Ngaji Qomi’ Ath Thughyan: Cabang Iman (11-12)

0
25

11. Takut dengan siksa Allah

Menurut Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, tingkatan takut yang terendah adalah mencegah diri dari perkara-perkara dilarang (haram), dan ini dinamakan dengan wara’.

Jika kekuatan takut bertambah, maka akan menahan diri dari hal-hal yang belum diyakini keharamannya, dan ini dinamakan dengan takwa.

Jika pada rasa takut disertai dengan tergabung usaha untuk memurnikan diri dari hal-hal yang haram atau yang belum jelas keharamannya karena tujuan untuk beribadah kepada Allah (semata-mata hanya karena Allah), maka hal yang seperti ini akan mengakibatkan seseorang untuk tidak membangun tempat tinggal yang kelak tidak ia tinggali, tidak mengumpulkan makanan yang kelak tidak ia makan, tidak menghiraukan hal-hal yang bersifat duniawi. Karena ia mengetahui bahwa hal-hal duniawi akan membuatnya terpisah dari Allah dan tidak sedikitpun mengeluarkan nafasnya untuk makhluk selain Allah atau untuk kepentingan ibadah kepada selain Allah, maka hal yang seperti ini dinamakan dengan asshidqu (jujur), sedangkan untuk orang yang melakukannya dinamakan dengan as-shiddiqu (orang yang banyak jujurnya).

Perbuatan yang seperti ini tergolong ke dalam as-shidqu at-taqwa (kebenaran takwa), at-taqwa al-war’u al-‘iffatu (takwa yang memilah-memilih dan menjaga diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat atau yang haram).

Jadi iffah (meninggalkan yang haram) termasuk dalam wara‘, wara‘ masuk dalam takwa, dan takwa termasuk dalam shidqun.

12. Mengharapkan rahmat Allah SWT

Allah SWT berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلَى اَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ اِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا اِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ (٥٣)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)

Dan Nabi Muhammad SAW bersabda:

اَلْفَاجِرُ الرَّاجِى لِرَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى اَقْرَبُ اِلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الْعَابِدِ الْقَانِطِ

Orang ceroboh yang mengharapkan rahmat Allah SWT adalah lebih dekat dengan Allah SWT daripada ahli ibadah yang putus asa (terhadap rahmat-Nya).

روى عن عمر عن زيد بن أسلم أنّ رجلا كان في الأمم الماضية يجتهد في العبادة ويشدد على نفسه ويقنط الناس من رحمة الله تعالى ثم مات فقال يا ربّ مالي عندك فقال لك النار فقال يا ربّ فأين عبادتي واجتهادي فقال انك تقنط الناس من رحمتي في الدنيا فأنا أقنطك اليوم من رحمتي

Diriwayatkan dari Umar dari Zaid bin Aslam: Pada masyarakat jaman dahulu terdapat seorang laki-laki yang bersungguh-sungguh dalam beribadah dan sangat menjaga nafsunya, namun ia membuat orang lain menjadi putus asa dari rahmat Allah SWT. Kemudian ia mati, lalu berkata: “Ya Tuhan, hartaku ada padamu”. Lalu Allah menjawab: “Bagi mu lah neraka”. Ia berkata: “Lalu dimanakah ibadah dan kesungguh-sungguhanku dahulu?”. Allah menjawab: “Saat di dunia kamu sudah membuat orang lain putus asa terhadap rahmat-Ku, maka Aku pun membuatmu putus asa dari rahmat-Ku”.

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin dijelaskan bahwa hakikat dari sebuah harapan adalah membuat hati menjadi senang karena mengharapkan apa yang dicintai menjadi milik hati. Pada hal ini apa yang dicintai tersebut haruslah realistis dan mempunyai sebab atau alasan. Jika alasan yang melandasinya berlubang atau mengalami kebocoran, maka harapan tersebut dinilai sebagai bujuk rayuan dan kebodohan saja. Namun apabila alasan yang melandasi harapan tersebut diketahui keberadaannya dan tidak diketahui ke tidak beradaannya, maka harapan tersebut dinilai sebagai sebuah pengharapan.

Apabila yang menjadi kehendak hati adalah sesuatu yang ada pada masa lalu, maka harapan tersebut disebut dengan pengingat-ingat. Apabila yang menjadi kehendak hati adalah sesuatu yang ada pada masa sekarang, maka harapan tersebut disebut dengan penemuan dan kesempatan merasakan. Apabila yang menjadi kehendak hati adalah sesuatu yang ada pada masa mendatang, maka harapan tersebut disebut dengan penantian. Jika yang dinanti-nanti adalah sesuatu yang dikhawatirkan atau tidak diinginkan terjadinya, maka akan menimbulkan sakit hati, dan kehendak hati itu disebut kekhawatiran. Namun jika yang dinanti-nanti adalah sesuatu yang disukai atau diharapkan terjadinya, maka akan membuat kenyamanan, ketenangan dan kebahagiaan di dalam hati, dan kehendak hati itu disebut kebahagiaan.

Diasuh Oleh: KH. Akhmad Rojin, Rois Syuriah MWC NU Patean, Pengasuh Ponpes Assalafiyyah An-Nahdliyah Patean, Kendal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here