daripada ia menjadi kufur, karena ia mengetahui bahwa agamanya lebih mulia daripada harta dan anak-anaknya.

Diceritakan, Umar bin Abdul Aziz semasa kekhalifahannya pernah mengutus pasukan ke daerah Romawi untuk keperluan perang. Saat perang terjadi, pasukan tersebut dapat ditaklukkan dan 20 orang dari mereka dijadikan tawanan. Saat kedua puluh orang tersebut ditawan, kaisar Romawi menawarkan kepada salah satu di antara mereka untuk masuk dalam agamanya dan menyembah berhala.

Kaisar Romawi berkata, “Hai orang muslim, jika kamu masuk ke dalam agamaku dan bersujud pada berhala, maka aku akan menjadikanmu seorang pemimpin di sebuah kota besar dan aku akan memberikanmu ilmu, kebebasan, gelas, dan terompet dari perunggu. Namun jika kamu tidak mau masuk ke dalam agamaku, maka akau akan memenggal kepalamu”.

Kemudian tawanan menjawab, “Aku tidak menjual agamaku dengan perkara duniawi”.

Sang Kaisar pun memerintahkan algojonya untuk memenggal kepala tawanan tersebut. Kemudian dipenggallah kepala tawanan tersebut di tengah alun-alun dan kepalanya diarak mengelilingi alun-alun. Namun seketika itu kepala tawanan yang sudah terpenggal itu membaca ayat:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ  (٢٧) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩) وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr: 27-30)

Sang Kaisar pun marah mendengarnya. Kemudian Sang Kaisar memanggil tawanan yang kedua dan berkata padanya.

“Masuklah ke dalam agama ku! Aku akan menjadikanmu seorang pemimpin di Mesir. Jika tidak, aku akan memenggal kepalamu seperti temanmu itu,” kata Sang Kaisar.

Tawanan kedua itu pun menjawab, “Aku tidak menjual agama ku dengan perkara duniawi. Kamu memang mempunyai kekuasaan untuk memotong kepala orang, namun kamu tidak mempunyai kekuasaan untuk memotong iman seseorang”.

Kemudian Sang Kaisar pun memerintahkan algojonya untuk memenggal kepala tawanan itu. Sebagaimana perlakuan yang diberikan kepada tawanan yang pertama. Kepala tawanan yang kedua juga diarak mengelilingi alun-alun tiga kali putaran. Seketika itu kepala tawanan yang kedua itu membaca ayat:

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (٢١) فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (٢٢) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ (٢٣)

Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat. (QS. Al-Haqqah: 21-23)

Sang Kaisar pun sangat marah. Diletakkanlah kepala tawanan kedua tersebut di tempat kepala tawanan yang pertama. Kemudian Sang Kaisar memanggil tawanan yang ketiga, seorang muslim yang celaka, dan berkata kepadanya.

Kata Sang Kaisar, “Janganlah berbicara! Apakah kamu bersedia masuk ke dalam agama ku? Aku akan menjadikanmu seorang pemimpin”.

Celakalah tawanan yang ketiga ini. Ia menjawab, “Baiklah, aku mau masuk ke dalam agamamu”. Ia lebih memilih perkara dunia dari pada perkara akhirat.

Kemudian Sang Kaisar memerintahkan menterinya dengan berkata, “Catatlah dia! Berikan dia kebebasan, gelas dan terompet dari perunggu!”.

“Wahai rajaku! Bagaimana aku dapat memberinya jika tanpa tes,” jawab menteri.

Sang Kaisar berkata, “Katakan padanya, jika perkataanmu memang benar, maka bunuhlah satu orang temanmu”.

“Aku berkata benar”, sahut tawanan ketiga.

Kemudian ia menarik satu temannya lalu membunuhnya. Sang Kaisar lantas memerintahkan menterinya untuk mencatatnya. Namun Sang Menteri berkata, “Ini sungguh tidak masuk akal anda mempercayai perkataannya. Dia tidak mempedulikan hak temannya sendiri yang telah lahir dan tumbuh besar bersamanya. Lalu bagaimana dia bisa peduli dengan hak kita?”.

Sang Kaisar pun memerintahkan algojonya untuk memenggal kepala tawanan tersebut. Dan diaraklah kepala tawanan ketiga tersebut keliling alun-alun tiga kali putaran. Kemudian seketika itu kepala tersebut membaca ayat:

أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ أَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِي النَّارِ (١٩)

Apakah (kamu hendak merobah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka? (QS. Az-Zumar: 19)

Akhirnya, diletakkanlah kepala tawanan itu dipojok alun-alun dipisahkan dari kepala teman-teman sebelumnya. Maka siksa dari Allah lah bagi tawanan ketiga ini.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here