Mewacanakan (Kembali) SMK NU Sukorejo

0
102

Oleh: Fahroji

Upacara pembukaan Rakor Lazisnu Kendal, di gedung MWC NU Sukorejo, Jumat (24/7) lalu telah mempertemukan Rois Syuriyah MWC NU Sukorejo KH Ibadi dengan Sekretaris PC NU Kendal H. Mukh Izzudin dan saya selaku ketua MWC NU Sukorejo.

Disela-sela opening ceremonial itu tentu saja kami bertiga terlibat dalam obrolan seputar NU di Sukorejo. Saya cerita kepada kyai Ibadi bahwa perkenalan saya dengan kang Izzudin sudah cukup lama, tepatnya sejak 1994 dimana waktu itu sama-sama menjabat ketua PAC IPNU. Bahkan tahun itu sempat mengadakan kegiatan segitiga di Curugsewu antara PAC IPNU-IPPNU Kota Kendal, Sukorejo, dan Plantungan yang waktu itu dinahkodai Fahrudin.

Obrolan berlanjut agak serius ketika saya menanyakan perkembangan SMK NU 01 Kendal di bawah kepemimpinan kang Izzudin. Kyai Ibadi nampak menyimak dengan seksama apa yang diceritakan kang Izzudin terkait SMK NU 01 Kendal.

“Mungkin bisa buka semacam kelas jauh di Sukorejo, pak?” tanya kyai Ibadi.

“Ya, segala sesuatuya perlu disiapkan matang yi, insya Allah saya siap berbagi informasi. Kalau perlu koordinasi PC LP Ma’arif Kendal,” jawab kang Izzudin.

Dibalik kesahajaan dan low profil-nya kyai Ibadi sebenarnya saya tahu banyak “kegelisahan” yang dipikirkannya dalam kapasitasnya selaku rois syuriah MWC NU Sukorejo. Salah satunya tentang banyakya anak lulusan MTs NU di Sukorejo yang melanjutkan sekolah di SMK. MWC NU Sukorejo memang belum bisa berbuat banyak karena belum bisa membuatkan wadah.

Kegelisahan Kyai Ibadi sebenarnya pernah muncul di kalangan anak muda Sukorejo pada medio 2005. Dimana pendidikan formal NU yang ada di Sukorejo waktu itu paling tinggi baru MTs NU 13 Arrahmat.

Menanggapi kondisi tersebut, KH Asro’i Thohir dalam sebuah acara pengajian di MI NU 45 Trimulyo pernah mengibaratkan membuat meubel tapi yang memelitur dan finishing orang lain.

Wacana pendirian SLTA NU di Sukorejo akhirnya mengemuka dimotori anak-anak muda NU Sukorejo. Sasarannya adalah SMK NU Sukorejo. Namun dari analisa kondisi real dengan keterbatasan sumber daya yang ada, pilihan realistisnya adalah Madrasah Aliyah sehingga lahirlah MA NU 10 Sukorejo pada tahun 2006 yang pada tahun pertama menumpang di MTs NU 13 Arrahmat. Lalu pada tahun kedua dan berikutnya menumpang di MDA Nurul Iman Kebumen. Dibawah kepemimpinan Ahmad Saefudin selama 13 tahun, MA NU 10 Sukorejo berhasil menempati gedung yang saat ini dijadikan tempat KBM.

Sangat disayangkan, waktu itu MWC NU Sukorejo tidak terlibat secara kelembagaan sehingga “ikatan batin”nya seakan memudar. Justru PAC Muslimat di bawah kepemimpinan Hj. Fatimah yang ikut mendukung dengan pembebasan lahan yang saat ini digunakan menjadi halaman MA NU 10 Sukorejo.

Barangkali takdir memang menghendaki lahir MA NU 10 Sukorejo terlebih dahulu. Kini zaman sudah berubah. Apakah cukup hanya ada MA NU 10 Sukorejo?. Kegelisahan Rois Syuriyah MWC NU Sukorejo barangkali bisa menjadi embrio awal untuk kedua kalinya menyuarakan kebutuhan SMK NU Sukorejo agar MWC NU Sukorejo bisa menjadi owner (penilik) dan memobilisasi warganya. Maka kegelisahan kyai Ibadi yang masih bersifat pribadi itu perlu didesakkan dalam program kerja Konferensi MWC NU Sukorejo yang rencananya akan digelar pertengahan tahun 2021 di Gedung MWC NU Sukorejo. Semoga.

Penulis adalah Ketua MWC NU Sukorejo

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here