MURU’AH : MENJAGA HARGA DIRI DAN KEHORMATAN

0
435

Imam Mawardi dalam ادب الدنيا والدين mendefinisikan muru’ah sebagai berikut :

المروءَة مراعاة الأحوال إلى أن تكون على أفضلها، حتَّى لا يظهر منها قبيحٌ عن قصد، ولا يتوجَّه إليها ذمٌّ باستحقاق

“Muru’ah adalah menjaga tingkah laku hingga tetap berada pada keadaan yang paling utama, supaya tidak melahirkan keburukan secara sengaja dan tidak berhak mendapat cacian”.

قال بعض الحكماء : العَقل يأمرك بِالْأنفعِ، والمروءَة تأمرك بِالأجمل

Sebagian hukama berkata : “Akal memerintahmu untuk hal yang lebih berguna, muru’ah memerintahmu untuk hal yang lebih indah”.
Hakikat muru’ah ialah membenci ajakan syahwat dan ajakan emosi, tetapi memenuhi ajakan akal dan hati. Kemanusiaan, kepribadian dan kehormatan terjadi karena mengingkari ajakan syahwat dan ajakan emosi. Sebagian salaf berkata, “Allah menciptakan para malaikat yang mempunyai akal dan tidak mempunyai syahwat, menciptakan hewan yang mempunyai syahwat dan tidak mempunyai akal, dan menciptakan manusia yang di dalam dirinya ada akal dan syahwat. Siapa yang akalnya dapat mengalahkan syahwatnya, maka dia termasuk golongan malaikat, dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia termasuk golongan binatang.”
Muru’ah dalam praktek perilaku adalah menghindari hal-hal yang rendah dan hina, baik terkait dengan perkataan, perbuatan maupun tingkah laku.
Muru’ah lisan berupa perkataan yang manis, baik, lembut dan yang dapat memudahkan untuk meraih hasil.
Muru’ah tingkah laku ialah kelapangan dalam menghadapi orang yang dicintai dan dibenci. Muru’ah harta ialah ketepatan penggunaannya untuk hal-hal yang terpuji, baik dalam pandangan akal, tradisi maupun syariat. Muru’ah kedudukan ialah menggunakan kedudukan itu untuk seseorang yang memerlukannya.

Ada tiga derajat muru’ah, yaitu:

1. Muru’ah saat sendirian.
Yaitu dengan membawa dirinya kepada hal-hal yang membuatnya baik dan bagus, meninggalkan hal hal yang mengotori dan memperburuknya, agar dia menjadi malaikat secara dhahirnya. Barangsiapa menginginkan sesuatu dalam kesendiriannya, maka dia harus menjadi malaikat dalam penampakannya, sehingga dia tidak perlu menyingkap aibnya saat sendirian, tidak berkata keras jika memungkinkan melakukan kebalikannya, tidak mengeluarkan angin yang bersuara jika dia mampu melakukan kebalikan nya, tidak perlu rakus dan makan banyak.
Secara umum dapat dikatakan, seorang hamba tidak boleh melakukan sesuatu yang membuatnya malu di muka umum, kecuali yang tidak dilarang syariat dan akal, tidak melakukan sesuatu yang membuatnya malu saat sendirian, seperti saat berjima’.

2. Muru’ah saat bersama manusia.
Yaitu dengan melaksanakan syarat-syarat adab, rasa malu dan akhlak yang baik bersama mereka, tidak memperlihatkan apa yang dibencinya terhadap orang lain di hadapan mereka, menjadikan orang lain sebagai cermin bagi dirinya. Apa pun yang dibencinya, entah berupa perkataan, perbuatan atau akhlak, harus dihindarinya, dan apa yang disenanginya dan dianggapnya baik harus dilakukan.
Orang yang ada dalam derajat ini bisa mengambil manfaat dari siapa pun yang ada di sekitarnya, yang sempurna maupun yang kurang, yang akhlaknya baik maupun yang buruk, yang tidak memiliki muru’ah maupun yang tinggi muru’ahnya. Banyak orang yang belajar muru’ah dan akhlak yang mulia dari orang-orang yang justru memiliki sifat-sifat kebalikannya, sebagaimana yang diriwayatkan dari seseorang yang terkenal, bahwa dia memiliki seorang budak yang perangainya kasar, keras hatinya dan buruk akhlaknya. Tapi dia justru bersyukur dengan keberadaan budak itu. Ketika hal itu ditanyakan kepadanya, maka dia menjawab, “Aku bisa belajar akhlak yang mulia dari dirinya.”

3. Muru’ah saat bersama Allah.
Yaitu dengan merasa malu karena merasa dilihat-Nya kapan pun dan dalam setiap hembusan napas. Kita juga harus berusaha memperbaiki aib.  Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa kita dari diri kita,  dan kita berusaha menyerahkan barang yang sudah dibeli dan menerima harganya.
Tidak termasuk muru’ah jika kita menyerahkan barang dagangan yang ada aibnya, tapi kita ingin menerima harga secara utuh, atau kita ingin melihat karunia-Nya selagi kita sibuk memperbaiki aib itu. Dialah yang berkuasa atas diri kits dan bukan kita sendiri. Kita perlu merasa malu atas tabiat kita. (MD Royyan).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here