MWC NU Boja Gelar Talkshow Sinau NU

0
137

Boja, pcnukendal.com – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-95, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Boja melalui Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) nya menggelar talkshow bertajuk Sinau NU di kediaman tokoh NU Boja KH Imam Salim, Minggu (31/1).

Kegiatan ini diadakan untuk memecahkan berbagai masalah yang timbul di masyarakat yang belum terpecahkan. Kegiatan juga dimaksudkan untuk menyikapi kemerosotan moral, kaderisasi NU, dan upaya mengatasi kebingungan masyarakat awam dalam menentukan akidah yang menjadi pedoman hidup.

Acara dihadiri seluruh Banom MWC NU dan kalangan masyarakat kultural NU Boja. Dua narasumber yakni Ketua MWC LDNU H. Kasan As’ari dan tokoh NU Boja KH Imam Salim dihadirkan dalam acara yang mengambil tema Keaswajaan dan Pengkaderan NU.

Narasumber pertama, Ketua LDNU Boja H. Kasan As’ari dalam pemaparannya menjelaskan pentingnya pengkaderan dalam organisasi sebesar NU. Ia menguraikan satu persatu dasar-dasar pengkaderan dalam NU. Menurutnya, tak sembarang orang dapat menjadi pimpinan NU atau Banomnya. Namun terlebih dahulu harus mengikuti berbagai tahap pelatihan pengkaderan.

“Kecuali pada ranting atau anak cabang yang sama sekali tidak ada orang yang sudah mengikuti proses pelatihan pengkaderan, boleh menjadi pimpinan demi keberlangsungan organisasi,” terangnya.

Sementara narasumber ke dua KH Imam Salim, menyampaikan materi ke-Aswaja-an. Ia memaparkan terpecahnya umat Rasululloh SAW menjadi 73 golongan. Menurut pandangannya, dari 73 golongan tersebut hanya 1 golongan yang akan selamat, yakni ahlussunnah wal jama`ah.

“Rasulullah SAW mengatakan, ulama adalah pewaris para Nabi. Ulama di sini menjadi perpanjangan lisan dari Rasulullah SAW, sehingga ulama harus dapat menjadi uswah hasanah bagi umat,” tutur KH Imam Salim.

Acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan pada sesi ini. Diantaranya, Pengamat Gerakan NU Athatsius menilai peran NU sudah sangat bagus namun ia mengutarakan perlunya meningkatkan pemberdayaan peran Fatayat dan Muslimat NU di daerah saat terjadi bencana.

“Saat terjadi bencana, kaum ibu dapat memberikan kontribusinya, misal sebagai tim dapur umum,” ungkapnya.

Pernyataan itu ditanggapi Ketua Fatayat Boja, Nufus. Nufus mengungkapkan kendala yang dihadapi Banom NU yang terdiri dari kaum ibu ini, yakni keharusan mendapat dukungan dan izin suami untuk melakukan segala aktivitas dan kegiatan organisasi.

“Situasi kultur NU di daerah atas dan bawah berbeda. Para ibu juga tak bisa meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil yang memerlukan pendampingan dari ibu juga menjadi kendala ibu-ibu untuk beraktivitas di luar,” terangnya. (Dhiya’/Muf)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here