Ngaji HUT Kemerdekaan 71 GP ANSOR Desa Tanjungmojo.

0
208

ansorkangkung

Kangkung pcnukendal.id  “Peringatan HUT merupakan bentuk rasa syukur nikmat. Syukur itu harus diekspresikan, apapun bentuknya.” tutur Mustofa PR GP Ansor Tanjungmojo. Dalam kata sambutanya, dia menambahkan bahwa, ungkapan kegembiraan ataupun kebahagiaan tentu ragam macamnya.  Gegap gempita masyarakat Indonesia dalam mengenang detik-detik proklamasi 17 agustus 1945 sangat terasa diseluruh penjuru tanah air.
Dari istana presiden hingga komunitas anak jalanan. Pengibaran bendera merah putih di atas tebing maupun puncak gunung hingga dasar laut. Berbagai macam perlombaan dari orang tua hingga balita. Semua meluapkan rasa suka citanya dalam merayakan satu kata “merdeka”.

Gerakan Pemuda Ansor Desa Tanjungmojo, menggelar doa bersama/istigotsah untuk mendoakan arwah para syuhada (pahlawan) kemerdekaan. Dengan mengambil tema : ” Memaknai 17 Agustus; Dulu, Sekarang dan Esok “dimaksudkan untuk menggali peristiwa bersejarah tersebut agar sebagai generasi muda mampu dan lebih bersemangat dalam meneruskan cita-cita para pahlawan. Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah sebagian mimpi dari para pendahulu yang hingga saat ini belum terbayar lunas.

Gus Mufton dalam uraianya menerangkan bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak mungkin terjadi tanpa peran para ulama. “Kemerdekaan bangsa Indonesia bukan hadiah, tapi berkat rahmat Allah Swt” tutur kyai muda alumni Sarang tersebut. Pengasuh ponpes Syafi’iyah Salafiyah Gebanganom wetan lebih lanjut memaparkan bahwa para ulama, kyai di era perjuangan kemerdekaan dulu, selain mulang ngaji, juga menjadi aktivis. Mereka tidak berpangku tangan, bersama santri dan masyarakat mengangkat senjata mengusir penjajah. Menjadi motor penggerak, panglima perang, mobilisator masa untuk melawan pemerintah kolonial.

Salah satu contohnya adalah Pangeran Diponegoro. Nama aslinya Abdul Hamid,  keturunan Sultan Hamengkubuono ke lV, lahir di Tegal rejo Yogyakarta. Pernah nyantri pada KH. Hasan Bestari, Jetis Ponorogo, beliau ahli wirid, pengikut madzhab syafi’i. Hal itu terlihat dari peninggalanya, yakni Tasbih, kitab taqrib. Mengingat kembali heroisme dari sikap patriotis tersebut, membuktikan bahwa para ulama dan kyai dahulu telah berperan dalam mengibarkan bendera merah putih di tanah air.

Kemerdekaan sebagai awal membangun bangsa, menuju kesejahteraan dan kemakmuran. Berharap anak cucu mendapatkan kenyamanan hidup, menjadi cita-cita besar mereka para syuhada. “Maka sebagai bagian dari generasi muda, penerus cita-cita, Ansor harus terus membangun komitmen mengawal NKRI tetap ada sampai akhir zaman.” tutur Gus Mufton mengakhiri ceramahnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here