NASHR BIN HAJJAJ DIUSIR KARENA TAMPAN

0
58

tampan

Kebiasaan Amirul Mukminin Umar bin Khotthob RA adalah mengelilingi kota Madinah pada malam hari dan bahkan sampai ke desa- desa untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, Umar RA berkeliling mengontrol kota Madinah, tiba-tiba, dia mendengar seorang wanita melantunkan bait asmara yang berbunyi sebagai berikut :

هَلْ مِنْ سَبِيْلٍ إِلَى خَمْرٍ فَأَشْرَبُهَا
     أَوْ مِنْ سَبِيْلٍ إِلَى نَصْرِ بْنِ حَجَّاجِ

“Adakah cara untuk mendapatkan khamr agar aku meminumnya
Atau adakah cara untuk dekat kepada Nashr bin Hajjaj?”.

Umar RA memahami betul, bahwa saat wanita muslimah sibuk dengan menyebut-nyebut ketampanan laki-laki, berarti hati wanita yang semestinya sibuk dengan dzikir kepada Allah itu sedang terjatuh pada nafsu hewani yang hanya mementingkan fisik dan rupa semata.

Dan bukankah zinanya mata adalah melihat, dan zinanya hati dimulai ketika dikuasai nafsu?. Ketika hal itu berulang, kemudian mendarah daging dan menjadi kebiasaan hingga berupa bait syair yang disenandungkan maka hati wanita menjadi gersang, gersang karena jauh dari sentuhan Ilahi, jauh dari nikmatnya ibadah.

Hati yang membayangkan, hati yang berimajinasi, hati yang sedang kasmaran itu semua adalah awal dari kerusakan ruhani, yang membuat istri berani meminta cerai kepada suami, anak perawan berani meninggalkan kedua orangtuanya.

Dan kerusakan seperti itu akan berpengaruh kepada rusaknya tatanan sosial yang sudah mapan.

Maka di pagi harinya, Umar RA bertanya-tanya tentang nama yang disebut-sebut wanita itu, yaitu Nashr bin Hajjaj. Ternyata dia adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan memiliki rambut yang sangat bagus.

Umar RA lalu menyuruh pemuda itu untuk memotong rambutnya (menggundulinya), namun dia semakin tampan, lalu menyuruhnya untuk memakai serban, namun dia juga semakin tampan.

Akhirnya, Umar RA berkata : ”Demi Dzat Yang menguasai jiwaku, kamu tidak boleh berkumpul denganku di negeri ini”. Artinya : Aku sebagai khalifah harus menegakkan kemaslahatan umum, yakni kedamaian masyarakat, sementara kamu yang tampan membuat banyak istri meminta cerai kepada para suami dan banyak wanita lupa kepada Allah karena tergila-gila padamu, maka kamu harus pindah dari negeri ini demi kemaslahatan.

Kemudian Umar RA mengusir atau mengasingkan Nashr bin Hajjaj ke Bashrah agar ketampanannya tidak menjadi fitnah bagi kaum wanita.

Kisah ini menggambarkan betapa piawainya pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab RA yang selalu mengontrol rakyatnya dan melindungi kemaslahatan mereka.

Kisah ini juga memiliki faedah bahwa diperbolehkan menghukum dengan menggunduli kepala. Kalau kita menilik tindakan Umar RA yang mengasingkan Nashr bin al Hajjaj dari perspektif Fiqih, maka hal tersebut termasuk pada masalah mendahulukan kemaslahatan umum dari kemaslahatan pribadi.

Maka secara umum, menimpakan kerugian atau bahaya atas kemaslahatan pribadi demi kemaslahatan umum itu lebih diutamakan dan sangat dianjurkan. Hal tersebut sesuai dengan kaidah fiqih yang berbunyi :

اذا تعارضت المصلحة العامة والمصلحة الخاصة ولم يمكن الجمع بينهما ترجح العامة على الخاصة

“Apabila kemaslahatan umum bertentangan dengan kemaslahatan khusus dan tidak mungkin menggabungkan keduanya, maka kemaslahatan umum dimenangkan atas kemaslahatan khusus”.

As-Sarkhasi berkata  :
“Jika telah diputuskan untuk mengasingkan seseorang, maka yang demikian itu atas dasar kemaslahatan dan kebaikan bersama bukan atas dasar pemberian dan penegakan sanksi belaka.
Maka Umar-pun mengasingkan pemuda tampan tersebut bukan karena ketampanannya semata yang menyebabkan dia diasingkan, akan tetapi keputusan yang demikian itu diambil demi kebaikan dan kemaslahatan bersama”.

Ibnu Taimiyyah berkata :
“Pengasingan Nasher bin Al Hajjaj dari Madinah dan dari tanah kelahirannya menuju ke Bashrah oleh Umar bin Al Khathab, yaitu tatkala Umar mendengar senandung kegelisahan seorang wanita akan ketampanan Nasher bin Hajjaj, dan mula-mula yang dilakukan adalah perintah untuk menggunduli rambutnya agar ketampanannya menjadi pudar karena ketampanannya inilah yang menggoda dan menjadikan fitnah sebagian wanita.

Ketika Umar melihat setelah digunduli rambutnya dan hal itu tidak mengurangi ketampanannya karena memang dia adalah pemuda yang paling tampan, maka Umar mengasingkannya ke Kota Bashrah, dan pengasingan ini bukan karena dosa yang telah ia perbuat juga bukan karena kekejian yang layak mendapatkan hukuman, akan tetapi karena menimbulkan fitnah di kalangan para wanita.

Lalu diperintahkanlah untuk menghilangkan ketampanannya yang di situlah letak penyebab timbulnya fitnah, dan sesungguhnya pengasingannya dari tanah kelahirannya akan melemahkan cita-cita, angan-angan dan juga badannya, dan dia akan diketahui oleh banyak orang bahwa ia sedang dihukum.

Masalahnya adalah adanya kekhawatiran akan timbulnya kekejian sebelum terjadinya perbuatan mesum, bukan sekedar pemberian sanksi belaka”.
Wallahu a’lam bishawab.

Oleh : Muhammad Danial Royyan

Referensi :
1. Ibn Sa’ad dalam Al-Thabaqat.
2. Izzuddin bin Abadissalam dalam Qawaidul.Ahkam Fi Mashalihil Anam
3. As-Sarkhasi dalam Al-Mabsuth 9/45.
4. Ibn Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 15/313.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here