NASIHAT KH HASYIM ASY’ARI DIPELINTIR

0
213

Di tengah hiruk pikuk aksi 4 November atau “aksi 411” dan aksi 2 Desember atau “aksi 212” yang menuntut kepada polri agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang diduga menistakan agama segera ditahan, jagat media sosial dipanaskan oleh upaya adu domba dan usaha memecahbelah NU, dengan cara memelintir nasihat Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari untuk menyudutkan pengurus dan warga NU yang dituding tidak “membela Islam” menurut cara dan versi mereka.

Adalah DR Agus Setiawan, orang yang tidak diketahui kompetensinya tentang sejarah KH Hasyim Asy’ari dan sejarah NU, telah memelintir nasihat Hadratus Syaikh dalam kitab At-Tibyan, dia membuat tulisan yang di-copas oleh saudara Abdul Hayi.
Di bawah ini kita kutip pemelintiran DR Agus Setiawan itu secara lengkap :
“Saat ini, kita umat Islam, begitu bangga dan membusungkan dada jika memusuhi umat Islam, dan begitu harmonis dengan orang-orang kafir dalam kekufurannya serta dengan orang-orang jahat dalam kejahatannya. Kita begitu sibuk dan keras dalam urusan perbedaan pendapat di kalangan ulama, bahkan sampai saling membid’ahkan, mengkafirkan, bermubahalah, bahkan kalau perlu saling menumpahkan darah. Tetapi, kita begitu abai dan tak peduli sedikitpun dengan keharaman yang meraja-lela, yang sama sekali tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Saat ada saudara kita memperjuangkan Islam, kita begitu gagah perkasa dan menguliti mereka, bahkan kalau perlu menanyakan keabsahan dalil-dalilnya, sampai hal yang paling rinci dan paling jelimat yang tak akan bisa dijawab kecuali oleh para mujtahid mutlak. Tetapi, kita tak bergeming dengan semua keharaman qoth’i yang ada di depan mata kita. Kita bahkan sama sekali TAK BERTANYA SATU HURUF PUN tentang dilegalkannya perjudian, khamr, prostitusi dan hukum-hukum yang bertentangan dengan Islam, apalagi menanyakan keshohihan dalilnya.
Kita anggap saudara kita sesama Islam, layaknya sebagai musuh bebuyutan, yang jika kita bertarung dengannya dan mati, seakan kita telah dinanti oleh para bidadari bermata jeli. Lalu pada saat yang sama, kita bermesraan dengan orang-orang yang memusuhi Islam dan umatnya, seakan itu adalah ajaran Islam yang paling suci dan paling sakral. Kita merasa seakan orang yang paling bisa toleransi, melebihi para paus dan biksu’. (Inilah nasihat dari guru kita, Syaikh Hasyim Asy’ary. Nasihat ini beliau tulis dalam kitab At-Tibyan fin Nahyi an Muqothi’atil Arham wal Aqoorb wal Ikhwaan, bab Mawa’idz, hal 32-35)

Setelah uraian itu dicek pada kitab “At-Tibyan” karangan KH Hasyim Asy’ari halaman 32 s/d 35 tidak ada kecocokan, sampai Kiai Hasan Hanbali di dalam comentnya berkata : “Saya punya kitabnya, setelah saya cari hal yang ditulis DR Agus Setiawan kok gak ketemu”.

Oleh karena itu, mari kita koreksi per paragrap :
1. Pada paragrap pertama DR Agus Setiawan menulis begini :
“Saat ini, kita umat Islam, begitu bangga dan membusungkan dada jika memusuhi umat Islam, dan begitu harmonis dengan orang-orang kafir dalam kekufurannya serta dengan orang-orang jahat dalam kejahatannya”
Mungkin paragrap ini mentranslate paragrap kitab “At-Tibyan” sbb :
ويا ايها الناس بينكم الكفار قد ملؤوا بقاع البلاد فمن انتصب منكم للبحث معهم والاعتناء بارشادهم ، التيبان ص ٣٣

Padahal arti yang seharusnya begini :
“Dan wahai manusia, di antara kalian ada orang-orang kafir, mereka telah memenuhi kawasan-kawasan negeri, maka siapa yang mau bangkit di antara kalian untuk meneliti mereka, dan berusaha dengan sungguh-sungguh dengan mengarahkan mereka?”
Ada pemelitiran dari penulis terhadap maksud Hadratus Syaikh yang sebenarnya.

