Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (13-14)‎

0
17

13. Tawakal kepada Allah SWT

Dalam surat Al-Ma’idah ayat 23 Allah SWT berfirman:

قَالَ رَجُلانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ  (٢٣)

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al-Maidah: 23)

Tawakal mempunyai tiga tingkatan, yaitu:

  1. Tingkatan di mana keadaan seseorang yang tawakal berada pada tanggungan Allah dan ‎bergantung pada naungan dan perlindungan-Nya, sebagaimana keadaan di mana ia percaya ‎untuk tawakal.‎
  2. Tingkatan di mana keadaan orang yang tawakal bersama dengan Allah, sebagaimana ‎keadaan seorang anak kecil yang masih berada pada penjagaan ibunya, di mana anak kecil ‎tersebut hanya mengenal takut dan berpegang pada ibunya saja. Jika ia melihat ibunya, maka ‎bergantunglah semua keperluaannya kepada ibunya. Jika terjadi sesuatu terhadap dirinya, ‎sedangkan ibunya tidak ada di sampingnya, maka satu kata yang akan keluar dari mulut anak ‎itu adalah kata “Ibu”, dan yang pertama ia khawatirkan adalah ibunya. Hal ini disebabkan ‎karena anak kecil tersebut sangat bergantung pada naungan, penjagaan dan kasih sayang ‎ibunya.‎
  3. Tingkatan di mana seseorang yang tawakal berada di bawah kendali Allah, baik ketika ia ‎bergerak ataupun diam. Orang yang tawakal tidak bisa memberontak dan mengelak dari ‎Allah, kecuali ia hanya bisa melihat bahwa dirinya adalah jasad yang sudah mati dan ‎digerakkan atas kuasa-Nya. Jadi orang yang tawakal di sini adalah ibarat orang mati yang ‎pasrah di bawah kendali orang yang memandikannya, dan ia pun tidak dapat memberontak ‎ketika tubuhnya digerakkan oleh tangan orang yang memandikannya. Pada tingkatan yang ‎ketiga ini berlaku bagi seseorang yang benar-benar kuat imannya, bahwa Allah SWT adalah ‎Dzat yang mengerakkan.‎

Tawakal yang ketiga merupakan tawakal tingkatan tertinggi. Tawakal yang pertama adalah tingkatan tawakal yang paling rendah. Sedangkan tawakal yang kedua adalah tingkatan tawakal yang sedang atau di atas jenis tawakal yang pertama.

Nadhim berkata dalam nadham-nya:

(وَاحْبُبْ نَبِيُّكَ ثُمّ عَظِّمْ قَدْرَهُ  وَابْخَلَ بِدِيْنِكَ ما يُرَى بِكَ مَأْثَمُ)

Cintailah Nabi mu kemudian tinggikanlah derajat beliau dan jadilah bakhil bagi agama mu jika apa yang ada pada dirimu adalah dosa.

Dalam bait ini Nadhim menuturkan tiga macam cabang iman yang selanjutnya, yakni:

14.  Mencintai Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ

Tidaklah beriman salah satu di antara kalian hingga ia lebih mencintaiku daripada dirinya sendiri, hartanya, anaknya, orang tuanya dan semua orang.

Yang dimaksud dari kata الناس adalah selain orang-orang yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu seperti kerabat, kenalan, tetangga, sahabat dan lainnya.

Cinta kepada Rasulullah SAW adalah cinta kepada Allah SWT, begitu juga cinta kepada ulama dan kekasih-kekasih Allah yang bertakwa. Mengapa bisa demikian? Karena Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah, dan pada hakikatnya tidak ada yang berhak untuk dicintai kecuali Allah semata. Semua itu kembali kepada kecintaan yang asli dan tidak boleh melampauinya. Karena pada hakekatnya sama sekali tidak ada yang dicintai bagi orang-orang yang tajam pandangan mata hatinya kecuali Allah Ta’ala dan sama sekali tidak ada yang berhak untuk dicintai kecuali Allah SWT.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here