MENGUATKAN PERAN NU DI SUKOREJO

0
32

oji

Opini : Oleh Fahroji

Jika tidak ada aral merintang dan semoga Allah SWT meridloi MWC NU Sukorejo beserta PAC Fatayat NU dan PAC IPNU- IPPNU akan menggelar ”’Konferensi Bersama“ di MTs NU 13 Ar Rahmat Sukorejo pada hari Ahad, 15 Mei 2016 (pcnukendal.id 16/4/2016). Konferensi bersama ini tentu akan menjadi forum yang sangat  penting bagi NU di Sukorejo secara keseluruhan karena melibatkan MWC NU sebagai induk organisasi ditingkat kecamatan, sekaligus tiga badan otonom, minus GP Ansor dan Muslimat NU.

Kenferensi  merupakan forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang mempunyai tugas dan wewenang mengevaluasi perjalanan organisasi, menyusun program kerja mendatang serta memilih pemimpin baru. Diharapkan Konferensi bersama  dapat menjadi wahana untuk interopeksi diri bagaimana peran  Nahdlatul Ulama  dalam pergaulan dan pergulatan masyarakat di kecamatan Sukorejo.

Kecamatan Sukorejo sebagai kota kecil dengan pasar terpanjang se kabupaten Kendal saat ini menjadi pusat ekonomi bagi tiga kecamatan di sekitarnya seperti Pageruyung, Plantungan dan Patean. Kondisi  demikian menjadikan  kecamatan Sukorejo sebagai wilayah yang sangat strategis dari berbagai aspek.

Letak strategis inilah yang menjadikan Sukorejo memiliki arti penting bagi banyak pihak. Tidak hanya sekarang. Sejak jaman dulu, bahkan Belanda menganggap Sukorejo memiliki nilai sangat penting. Begitu pentingnya arti Sukorejo bagi Belanda sehingga dengan berbagai cara Belanda berusaha menguasai Sukorejo. Belanda pernah berusaha masuk ke Sukorejo lewat Bawang maupun Weleri, namun semuanya gagal. Belanda baru bisa menduduki Sukorejo lewat Sojomerto Gemuh yang kemudian masuk melalui Sukomangli. Dari Sukomangli Belanda kemudian menduduki kantor eks kawedan Selokaton.

Sejarahpun pernah mencatat pada  tanggal 5 September 1947 hari Jum’at Kliwon Sukorejo pernah menjadi pusat pemerintahan kabupaten Kendal pada masa pelarian. Kantor eks kawedanan Sukorejo menjadi saksi bisu sejarah terkait hal itu. (https://id.wikipedia.org/wiki/Sukorejo,_Kendal)

Letak stategis inilah yang mendorong berbagai pihak maupun kelompok berusaha ambil peran dalam percaturan dan pergulatan masyarakat Sukorejo. Jadilah kemudian Sukorejo sebagai kota sejuk yang heterogen, multi etnis, multi kultur dan multi agama. Dulu di Sukorejo dijumpai istilah “Pecinan” yaitu sebelah Timur bunderan Sukorejo sampai dengan POM bensin depan gereja Katolik. Ini menunjukan bahwa Sukorejo juga di huni etnis Tionghua yang jumlahnya cukup lumayan.

Sampai dengan hari ini daya tarik Sukorejo tidak pernah luntur. Banyak pihak merasa perlu untuk masuk Sukorejo termasuk berbagai jenis aliran keagamaan, aliran transnasional, Islam radikal, bahkan terorispun ditengarai juga pernah bercokol di Sukorejo. Kasus sweping Front Pembela Islam (FPI) disiang bolong pada bulan Romadhon (18/7/2013) yang memakan korban satu nyawa tewas barang kali menjadi satu contoh bagaimana kondisi di Sukorejo.

Kasus khutbah provokatif oleh anggota Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) yang berakibat bentrok dengan warga dusun Banom desa Purwosari (Jum’at, 23/11/2012) setidaknya menggambarkan bahwa di lereng gurung Prahu sekalipun  juga ada kelompok-kelompok Islam garis keras yang bisa saja melemahkan peran  Nahdlatul Ulama  di Sukorejo.

Dua contoh diatas tidak menutup kemungkinan dapat menjadi ancaman bagi eksistensi Nahdlatul Ulama di kecamatan Sukorejo atau paling tidak bisa melemahkan peran Nahdlatul Ulama dalam  kancah kehidupan masyarakat Sukorejo. Agar peran NU di Sukorejo semakin kuat ada baiknya menjelang Konferensi bersama MWC NU dan Banom NU Sukorejo duduk bersama memetakan potensi, kelemahan, ancaman serta peluang yang bisa diambil oleh NU di Sukorejo. Hasil  analisa itu kemudian di breakdown kedalam rancangan program kerja MWC dan Banom meski dengan redaksi yang berbeda tapi memiliki arah yang sama dan sinergi.

Arahan wakil Rais Syuriyah MWC NU, KH. Ahmad Masjhadi, saat pembentukan panitia bersama agar MWC NU dan Banom NU yang mau konferensi bisa memasukan program pembangunan gedung MWC adalah contoh bentuk sinergitas program antara MWC NU dengan Banom NU.

Ihtiar lain dalam meningkatkan peran NU di Sukorejo diantaranya dengan mengoptimalkan peran kader. PAC Muslimat NU misalnya, dengan ketuanya Hj. Niken Larasati, SE, yang  kebetulan menjadi anggota DPRD Kendal fraksi PKB tentu merupakan potensi tersendiri. Kapasitasnya sebagai ketua PAC Muslimat NU Sukorejo dan anggota DPRD serta usia yang relatif lebih muda dari anggotanya harus bisa disinergikan untuk menguatkan peran NU melalui Muslimat.

Semangat anak muda, Rudi Susanto, yang saat ini baru saja menjabat ketua PAC GP Ansor Sukorejo juga perlu terus dipompa agar Ansor Sukorejo bisa stabil tidak timbul tenggelam dari periode satu ke periode berikutnya.

Dalam konferensi bersama yang akan datang kita juga berharap akan lahir pemimpin MWC NU, Fatayat NU dan IPNU-IPPNU Sukorejo yang dapat menguatkan peran Nahdlatul Ulama dalam pergumulan dan pergulatan masyarakat kecamatan Sukorejo yang dinamis dan heterogen. Selamat Berkonferensi. Majulah NU Sukorejo.

Penulis adalah mantan ketua PAC IPNU Sukorejo 1993-1995

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here