Ngaji Jurnalistik Bareng UNDIP dan NUKO

0
168

Kendal, pcnukendal.com – Menulis adalah suatu kegiatan yang terlihat mudah tetapi sulit untuk dipraktekkan. Dalam menulis ada beberapa aturan dan kaidah yang harus diterapkan dengan benar oleh seorang penulis. Menyikapi permasalahan tersebut, Sabtu pagi (27/6) di Gedung NU Kabupaten Kendal, Pengurus Cabang Lembaga Dakwah (PC LDNU) Kendal menggandeng Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang menyelenggarakan ngaji jurnalistik atau pelatihan jurnalistik yang diikuti 20 peserta perwakilan dari masing-masing kecamatan.

Sekretaris LDNU Kabupaten Kendal, Hj. Luthfiyah dalam laporan panitia menyampaikan pelatihan bertujuan untuk mengembangkan ilmu jurnalistik bagi para peserta yang diharapkan dapat menjadi kontributor berita di kecamatan masing-masing. Karena pelatihan digelar masih dalam masa pandemi Covid-19, maka kegiatan tetap dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, adanya hand sanitizer serta membatasi jumlah peserta yang hanya 20 orang.

Drs. Suharyo, M.Si, dalam sambutan secara video conference mewakili FIB UNDIP menyampaikan, di era milenial ini, kehidupan manusia sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari IT. Kader NU harus bisa menjadi agen sosial dan agen perubahan dalam menyajikan berita-berita yang menjadi ciri khas NU.

Salah satu narasumber, Drs. Moh Muzakka, M.Hum, yang kesehariannya juga sebagai Ketua PC LDNU Kendal mengatakan, “dalam pelatihan harus ada tindak lanjut. Karena itu setelah pelatihan diharapkan para peserta bisa menjadi ujung tombak di masing-masing kecamatan dalam menyajikan informasi kegiatan-kegiatan NU.

Lebih lanjut Muzakka yang menyajikan topik dasar-dasar jurnalitistik menegaskan, “bahasa yang digunakan dalam penulisan berita harus singkat, jelas dan sesuai dengan fakta”.

Narasumber lain, Dr. Suyanto yang menyampaikan materi pengeditan mengatakan, “dalam penulisan berita kita juga harus memperhatikan ejaan dan penulisan yang benar sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Dia juga menambahkan bahwa dalam penulisan fiksi, penulis diperbolehkan menggunakan bahasa gaul guna menarik perhatian pembaca. Meskipun demikian, penulis tidak boleh menggunakan bahasa yang bersifat provokatif dan sarkasme.

Antusiasme para peserta terlihat begitu tinggi meski harus duduk lesehan, terbukti dari banjirnya berbagai pertanyaan dalam sesi tanya jawab yang dimoderatori Moh Fatkhurahman, Sekretaris NU Kendal Online (NUKO) yang menggawangi website resmi pcnukendal.com. Meski harus duduk selama berjam-jam, para peserta tidak terlihat lelah dan tetap aktif mendengarkan materi dari para nara sumber. (Laili Mawaddah/Moh Fatkhurahman)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here