2. Pada paragrap berikutnya dia menulis :
“Kita begitu sibuk dan keras dalam urusan perbedaan pendapat di kalangan ulama, bahkan sampai saling membid’ahkan, mengkafirkan, bermubahalah, bahkan kalau perlu saling menumpahkan darah. Tetapi, kita begitu abai dan tak peduli sedikitpun dengan keharaman yang meraja-lela, yang sama sekali tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Saat ada saudara kita memperjuangkan Islam, kita begitu gagah perkasa dan menguliti mereka, bahkan kalau perlu menanyakan keabsahan dalil-dalilnya, sampai hal yang paling rinci dan paling jelimat yang tak akan bisa dijawab kecuali oleh para mujtahid mutlak. Tetapi, kita tak bergeming dengan semua keharaman qoth’i yang ada di depan mata kita. Kita bahkan sama sekali TAK BERTANYA SATU HURUF PUN tentang dilegalkannya perjudian, khamr, prostitusi dan hukum-hukum yang bertentangan dengan Islam, apalagi menanyakan keshohihan dalilnya”
Mungkin paragrap ini mentranslate nasihat Hadratus Syaikh sbb :

انكرتم امورا للعلماء فيها خلاف، ورايتم من العوام ما لا يحصي عدده الا الله تعالى يتركون الصلاة التي جزاء من تركها عند الشافعي ومالك واحمد ضرب العنق بالسيف ولا تنكرون عليهم ، بل ولو راى الواحد منكم كثيرا من جيرانه يتركون الصلاة وهو ساكت عنهم، ثم ما بالكم تنكرون مثل هذه الفروع التي للفقهاء فيها خلاف ولا تنكرون المحرمات المجمع عليها كالزنا والربا وشرب الخمر وغيرها . التبيان ص ٣٣

Padahal arti yang seharusnya :
“Apakah kalian mengingkari beberapa perkara yang di dalamnya ada khilaf bagi ulama, sedangkan kalian melihat dari kaum awam perkara yang tidak bisa dihitung kecuali oleh Allah, mereka meninggalkan sholat, yang balasan bagi yang meninggalkannya menurut Imam Syafii, Imam Malik dan Imam Ahmad adalah dipenggal kepalanya dengan pedang, dan kalian tidak mengingkari mereka?. Bahkan kalau salah satu dari kalian melihat orang banyak dari tetangganya meninggalkansholat, dia diam saja?. Kenapa kalian mengingkari semisal furuiyah ini yang di dalamnya ada khilaf bagi fuqaha? Dan kalian tidak mengingkari larangan-larangan yang diijamakkan seperti zina, riba, minum arak dan lainnya”
Paragrap ini agak nyambung meskipun sedikit sekali.

3. Pada paragrap berikutnya dia menulis :
“Kita anggap saudara kita sesama Islam, layaknya sebagai musuh bebuyutan, yang jika kita bertarung dengannya dan mati, seakan kita telah dinanti oleh para bidadari bermata jeli. Lalu pada saat yang sama, kita bermesraan dengan orang-orang yang memusuhi Islam dan umatnya, seakan itu adalah ajaran Islam yang paling suci dan paling sakral. Kita merasa seakan orang yang paling bisa toleransi, melebihi para paus dan biksu”
Mungkin paragrap ini ingin mentranslate kalimah Hadratus Syaikh sbb :

ايها العلماء اذا رايتم من يعمل عملا على قول من يجوز تقليده من ائمة المذاهب المعتبرة ولو مرجوحا ان لم توافقواهم فلا تعنفوهم وارشدوهم بلطف وان لم يتبعوكم فلا تتخذوهم اعداء . فمثل من فعل ذلك كمن بنى قصرا وخرب مدينة ولا تجعلوا ذلك سبب التفرق والشقاق والتنازع والخصام فانها من الجنايات العامة والجرائم الكبرى التي تهدم بنيان الامم وغلق امامها ابواب كل خير الخ. التبيان ص ٣٤

Padahal arti yang seharusnya :
“Wahai para ulama, apabila kalian melihat orang yang melaksanakan perbuatan yang mengikuti pendapat orang yang boleh ditaqlidi dari golongan imam-imam madzhab yang muktabar (sah), meskipun pendapat itu lemah, kalau kalian tidak setuju dengan mereka, maka jangan bersikap keras kepada mereka, tetapi arahkanlah mereka dengan lembut, dan kalau mereka tidak mengikuti kalian maka jangan jadikan sebagai musuh. Orang yang seperti itu sama dengan orang yang membangun rumah dengan merobohkan negara. Jangan jadikan yang demikian itu sebagai penyebab perpecahan, perselisihan, pertentangan dan permusuhan, karena itu semua adalah kesalahan-kesalahan total dan dosa-dosa besar yang dapat merobohkan persatuan ummat dan menutup seluruh pintu kebaikan di depan ummat”
Paragarap dari At-Tibyan yang ini malah sebenarnya menyodok mereka yang menjadi pemarah, tidak bisa dipakai untuk menyodok warga NU.
Kita doakan kepada Allah agar orang-orang yang ingin memecahbelah NU mendapat hidayah-Nya sehingga dapat menghentikan tipudaya yang destruktif itu. Amiin.

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here