Menjauhi Spekulasi Pengkafiran

0
19
Oleh: Muhammad Umar Said

التحذير من المجازفة بالتكفير

قال السيد محمد بن علوى المالكي الحسنى المكي

يخطئ كثير من الناس – أصلحهم الله – في فهم حقيقة الأسباب التي تخرج صاحبها عن دائرة الإسلام وتوجب عليه الحكم بالكفر، فتراهم يسارعون إلى الحكم على المسلم بالكفر لمجرد المخالفة، حتى لم يبق من المسلمين على وجه الأرض ألا القليل، ونحن نلتمس لهؤلاء العذر تحسينا للظن، ونقول نيتهم حسنة، من دافع واجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، و لكن فاتهم أن واجب الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، لا بد في أداءه من الحكمة والموعظة الحسنة، وإذا اقتضي الأمر للمجادلة، يجب أن تكون بالتي هي أحسن.. وذلك أدعي إلى القبول وأقرب للحصول على المأمول، ومخالفته خطاء وحماقة. (مفاهيم يجب أن تصحح، صحيفة ٨١)

“Sebagian besar manusia (yakni kaum Wahabi) salah, semoga Allah memperbaikinya dalam memahami inti dari beberapa faktor yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam dan di-judge dengan sebutan kafir, dan engkau pun melihat mereka bercepat-cepat menghukumi kafir kepada seorang muslim hanya karena sebuah perbedaan (pandangan).

Dari penyebutan kafir tersebut, sehingga (seolah-olah) tidak ada yang tersisa kaum muslimin di muka bumi ini kecuali sedikit. Dan kami mencari tahu mereka (para pendakwa) itu suatu alasan agar mereka tetap ber-husnudzan, “semoga niat mereka baik”.

Barangsiapa yang mendorong kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, akan tetapi mereka tidak melaksanakan dari apa yang telah ia lakukan, maka wajib bagi ia melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar itu dengan bijaksana dan memberi nasehat yang baik, dan apabila ia dituntut untuk berdiskusi (dialog), maka ia wajib menggunakan metode/cara yang lebih baik. (QS. Al Nahl: 125). Dan itulah suatu cara yang lebih bisa diterima dan lebih dekat pada keberhasilan yang diharapkan, dan sikap ketidakcocokan (melawan) merupakan kesalahan dan kebodohan yang amat.”

Penjelasan :
Dalam berdakwah seyogianya setiap pendakwah menggunakan cara-cara yang elegan, bijaksana dan nasehat-nasehat yang baik. Dan hendaklah mengindari perkataan kasar, kekerasan apalagi mengkafirkan orang lain sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Wahabi terhadap pihak lain yang tidak sepaham atau tidak se-ideologi.

Kaum Wahabi sebagaimana kita tahu, mereka tidak segan-segan dan cepat-cepat mengkafirkan golongan lain yang tidak sepaham dengan mereka, lebih-lebih pengkafirannya didasarkan pada kebencian yang telah tertanam sejak lama. Mereka sering menuduh golongan Ahlussunnah wal jamaah (an-Nahdliyyah) sebagai golongan sesat, ahli bid’ah dan khurafat yang telah dianggap keluar (murtad) dari Islam atau disebut “orang kafir” sebagai golongan yang masuk neraka.

Mereka telah membuat propaganda, fitnah dan berburuk sangka yang berlebihan. Mereka beragama secara berlebihan (ghuluw), mendakwakan diri mereka sebagai golongan yang paling benar, menganggap golongan lain kafir tanpa dilandasi hujjah yang kuat. Padahal yang dilakukan oleh golongan Ahlussunnah waljamaah (an Nahdliyyah) sama sekali tidak bertentangan dengan akidah, dan amaliyah yang mereka lakukan memiliki niat baik, sebagai contoh: sholawatan, wiridan, salaman sehabis shalat fardlu berjamaah, tahlilan, manaqiban, selametan, dan lain-lain. Semua itu mengandung nilai kebaikan yang terkandung di dalam budaya masyarakat kita sebagai pengejawantahan nilai-nilai Islam Nusantara.

Di dalam Islam Nusantara terdapat nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, saling ta’aruf, saling memberi dan menerima, kerukunan, rasa aman, kedamaian, ketenangan dan ketentraman, kesemuanya itu merupakan manifestasi dari nilai-nilai ajaran agama Islam. Inilah wujud Islam rahmatan lil alamin, yang memiliki karakter : tawaasuth (moderat), tawazun (seimbang), toleran (tasamuh) dan ta’adul (lurus) berada di tengah-tengah di antara golongan ekstrim kanan dan ekstrim kiri.


Sehubungan hal tersebut di atas, metode atau cara yang harus dilakukan para pendakwah dalam berdakwah yaitu dengan cara lemah lembut, menggunakan pendekatan kasih sayang (hikmah) dan nasehat-nasehat yang baik, dan jika terdapat perbedaan pendapat dan pandangan, hendaklah ditempuh dengan cara mujadalah (tukar pendapat) dan diskusi agar tujuan dakwah akan tercapai dan bukannya mengedepankan perbuatan melawan dan konfrontasi. Sebab perbuatan melawan (mukholafah) adalah kesalahan dan kebodohan yang amat. Allahu a’lam bis shawab.

Direkomendasi oleh: KH Mohammad Danial Royyan 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here