Merdeka Berkarya di Tengah Pandemi

0
130
Oleh: Meylina Fidya Fadhillah

Ngelmu iku kalakone kanthi laku.

Kutipan tembang macapat tersebut mengingatkan kita pada sebuah pemaknaan ilmu. Ilmu, merupakan sebuah kata abstrak yang memiliki makna yang sangat luas. Ilmu itu baru bisa disebut ilmu bila dijalankan, bila diaplikasikan. Ilmu itu harus dicari, dipahami, serta diaplikasikan dan harus bisa menguatkan karakter seseorang hingga mampu menjauhkan diri dari sifat angkara.

Maka tolak ukur ilmu sebenarnya adalah karya, karena karya adalah hasil akhir dari ilmu, sehingga tidak melulu hanya  dipahami teori demi teori namun pengaktualisasian dirilah kunci keberhasilan dari ilmu itu sendiri. Selain itu dari karya yang dihasilkan seseoranglah dapat dinilai seberapa dalam ilmu yang dimilikinya. Serta dari karya itulah orang berilmu dapat membuktikan kemampuanya sehingga orang orang mengakui keberadaan dirinya tidak hanya sekedar omong kosong belaka tanpa bukti yang nyata.

Bagaimana kita dapat berkarya? Dengan belajar dan berlatih, tidak melulu harus melalui proses pendidikan yang panjang. Karena tujuanya adalah hasil belajar, yaitu lahirnya sebuah karya. Kita dapat belajar dan berlatih pada bidang-bidang tertentu untuk menghasilkan karya dibidang tersebut. Karena ketika sebuah kata belajar terungkap, banyak orang mempertanyakan pemaknaannya. Namun disayangkan, banyak pemuda generasi Z kesulitan menemukan pemaknaannya hingga akhirnya, makna belajar ini menjadi sempit. Pemuda generasi digital natives ini seringkali memaknai proses belajar hanya berlangsung di ranah formal, seperti sekolah. Salahkah mereka? Oh tentu saja tidak. Banyaknya asumsi dan pandangan umum dari sekeliling mereka membuat kerangka berpikir mereka menjadi sama seperti apa yang ada di sekeliling mereka.

Lalu bagaimana kita bisa dikatakan berkarya? Orang awam cenderung mengartikan karya kedalam hal-hal yang berkaitan dengan seni seperti lukisan, tarian, atau musik. Padahal jangakauan daripada karya itu luas sekali. Menurut KBBI “ karya/kar·ya/ n 1 pekerjaan; 2 hasil perbuatan; buatan; ciptaan” jadi dapat dikatakan hal-hal yang kita lakukan setiap harinya adalah karya. Contoh hasil masakan kita, gaya busana kita dengan keterampilan memadupadankan busana, dan hal-hal kecil lainya sudah  termasuk karya.

Pemerintah, khususnya di Indonesia menetapkan kebijakan kepada seluruh masyarakat untuk social distancing. Kegiatan perkantoran, sekolah, kampus, hingga tempat pariwisata ditutup sementara guna memaksimalkan program social distancing ini. Dampak dari adanya program “merumahkan” ini kurang lebih adalah ruang gerak menjadi terbatas dan waktu luang menjadi lebih banyak. Hal itu disebabkan karena mayoritas aktivitas masyarakat berada di dalam rumah. Masyarakat mafhum dan mengurung diri di rumah karena takut jika virus akan lebih mudah menyebar jika berada di luar rumah.

Menurut Kompas.com, hingga saat ini kasus Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah hingga Sabtu (20/6/2020). Berdasarkan data pemerintah yang masuk hingga pukul 12.00 WIB, ada 1226 kasus  baru Covid-19 selama 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan total ada 45.029 kasus Covid-19 di Indonesia terhitung sejak kasus pertama di umumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020.

Pada awalnya semua merasa senang karena kegiatan dirumah membuat lebih banyak waktu dapat dihabiskan bersama keluarga, lebih banyak waktu untuk beristirahat dan bersantai namun semakin lama nyatanya hal tersebut jika terus dilakukan menimbulkan efek kejenuhan juga. Sama halnya ketika kita menjalankan rutinitas bekerja, sekolah atau kuliah seperti pada masa normalnya, kegiatan yang dilakukan setiap harinya terasa menjenuhkan, hampa dan membosankan ternyata dirumah aja lama kelamaan menimbulkan rasa yang sama.

Dari segala rasa bosan dan jenuh itulah kita perlu melakukan, mecoba, dan menghasilkan hal-hal baru yang belum pernah kita lakukan agar kita tidak merasa stress dan tetap produktif meskipun dirumah aja. Disinilah merdeka berkarya menjadi isu strategis dan hangat diperbincangkan.

Bagaimana konsep merdeka berkarya? Konsep merdeka berkarya adalah suatu konsep dimana kita bebas untuk belajar dan mengembangkan diri kita di tengah tengah situasi keterbatasan yang diberikan negara kepada kita saat ini. Bagaimana caranya? Langkah pertama yaitu lakukanlah segala sesuatu atas dasar pikiran positif, langkah kedua tetapkan target sehingga kamu punya tolak ukur keberhasilan, langkah ketiga cobalah cari alternatif atau inovasi baru. Jadi setiap orang bebas menentukan hal-hal apa yang disukainya dan apa yang ingin dilakukan dengan caranya masing-masing selama itu positif.

Maka dari itu peran keluarga menjadi sangat penting. Keluarga hendaknya selalu mendukung dan mendampingi aktifitas-aktifitas yang ingin dilakukan anggota keluarganya. Upayakan  lakukanlah hal-hal bersama. Contoh ketika anak ingin belajar membuat kue, ayah yang pekerja kantoran ingin belajar berkebun, ibu ingin belajar menjahit. Jika masing masing anggota keluarga melakukan hal yang diinginkannya sendiri pasti akan cepat bosan dan kurang asik maka buatlah kerjasama. Misal hari Senin sekeluarga belajar memasak bersama, hari berikutnya belajar bercocok tanam bersama, kemudian belajar menjahit bersama. Selain lebih asik hal ini juga akan semakin mendekatkan antar anggota keluarga juga menambah pengetahuan seluruh anggota keluarga karena terus belajar bersama.

Dari situ ayah dan ibu secara tidak langsung mendidik anak-anak mereka agar belajar beradaptasi dengan segala situasi yang mereka hadapi. Karena hakikatnya hidup itu dinamis, terus berjalan dan akan selalu ada hal-hal baru yang akan ditemui. Sehingga anak anak harus belajar menerima dan menyesuaikan diri secara cepat dan tepat agar dapat bertahan hidup. Mulailah dari hal hal kecil di lingkungan terkecilmu yaitu keluargamu.

Diambil dari beberapa sumber.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here